• Latest

Semakin Berisi, Semakin Merunduk

April 7, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Semakin Berisi, Semakin Merunduk

Redaksiby Redaksi
April 7, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: Literasi
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Drs.Mochamad Taufik. M.Pd.

Dalam budaya Nusantara, kita mengenal sebuah peribahasa yang sarat makna: “Ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk.” Ungkapan ini tidak hanya sekadar kalimat puitis, melainkan mengandung pelajaran moral yang mendalam: semakin tinggi ilmu dan pengalaman seseorang, maka seharusnya semakin rendah hati pula sikapnya.

Sayangnya, di tengah laju modernitas yang serba cepat dan kompetitif, semangat ini mulai terkikis. Tak jarang, seseorang yang telah mencapai gelar akademik tinggi atau posisi sosial tertentu justru menjadikan ilmunya sebagai alat kesombongan. Padahal, Al-Qur’an secara tegas melarang sikap seperti ini.

Dalam QS. Al-Isra’ ayat 37, Allah Swt. mengingatkan:
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”

Ayat ini menyadarkan bahwa kesombongan hanyalah ilusi. Manusia tidak akan pernah mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung. Maka, rendah hati adalah pilihan yang lebih bijak bagi orang beriman dan berilmu.

Dalam ranah keilmuan, sikap rendah hati justru menjadi kunci pengembangan diri. Psikolog Margarani dan Budiyani (2021) dalam penelitian mereka menunjukkan bahwa kerendahan hati berperan penting dalam membentuk kemampuan memaafkan, empati, dan hubungan sosial yang sehat. Hal ini relevan dalam konteks pendidikan, di mana interaksi antarpelajar dan pendidik akan lebih bermakna bila dilandasi semangat saling menghargai.

Sementara itu, Megawati (2022) menyoroti pentingnya intellectual humility atau kerendahan hati intelektual sebagai benteng dari bias kognitif di era informasi. Ketika seseorang merasa paling benar dan menutup diri dari sudut pandang lain, maka ia rentan tersesat dalam sempitnya pemahaman.

Begitu pula dalam dunia pendidikan tinggi. Penelitian terbaru oleh Zulfa dan Santoso (2023) menegaskan bahwa mahasiswa yang memiliki sikap rendah hati cenderung lebih kolaboratif, terbuka pada kritik, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Mereka tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga matang secara emosional.

Fenomena kesombongan intelektual sejatinya menghambat pertumbuhan. Seseorang yang merasa “sudah tahu segalanya” sejatinya sedang menutup pintu pembelajaran. Sedangkan mereka yang rendah hati akan terus belajar, karena menyadari bahwa ilmu itu tak pernah usai.

Baca Juga

5a460fc4-b5a8-48d2-9efe-fdf4b6b456c5

Tawuran Pelajar,Potret Buram Dunia Pendidikan

Maret 28, 2026
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Maret 27, 2026
Evening street scene with people socializing

Aceh Mengaji Masihkah Menjadi Tradisi?

Maret 25, 2026

Dunia kerja pun menghargai karakter seperti ini. Perusahaan-perusahaan terkemuka kini lebih memprioritaskan emotional intelligence, bukan hanya IQ. Kolaborasi, kepemimpinan yang empatik, dan kemampuan mendengar adalah nilai-nilai yang lahir dari kerendahan hati.

Pada akhirnya, ilmu bukanlah milik pribadi. Ia adalah titipan dari Tuhan untuk membawa manfaat. Maka, semakin tinggi ilmu, seharusnya semakin tinggi pula rasa syukur, semakin besar semangat berbagi, dan semakin dalam kerendahan hati.

Karena sejatinya, yang benar-benar berisi… justru tidak pernah merasa lebih tinggi dari yang lain.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Realitas Utang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com