POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Relawan Lain

Dahlan IskanOleh Dahlan Iskan
March 28, 2025
Relawan Tahalele
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Dahlan Iskan

Jumat 28-03-2025

—

Saat Anda menerima THR hari ini saya dapat kiriman copy artikel saya sendiri di Disway. Yang mengirim: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Mungkin beliau mengira saya belum membaca artikel yang saya tulis.

Atau itu sebagai apresiasi pada Disway yang telah menampilkan bakti para relawan ahli jantung untuk daerah perbatasan: di Kupang, NTT dan di Tarakan, Kaltara.

Menkes-lah yang mencari relawan ahli itu. Kini sudah enam orang yang tergabung.

Mereka adalah dr Maizul Anwar (lihat Disway kemarin: Relawan Jantung), dr Prasetyo Eddi (54), RS Sentra Medika, Cibinong; dr Putu Yasa (65) dari RSUP Prof Dr IGNG Ngoerah; dr Yan Sembiring (50), RSUD dr Soetomo; dr Salomo Purba (54), ES Jantung Harapan Kita; dan tentu Prof Dr Paul Tahalele yang menjadi ketuanya.

Begitu relawan itu sukses melakukan operasi bedah jantung perdana di RS Ben Mboi Kupang dan RSUD dr Yusuf SK di Tarakan, Menkes merasa sangat terharu.

“Cariin dong Paul Paul lain untuk stroke, kanker, dan ginjal,” tulis menkes. “Kita bangun layanan kesehatan yang merata di seluruh pelosok Nusantara,” tambahnya.

Rupanya rumah sakit baru milik pemerintah pusat di daerah-daerah itu masih kekurangan tenaga ahli. Padahal RSUV sudah dirancang punya keunggulan di bidang jantung, stroke, dan kanker.

Anda sudah tahu: dokter ahli sebenarnya sudah lumayan banyak. Tapi masih menumpuk di Jakarta (65 persen). Rupanya di lingkungan dokter pun berlaku hukum ”ahli follow the money”.

📚 Artikel Terkait

Pembagian Raport SDIT Muhammadiyah Manggeng di Alam Terbuka

KUFLET: Pentaskan Teatrikal Puisi dalam Event Desa Wisata Fair 2024

Ramadan Untuk Leuser

Demokrasi sebagai Alat Menjinakkan Negara Lain (Analisis dalam Perspektif Global)

Ada saatnya: dokter spesialis wajib ke daerah. Di daerah ternyata tidak disiapkan peralatannya. Akhirnya para spesialis itu jadi dokter umum. Mubazir.

Ada saatnya: dokter spesialis ternama jadi penentu. Mereka bersedia ke suatu daerah asal permintaan mereka disetujui. Permintaan utama mereka: sediakan alat terbaru. Tentu juga minta gaji yang cukup.

Saya bertemu beberapa spesialis ternama seperti itu. Misalnya dokter ahli ginjal dr Boyke. Ia mau ke Samarinda asal disediakan alat yang, waktu itu, kota sebesar Surabaya pun belum punya. Sampai istri saya operasi ginjal di Samarinda –sekalian pulang kampung. Ahli seperti Boyke merasa lebih bisa menerapkan keahliannya dengan alat itu. Sambil menularkannya ke sejawat dokter di daerah.

Ahli bedah ortopedi terkenal dr Dwikora juga sama: ia ditawari gabung ke suatu rumah sakit. Dwikora mau dengan syarat: dibangunkan fasilitas operasi yang modern, peralatan yang canggih, dan ruang pemulihan yang terlengkap.

Investor follow ahli.

Ada saatnya: pemerintah melangkah duluan. Belakangan ini. Mau membangun rumah sakit megah, membelikan peralatan modern tapi kesulitan menyediakan ahlinya.

Bahkan mau membelikan alat-alat modern untuk RSUD. Seperti membeli cathlab sampai 146 buah untuk RSUD. Yang di Tarakan itu, mesin dan peralatan bedah jantungnya lengkap.

“Mesin HLM-nya paling modern,” ujar Prof Dr Paul Tahalele. “Di luar dugaan kami,” tambahnya.

Waktu yang berbeda melahirkan situasi yang tidak sama.

Lihatlah ketika pemerintah melangkah di depan dengan pembangunan empat rumah sakit vertikal. Teorinya mudah: rumah-rumah sakit besar yang sudah mapan bisa ditunjuk sebagai pengampu. Dibagi. Siapa mengampu daerah mana. Yang besar menuntun yang kecil. Yang sudah bisa lari menggadeng yang baru belajar.

Di swasta cara pengampuan seperti ini bisa jalan. Grup-grup perusahaan besar dengan mudah menjalankan perusahaan baru.

Di pemerintah tidak demikian. Akan banyak pertanyaan soal legalitas. Soal peraturan. Soal hierarki. Soal tunjangan. Soal komisi. Belum lagi SDM di rumah sakit besar sudah sibuk dengan urusan dirinya sendiri.

Akhirnya lahirlah ide mencari relawan pengampu. Relawan ahli yang punya kemampuan menjadi mentor. Ini relawan murni. Bukan relawan yang dibungkus istilah tim sukses.

Ajaib: di tengah banyak orang berpikir proyek dan “wani piro” ternyata masih ada yang ingat pengabdian.(Dahlan Iskan)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Ketika Kuputari Ka’bah

Ketika Kuputari Ka’bah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00