• Latest
Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Maret 28, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Memaknai Fitrah sebagai Potensi

Redaksiby Redaksi
Maret 28, 2025
Reading Time: 4 mins read
Memaknai Fitrah sebagai Potensi
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hamdan eSA

Di sebuah desa kecil, hidup seorang kakek yang gemar berkebun. Suatu hari, ia memberikan dua bibit pohon kepada dua cucunya, Amir dan Budi. “Ini benih yang sama”, katanya, “tetapi bagaimana ia tumbuh, tergantung bagaimana kalian merawatnya”.

Amir menanam benihnya di tanah subur, menyiraminya setiap hari, dan melindunginya dari hama. Sementara itu, Budi asal-asalan; ia meletakkan benihnya di tanah kering dan jarang menyiraminya.

Bulan demi bulan berlalu. Pohon Amir tumbuh rindang, daunnya hijau, dan berbuah lebat. Sebaliknya, benih Budi hanya tumbuh kecil dan layu, nyaris mati. Melihat hal ini, Budi mengeluh, “Kenapa pohonku tidak seperti milik Amir”?

Kakek tersenyum, lalu berkata, “Nak, benih itu seperti fitrah dalam diri manusia. Semua orang dilahirkan dengan potensi yang sama, tetapi hanya mereka yang merawat dan mengembangkannya yang akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bermanfaat”.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Fitrah adalah konsep fundamental dalam memahami hakikat manusia. Secara etimologis, kata fitrah berasal dari akar kata faṭara, yang berarti “membelah”, “menciptakan”, atau “membawa sesuatu kepada bentuk awalnya”. Kata ini memiliki hubungan erat dengan Al-Fāṭir, salah satu nama Allah yang berarti “Sang Pencipta”.

Selain itu, kata iftar dalam bahasa Arab, yang berarti berbuka puasa, juga berasal dari akar yang sama, menunjukkan makna “kembali ke keadaan asal”. Dan dengan begitu, kembali ke fitrah juga bisa berarti “kembali ke bulan biasa yang tidak memiliki kemuliaan seperti Ramadhan dan tidak diwajibkan berpuasa”.

Dengan demikian, secara etimologi, fitrah menggambarkan kondisi alami manusia sejak penciptaannya, keadaan murni yang belum terkontaminasi oleh pengaruh eksternal. Kondisi di mana manusia belum memiliki pahala apalagi dosa.

Dalam berbagai tafsir klasik, fitrah sering dikaitkan dengan kodrat alami manusia yang cenderung kepada kebenaran. Hadis Rasulullah menyebutkan; “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa manusia memiliki kondisi bawaan yang cenderung kepada kebenaran, tetapi perkembangan selanjutnya sangat bergantung pada lingkungan dan pendidikan. Makna fitrah dalam hadis ini juga mengandung dimensi potensi.

Dengan begitu, fitrah bukan hanya keadaan statis, melainkan daya laten yang dapat berkembang atau berubah sesuai dengan pengaruh eksternal. Manusia memiliki kecenderungan alami yang harus digali dan dikembangkan agar mencapai kesempurnaan dirinya.

Secara semantik, fitrah dalam bahasa Arab merujuk pada beberapa makna utama: kesucian bawaan (innate purity), potensi dasar manusia (natural potential), dan kecenderungan menuju kebaikan (predisposition toward good).

Konsep fitrah sebagai potensi dapat dilihat dalam berbagai perspektif. Selain perspektif agama di atas, juga dapat dilihat dari perspektif filsafat dan ilmu pengetahuan.

Dalam psikologi humanistik, teori actualizing tendency yang dikemukakan oleh Carl Rogers dan self-actualization oleh Abraham Maslow menekankan bahwa manusia memiliki dorongan alami untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya. Dalam psikologi humanistik, realisasi potensi penuh seseorang dapat mencakup: ekspresi kreatif, pencarian pencerahan spiritual, pencarian pengetahuan, serta keinginan untuk berkontribusi pada masyarakat.

Fitrah dalam konteks ini dapat dipahami sebagai kekuatan internal yang mendorong individu untuk tumbuh, beradaptasi, dan mencapai kesempurnaan dirinya. Namun, perkembangan ini sangat bergantung pada lingkungan yang mendukung, seperti kasih sayang, pendidikan, dan kebebasan berekspresi.

Dalam perspektif pendidikan, Ibn Khaldun menyatakan bahwa manusia memiliki potensi intelektual (aql) yang berkembang melalui proses pembelajaran. Sementara itu, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun kodrat atau fitrah manusia agar dapat berkembang secara optimal. Hal ini menguatkan gagasan bahwa fitrah bukan sekadar keadaan alami, tetapi sebuah potensi yang menuntut pengembangan.

Fitrah bukan sekadar keadaan bawaan, melainkan sebuah potensi yang harus diaktualisasikan. Seperti benih yang memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pohon besar, manusia lahir dengan kecenderungan alami menuju kebaikan dan kebenaran, tetapi membutuhkan lingkungan yang tepat agar potensinya berkembang secara optimal. Pendidikan, pengalaman, dan nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan sosial berperan penting dalam membentuk dan mengarahkan fitrah manusia.

Aktualisasi fitrah dalam Islam, dapat dicapai melalui pembelajaran, amal saleh, dan pengalaman spiritual yang mendalam. Manusia memiliki kebebasan untuk mengembangkan fitrahnya menuju kebaikan. Atau sebaliknya, membiarkannya terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Oleh karena itu, pendidikan agama dan moral menjadi aspek penting dalam membimbing manusia agar tetap berada dalam jalur fitrahnya.

Dalam konteks sosial, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat berpengaruh dalam membentuk karakter seseorang. Jika lingkungan mendukung, maka fitrah manusia akan berkembang ke arah yang positif. Sebaliknya, jika lingkungan negatif, fitrah dapat terdistorsi.

ADVERTISEMENT

Dengan demikian, aktualisasi fitrah bukanlah proses yang terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan usaha sadar dan lingkungan yang kondusif agar manusia dapat mencapai kesempurnaan dirinya.

Melalui pendidikan, pengalaman, dan lingkungan yang tepat, manusia dapat mengaktualisasikan fitrahnya menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, fitrah menuntut usaha dan bimbingan agar tetap berkembang sesuai dengan nilai kebenaran dan kebaikan.

Fitrah membutuhkan ikhtiar yang mendukungnya agar berkembang dari kecenderungan bawaan menuju kesadaran moral, intelektual, dan spiritual yang sempurna. Sehingga manusia dapat mencapai titik puncak yang disebut insan al-kamil (manusia paripurna).

Wallahu a’lam.

Madatte Polman, 28 Maret 2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pulang untuk Lebaran

Pulang untuk Lebaran

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com