• Latest
Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T - 6887c168 9bfc 4106 b758 1ae7520b1711 | # Koruptor | Potret Online

Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T

Maret 5, 2025
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T - 1001348646_11zon | # Koruptor | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T - 1001353319_11zon | # Koruptor | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 5, 2025
in # Koruptor, #Kriminal, #Moneter,, #Profil Koruptor
Reading Time: 3 mins read
0
Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T - 6887c168 9bfc 4106 b758 1ae7520b1711 | # Koruptor | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Setelah kita berkenalan dengan Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Kerry Chalid, koruptor elite di tubuh Pertamina,
yok kenalan lagi salah satu sang jenius finansial yang ikut menggarong uang rakyat. Kali ini bukan di Pertamina, melainkan di Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Lembaga yang penuh rayuan cuan.

Dialah Dwi Wahyudi. Nama yang dulu terdengar gagah di dunia keuangan. Dia Direktur Pelaksana I LPEI. Lulusan Universitas Airlangga. Gelar MBA dari Oklahoma City University. Seseorang yang, di atas kertas, adalah jenius finansial. Orang yang seharusnya menjaga aliran dana negara, memastikan pembiayaan ekspor berjalan mulus, mengantarkan Indonesia ke masa depan ekonomi yang gemilang.

Baca Juga
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Sayangnya, alih-alih menjadi pahlawan ekspor, Dwi Wahyudi memilih peran antagonis dalam drama keuangan negara.

Sebanyak Rp 988,5 miliar, hampir satu triliun rupiah, lenyap akibat kebijakan kredit yang absurd. Duit rakyat, duit pajak, duit yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, jembatan, atau setidaknya menambal jalanan bolong di depan rumah. Uang itu malah diberikan kepada PT Petro Energy, sebuah perusahaan yang, kalau diibaratkan manusia, kondisinya lebih parah dari pasien ICU. Rasio keuangan mereka lebih mirip peringatan merah daripada laporan bisnis yang sehat. Dengan current ratio di bawah 1, tepatnya 0,86, sudah jelas perusahaan ini tidak layak mendapatkan pinjaman sepeser pun.

Baca Juga
  • Mengenal Menteri Tenaga Kerja yang Mengakui Tidak Terlibat Korupsi Noel
  • Ibadah Haji, Antrean Panjang, dan Negara yang Belum Sepenuhnya Hadir

Tapi, entah bagaimana, mereka tetap mendapat kredit dalam tiga termin. Tanpa inspeksi jaminan, tanpa evaluasi mendalam, tanpa ragu. Seakan-akan ini bukan duit negara. Seakan-akan ini warisan keluarga. Seakan-akan mereka adalah penguasa absolut yang bisa membagi-bagikan triliunan rupiah seperti uang jajan.

Seperti yang sudah bisa ditebak oleh siapa saja yang masih waras, PT Petro Energy gagal membayar. Utang menumpuk. Kerugian negara pun melesat, dari ratusan miliar menjadi Rp 11,7 triliun. Ya, triliun. Jumlah yang cukup untuk membangun ratusan rumah sakit, membiayai pendidikan ribuan anak, atau memberikan subsidi listrik selama bertahun-tahun. Tapi, semua itu lenyap begitu saja, masuk ke kantong para pencoleng berdasi yang tersenyum lebar di balik meja direksi.

Baca Juga
  • Nilai Prabowo
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Dwi Wahyudi tidak sendirian. Seperti perampokan besar yang membutuhkan komplotan andal, ia ditemani oleh empat nama lain yang kini juga berstatus tersangka. Arif Setiawan, Direktur Pelaksana IV LPEI, yang seharusnya menjaga agar kebijakan kredit tetap sehat, malah ikut berkonspirasi dalam drama penggembosan negara. Jimmy Masrin, Presiden Direktur PT Caturkarsa Megatunggal sekaligus Komisaris Utama PT Petro Energy, yang berada di balik layar pergerakan dana haram ini. Newin Nugroho, Direktur Utama PT Petro Energy, yang menikmati aliran dana tanpa beban. Susi Mira Dewi Sugiarta, Direktur Keuangan PT Petro Energy, yang ikut memuluskan transaksi ajaib ini.

Modus mereka sangat khas. Klise. Basi. Tapi, entah kenapa, selalu berhasil. Kredit dicairkan tanpa inspeksi jaminan. Kontrak palsu dijadikan dasar pengajuan kredit. Pembayaran tersendat, tapi tetap diberi pinjaman tambahan. Seakan-akan ini adalah sirkus, bukan lembaga keuangan negara. Seakan-akan hukum hanya berlaku bagi rakyat kecil, sementara para pejabat bisa berakrobat seenaknya.

Kini, para tersangka mulai menikmati babak baru dalam hidup mereka. Dulu, mereka duduk di ruang rapat ber-AC, menyesap kopi mahal sambil berbicara tentang “pembangunan ekonomi nasional.” Sekarang, mereka duduk di ruang interogasi, menjawab pertanyaan penyidik dengan wajah yang tiba-tiba penuh penyesalan.

Sementara mereka bersiap menghadapi persidangan, rakyat Indonesia kembali memikul beban. Kita yang kerja keras tiap hari, membayar pajak, mengencangkan ikat pinggang saat harga naik, tetap harus menanggung akibat ulah mereka. Kita disuruh hidup sederhana, hemat listrik, hemat air, jangan boros. Tapi, mereka? Hidup mewah, menikmati uang haram, baru menunduk ketika terjaring operasi hukum.

Mari kita berikan penghormatan terakhir untuk Dwi Wahyudi dan kawan-kawan. Mereka telah berhasil membuktikan satu hal, bahwa kecerdasan akademik, jabatan tinggi, dan kepercayaan negara tidak ada artinya kalau moral sudah busuk dari akarnya. Kini, dari direktur pelaksana, mereka resmi menjadi pelaksana hukuman. Selamat menikmati babak baru di balik jeruji. Jangan lupa ajak teman-teman lain yang masih berkeliaran di luar sana.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T - 023811d8 1811 451a be46 774ad8cee8ff | # Koruptor | Potret Online

Sujud Terakhir di Sepertiga Malam

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com