• Latest

Gaji Miliaran Tidak Cukup, Gaji UMK Harus Cukup

Februari 27, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Gaji Miliaran Tidak Cukup, Gaji UMK Harus Cukup

Redaksiby Redaksi
Februari 27, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Berita mengenai gaji Direktur Utama Pertamina Patra Niaga yang mencapai Rp1,8 miliar per bulan mengundang banyak reaksi dari masyarakat. Angka ini bukan hanya fantastis, tetapi juga menimbulkan rasa penasaran: bagaimana bisa seseorang dengan gaji sebesar itu masih tergoda untuk korupsi? Dugaan korupsi senilai Rp193 triliun yang mencuat belakangan ini menambah absurditas cerita. Seakan-akan, miliaran per bulan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Menurut laporan dari Kompas.com, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga menerima gaji sebesar Rp1,8 miliar per bulan. Jumlah ini lebih dari cukup untuk hidup mewah, bahkan bagi standar kalangan elite. Lantas, mengapa korupsi masih terjadi?

Inilah yang menjadi ironi terbesar. Di saat masyarakat diminta untuk bersabar dan bersyukur dengan upah minimum yang pas-pasan, para petinggi dengan gaji miliaran justru masih tega bermain curang. Ini bukan lagi soal kebutuhan, tetapi keserakahan.

Logikanya sederhana: jika seseorang yang sudah bergaji miliaran masih juga korupsi, maka masalahnya bukan pada jumlah gaji, melainkan pada mentalitas. Keserakahan yang tidak mengenal batas membuat mereka merasa tidak pernah cukup, seberapa besar pun penghasilan yang didapatkan. Mereka tidak sekadar mencari kekayaan, tetapi kekuasaan dan pengaruh yang lebih besar.

Padahal, mereka berada di posisi yang seharusnya menjadi teladan bagi rakyat. Namun, ketika mereka yang digaji dengan angka fantastis justru terlibat korupsi, bagaimana masyarakat bisa percaya pada integritas pemimpinnya? Apakah gaji tinggi benar-benar menjamin seseorang untuk tetap jujur dan bersih dari praktik korupsi?

Fakta ini semakin menohok ketika kita melihat rakyat kecil yang harus bertahan hidup dengan upah minimum, seringkali dengan cara gali lobang tutup lobang. Mereka diminta untuk menerima nasib dan tetap bersyukur, sementara para pejabat menerima gaji selangit, yang bahkan rakyat biasa tidak pernah bisa menghitung jumlah digitnya.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Ketika Risiko Bisnis BUMN Dipidanakan

Ketika Risiko Bisnis BUMN Dipidanakan

Maret 7, 2026

Inilah kesenjangan moral yang nyata. Masalahnya bukan pada angka di slip gaji, tetapi pada hilangnya nurani dan rasa cukup. Mereka yang sudah kaya raya ternyata tidak kebal terhadap godaan kekuasaan.

ADVERTISEMENT

Kasus ini menjadi pelajaran penting, bahwa gaji tinggi saja tidak cukup untuk menjamin integritas seseorang. Perlu ada reformasi moral dan sistem pengawasan yang lebih ketat agar praktik korupsi bisa diminimalkan, bahkan dihapuskan.

Selama kerakusan para petinggi masih menganggap kekayaan sebagai ukuran kesuksesan, selama itu pula korupsi akan terus terjadi. Dan rakyat kecil akan terus menjadi korban yang dimiskinkan oleh para petinggi yang rakus.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com