• Latest
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

Februari 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Februari 19, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #kaburajadulu
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Banyak orang Sambas di Kalbar sudah lama memilih kabur ke Sarawak Malaysia. Fenomena ini sudah sangat lama. Ada puluhan ribu orang Sambas di negeri jiran itu. Ternyata, ajakan kabur ke luar negeri, viralnya sekarang. Bahkan, Noel seorang Wamen justru berujar, “Bila perlu tak usah pulang.” Sambil sarapan pagi di Jalan Pancasila Pontianak, kita bedah tagar #KaburAjaDulu.

Langit Indonesia masih biru. Matahari masih terbit dari timur. Tapi di media sosial, sebuah tagar berkibar lebih kencang dari bendera di tiang sekolah setiap Senin pagi, #KaburAjaDulu. Bukan sekadar kata-kata, ini adalah jeritan jiwa, deklarasi digital dari generasi yang merasa hidup di tanah kelahiran sendiri lebih sulit dari ujian matematika tanpa kalkulator.

Mereka ingin pergi. Bukan karena tidak cinta, tapi karena lelah. Mereka tumbuh dengan janji bahwa kerja keras akan membawa keberhasilan, tapi yang mereka temui hanyalah lowongan kerja dengan syarat “pengalaman lima tahun” untuk fresh graduate, gaji yang bahkan kalah banyak dari biaya parkir bulanan di Jakarta, dan harga rumah yang seolah dibuat khusus untuk manusia abadi yang punya waktu menabung seribu tahun.

Setiap hari, mereka bangun dengan doa yang sama, “Semoga hari ini lebih baik.” Tapi yang datang malah berita harga beras naik, biaya hidup naik, apa saja naik. Sementara satu-satunya yang tidak naik adalah gaji dan harapan. Mereka disuruh bersyukur, tapi perut tetap harus diisi. Disuruh berjuang, tapi yang menang tetap orang-orang itu lagi. Lalu muncullah pikiran sederhana, kalau hidup di sini seperti permainan yang sudah diatur supaya selalu kalah, kenapa tidak pindah ke arena lain?

Mereka melihat Instagram, TikTok, YouTube, anak-anak muda di luar negeri hidup dengan tenang. Makan enak tanpa harus hitung-hitungan sampai angka nol di rekening. Gaji cukup untuk hidup layak, bukan hanya untuk bertahan hidup. Sistem yang lebih jelas, aturan yang lebih masuk akal, kesempatan yang lebih nyata. Bukan ilusi, bukan janji manis.

Maka dimulailah pencarian. Beasiswa? Bisa. Kerja? Bisa. Nikah sama warga lokal? Kalau beruntung, kenapa tidak? Grup-grup diskusi bertebaran, tips dan trik pindah negara beredar lebih cepat dari gosip artis. Anak-anak muda yang dulu diajari mencintai tanah air, sekarang diajari cara meninggalkannya dengan rapi, legal, dan tanpa drama.

Tentu saja, tidak semua orang setuju. “Nasionalisme!” teriak mereka yang nyaman hidup di posisi atas. “Jangan lari, bangun negeri ini!” Tapi bagaimana mau membangun kalau alatnya rusak, bahan bakunya mahal, dan setiap kali ada yang mencoba, malah dijegal oleh sistem? Nasionalisme itu indah, tapi perut kosong lebih nyata.

Baca Juga

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026

Pidato Manifesto: Indonesia Terhormat

Maret 22, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Bangsa Tanpa Bayangan

Maret 22, 2026

Jadi mereka pergi. Satu per satu, pelan tapi pasti. Ada yang hanya sementara, ada yang memilih selamanya. Setiap kali seseorang berhasil kabur, yang tinggal hanya bisa melihat dengan dua perasaan, iri dan sadar bahwa mungkin, hanya mungkin, mereka juga harus mulai mencari jalan keluar.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com