POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Kisah Hanifah

RedaksiOleh Redaksi
February 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Dwi Sutarjantono,

Namanya Hanifah. Sederhana, seperti embun pagi yang turun tanpa suara, namun menyegarkan bumi yang kering. Tidak memiliki ejaan yang rumit seperti kebanyakan nama remaja seusianya. Wajahnya pun sederhana, tapi matanya tajam, bagaikan nyala obor di tengah malam gelap, memberi petunjuk ke mana arah kebenaran.

Di saat dunia pendidikan tenggelam dalam pusaran kebijakan yang tak tersentuh, Hanifah muncul sebagai riak kecil yang berani menantang arus. Siswi kelas 12 di SMAN 7 Cirebon ini mungkin tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya akan bergema di seluruh negeri. Saat dihadapkan pada ketidakadilan, ia memilih berbicara. Bukan sekadar untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kebenaran yang lebih besar.

Sebagai anak ASN penerima Program Indonesia Pintar (PIP), Hanifah seharusnya paham tata krama: diam, tunduk, menerima. Tapi Hanifah memilih sebaliknya. Mulut yang seharusnya terbungkam, justru membuka kenyataan yang tak ingin didengar banyak orang. Sebagian dari dana itu dipangkas oleh tangan-tangan yang mengatasnamakan partai politik, dengan dalih untuk “kelancaran” pencairan. Bagi banyak siswa, pemotongan ini dianggap sebagai takdir, seperti hujan yang turun tanpa bisa dicegah. Tapi tidak bagi Hanifah.

Ketika sebagian besar memilih tunduk, ia berdiri tegak. Suaranya yang lantang membelah kebisuan, seperti lonceng gereja yang berdentang di tengah malam, membangunkan mereka yang tertidur dalam kebungkaman. Ia mengungkap praktik curang ini kepada Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi. Hanifah tidak berbicara dengan amarah, tetapi dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa diam berarti membiarkan ketidakadilan berakar semakin dalam. Dan keberaniannya pun tak sia-sia. Kata-katanya mengguncang banyak pihak dan menguak tabir kejanggalan dalam distribusi dana bantuan pendidikan.

📚 Artikel Terkait

Darni M. Daud : Persatuan dan Kesatuan Bangsa Adalah Tanggung Jawab Bersama

GOMBAL LEWAT JEJARING SOSIAL, LEBIH MUDAH

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

WAKTU TAK KEMBALI

Hanifah adalah bunga liar yang tak memilih tanah tempatnya tumbuh. Ia mekar di antara reruntuhan, menantang semak berduri yang ingin mencekiknya. Ia tidak meminta izin untuk mekar, tidak tunduk pada aturan yang hanya menguntungkan mereka yang rakus. Keberaniannya seperti burung kecil yang menantang angin topan, mengepakkan sayapnya di langit yang tak menjanjikan perlindungan. Tapi ia terus terbang, sebab menyerah bukan pilihannya. Namun, justru karena langka, anak-anak seperti Hanifah harus kita jaga. Mereka adalah percikan kecil yang, jika dibiarkan redup, akan hilang ditelan kerakusan sistem.

Berbicara kebenaran bukanlah perkara mudah. Ada harga yang harus dibayar. Pandangan sinis, tekanan dari mereka yang merasa terusik, bahkan ancaman yang mengintai di balik bayang-bayang. Tapi itulah risiko yang harus dihadapi oleh mereka yang memilih untuk tidak tinggal diam. Hanifah telah membuktikan bahwa keberanian lebih berharga daripada ketakutan.

Kisah Hanifah bukan sekadar tentang seorang gadis yang berani berbicara. Ini adalah refleksi dari realitas yang sering kita abaikan. Tentang bagaimana korupsi merayap seperti akar pohon tua, menggerogoti sistem yang seharusnya menopang masa depan generasi muda. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi sering kali dari suara kecil yang cukup berani untuk didengar.

Di usia yang masih belia, Hanifah telah menjadi mercusuar keberanian. Ia mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk melawan ketidakadilan, bahwa kebenaran selalu layak diperjuangkan. Namun, keberanian seperti ini tidak boleh dibiarkan sendirian. Hanifah dan anak-anak sepertinya adalah nyala api kecil yang harus kita lindungi, agar tidak padam sebelum sempat menerangi dunia, agar tidak tenggelam sebelum sempat menyentuh langit. Sebab tanpa mereka, kita hanya akan terus hidup dalam sunyi yang menghamba pada kebobrokan.

Hanifah, namamu memang sederhana. Tapi keberanianmu tidak. Suaramu kecil, tapi menggema panjang. Pilihanmu sederhana, tapi berat: mengungkap kebenaran, meski dunia lebih nyaman dalam kebohongan.

(Dwi Sutarjantono, Penulis/Mind Programmer/Sekretaris Umum Satupena DKI)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Sarjana Dalam Gendongan

Mengajak Anak Menulis Traveling Notes

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00