POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pagar di Lautan Ketololan

RedaksiOleh Redaksi
January 23, 2025
Pagar di Lautan Ketololan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Di atas balkon sebuah vila mewah di Marina Bay, Singapura, Aguam, Aseng, Afu, dan Asiang duduk mengelilingi meja marmer yang dilapisi keangkuhan. Empat cangkir kopi luwak seharga gaji setahun karyawan biasa mengepulkan aroma yang seakan mengejek masyarakat kelas pekerja. Mereka bagian dari Sembilan Macan, konsorsium tidak resmi yang kekayaannya mampu membeli seluruh benua kecil jika mereka mau. Konon, kekayaannya bila disatukan melebihi APBN. Lima anggota lain absen malam itu. Katanya sedang sibuk “melayani negara” alias mengatur saham tambang dan jalur impor yang harganya mereka tentukan sesuka hati.

Percakapan mereka santai, ringan, penuh candaan. Kalau orang awam dengar, mungkin mengira mereka hanya empat orang tua senang bergosip. Tapi percakapan ini seperti bermain catur di atas peta politik Indonesia. Kali ini, topik mereka adalah pagar laut sepanjang 30,16 kilometer yang bikin negara geger.

“Lucu ya, pagar laut itu bikin semua orang di Jakarta sakit kepala,” Aseng mulai bicara sambil memainkan jam tangan emasnya. “Bayangkan, Presiden sudah perintah bongkar, tapi eh, menterinya bilang tahan dulu. Dramanya mantap!”

Aguam tertawa, suaranya berat seperti pelaku antagonis di sinetron. “Si menteri ATR BPN bilang memang sudah terbit SHM di atas laut itu. Tapi, bukan masa dia. Yang lucu, dua menteri sebelumnya juga kompak ngaku tak tahu. Jadi siapa yang bikin sertifikat itu? Jin penguasa laut?”

Afu menyeruput kopinya pelan. “Ah, biarkan saja mereka saling tuduh. Toh, kalau mereka nuduh kita, semua bisa diatur. Siapa yang berani ngomong kalau kita ada di belakang ini? Kita udah pegang semua pejabat penting dan penegak hukum. Bahkan ikan paus pun kalau bisa ngomong, kita suruh diem.”

Keempatnya tertawa serempak. Tawa itu penuh ironi, penuh sindiran bagi sebuah negara yang katanya berdaulat, tetapi kenyataannya lebih mirip catur, dengan Sembilan Macan sebagai dalangnya.

“Eh, pagar laut itu akhirnya buat apa, sih?” Asiang bertanya. “Aku sampe lupa kenapa dulu kita suruh pasang.”

“Bukan kita yang suruh,” jawab Aguam sambil mengangkat bahu. “Itu ide brilian si… siapa tuh, yang pengen bikin tambak udang raksasa, tapi lupa izin. Kita cuma bantu ‘merapikan’ sertifikatnya biar legal.”

📚 Artikel Terkait

Kelas Menulis Online – Serunya Menulis Cerita Anak

Aku Sayang Hidupku

HABA Si PATok

Fenomena Politik Simbolik:Pergeseran Politik Ke Arah Panggung Performatif Dan Post-Truth

“Udang, ya?” Aseng bergumam sambil berpikir. “Berarti nanti kalau dibongkar, ada potensi tambak ilegalnya kelihatan, dong?”

Afu mengangkat telunjuknya. “Makanya jangan dibongkar. Itu kan bukti sejarah kebodohan birokrasi. Kalau kita biarin, nanti mereka sibuk berdebat, fokus pada siapa yang salah, bukan siapa yang diuntungkan. Kalau pada akhirnya mereka bosan, kita beli lagi tambaknya dengan harga murah. Siklusnya begitu terus, enak kan?”

“Ah, benar juga,” kata Asiang sambil tertawa. “Negara ini memang juara bikin drama. Gara-gara pagar laut saja, bisa geger kayak sinetron pagi hari.”

“Betul. Yang penting sekarang, kita santai saja dulu,” Aguam menutup pembicaraan sambil menyalakan cerutunya. “Biarkan rakyat bingung, biarkan pejabat saling tuduh, biarkan media sibuk. Kita ini cuma nonton saja. Pagar laut itu, biar jadi monumen nasional ketololan mereka. Anggap saja kayak tembok besar, tapi lebih absurd.”

Keempatnya kembali tertawa. Dalam tawa itu, ada aroma kebanggaan yang sulit disembunyikan. Mereka tahu, pagar laut itu hanyalah simbol kecil dari betapa jauhnya jarak antara mereka yang menguasai dan mereka yang dikuasai.

Malam itu, di Singapura, empat macan meneguk kopinya sambil menonton layar ponsel mereka. Berita tentang pagar laut terus bergulir. Ada debat di parlemen, ada aktivis yang turun ke jalan, ada netizen yang bikin thread investigasi. Semuanya tampak penting dan mendesak. Tapi bagi mereka, itu hanya hiburan kecil sebelum tidur.

“Eh, besok ngopi di mana?” tanya Aseng.

“Bali, mungkin? Atau Monaco?” jawab Afu santai.

“Yang penting, ada sinyal bagus buat nonton mereka ribut,” tambah Asiang.

Mereka pun tertawa lagi. Tawa yang menggema di atas lautan absurditas, seolah seluruh dunia hanyalah panggung sandiwara yang dibiayai dari kantong mereka.

#camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Terkait Insentif, ATAS Provinsi Aceh Temui Komisi VI DPRA

Terkait Insentif, ATAS Provinsi Aceh Temui Komisi VI DPRA

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00