• Latest
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

Januari 22, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan

Redaksiby Redaksi
Januari 22, 2025
Reading Time: 2 mins read
Tags: #22 Tahun POTRET#HUT Majalah POTRETPerempuan
Lelaki Yang Lahir Dari Darah Perempuan
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi esai ini terinspirasi dari pengalaman Penulis saat mengalami hari pertama menstruasi, serta pengalaman para perempuan di seluruh dunia).
***

Penelitian UNICEF di Indonesia, di Indonesia Timur khususnya, menyebutkan 1 dari 7 perempuan yang mengalami menstruasi tidak pergi ke sekolah selama menstruasi berlangsung, meninggalkan kelas dan berujung tidak naik kelas, bahkan putus sekolah.
***

Kring… kring… kring…
Lonceng emas di sudut sekolah berbunyi,
Pertanda jeda dari pena dan kertas.
Pintalan karet-karet gelang telah siap di laci bangku.
Aku dan temanku tak sabar bermain lompat tali di lapangan sekolah.

“Ecce, ada darah di rokmu,” teriakan itu menghentikanku.
Nina memegang tanganku, Lalu memeriksa rok putihku.
Hari itu, bukan merah putih yang kupakai. Tapi seragam batik dengan rok putih tulang.

“Darah apa? Saya tidak sakit apa-apa,” agak heran, tapi santai saja aku menjawabnya.

“Oh, accera’moko (1) kapang.”
“Baru kelas 5 SD accera’mi,
Edede…jabena (2)
Teriakan-teriakan teman sekelas menusuk, menghantam dinding telingaku.

Bocah laki-laki tak mau ketinggalan.
Bak bertemu mangsa daging gemuk nan segar,
segera ia menerkam.
“Jabena inne bainea (3).
Nia’mo kapang (4) cowokna,”
Terbahak-bahak mereka.

Bergemuruh hatiku.
Belum juga aku mencerna asal-muasal cairan merah ini,
sekonyong-konyong stempel “jabe” menempel di jidatku.
Bagai noda hitam, kelam, busuk.

Aku tahu betul,
Jabe adalah cap negatif yang selama ini dilekatkan pada perempuan.
Perempuan jabe jauh dari kesucian,
lumbung nafsu dan birahi,
Kepada tuan-tuan,
tubuh dijajakan gratis.

Bercak-bercak merah membentuk bulatan kokoh di rokku,
Memintal-mintal tali stigma.
Stigma tentang perempuan yang tidak benar, nakal, centil, kegatelan, kotor, menjijikkan.

Bangsat!
Tolol!

Hei, sadarlah bro!
Bisikan-bisikan syetan terlalu meninabonokkanmu.
Katanya, darah perempuan haram mengalir di rumah Tuhan.
Katanya, perempuan berdarah baik diasingkan ke gunung Himalaya.

Hei, bangun dong Sist!
Syetan-syetan itu terlalu melenakanmu.
Menenggelamkan wahyu Tuhan,
yang penuh kasih membuka rumah-Nya
untuk semua umat manusia.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu adalah wahyu Tuhan?
Bukan perempuan punya mau.
Tak pernah pula perempuan memintanya.

Pura-pura butakah mereka menyaksikan dahsyatnya rasa sakit perempuan,
hingga tak sadarkan diri,
karena darah merah itu?
Roda kehidupan terhenti,
Sekolah, bekerja, bahkan makan pun tak lagi mampu.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Sekali sebulan,
perempuan dengan ikhlas menerima dan menjalani takdir menstruasi itu dari Pencipta-Nya.

Tak tahukah mereka darah yang mengalir dari vagina itu yang menguatkan dinding rahim,
tempat para manusia penghuni dunia dilahirkan?
Darah merah itulah yang meng “adakan” milyaran khalifah di hamparan dunia yang fana ini.

Darah merah itu,
Adalah bahasa Tuhan menghamparkan simbol Ketuhanan-Nya,
Simbol kekuatan perempuan,
Yang mustahil ada pada makhluk lainnya.

“Darah perempuan ada, maka manusia ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Keberadaan para lelaki,
hanyalah mimpi di siang bolong.

Darah perempuan ada, maka peradaban ada.”
Jika bukan karena darah merah yang mengalir itu,
Peradaban kuno di Yunani hingga revolusi Industri di Inggris,
hanyalah dongeng belaka.

ADVERTISEMENT

 

*CATATAN*

1. Accera’ dalam bahasa Makassar berarti berdarah atau menstruasi. Accera’moko kapang: mungkin kamu sudah menstruasi.
2. Edede, dalam bahasa Makassar berarti: ya ampun. Jabena, dalam bahasa Makassar berarti: kecentilan dalam arti negatif.
3. Jabena inne bainea, dalam bahasa Makassar berarti: centil banget nih perempuan
4. Nia’mo kapang cowoknya: mungkin dia sudah punya pacar. Kalimat yang mengarah pasa stigma perempuan yang nakal dan centil pada laki-laki.
5.https://hellosehat.com/wanita/menstruasi/darah-haid-itu-darah-kotor/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Peunajoh Prang

Peunajoh Prang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com