• Latest
UJIAN PERSAUDARAAN DI UJUNG KEHIDUPAN - 3c4ec73c 43cd 42d8 a685 b3b29c4e25b3 | ulasan | Potret Online

UJIAN PERSAUDARAAN DI UJUNG KEHIDUPAN

Januari 12, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

UJIAN PERSAUDARAAN DI UJUNG KEHIDUPAN

Akmal Nasery Basral by Akmal Nasery Basral
Januari 12, 2025
in ulasan
Reading Time: 3 mins read
0
UJIAN PERSAUDARAAN DI UJUNG KEHIDUPAN - 3c4ec73c 43cd 42d8 a685 b3b29c4e25b3 | ulasan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

 

 

Oleh *Akmal Nasery Basral*

Jika seorang ayah sudah berada di gerbang ajal, hari-hari terakhirnya dalam kehidupan dunia yang majal, apa yang akan dilakukan anak-anaknya? Sineas Azazel Jacobs menjawab pertanyaan ini dengan menulis skenario yang diperuntukkan bagi tiga aktris dan kawan dekatnya: Carrie Coone, Natasha Lyonne dan Elizabeth Olsen. Ini teknik penulisan skenario yang sudah semakin jarang dilakukan di industri perfilman yang serba bergegas.

Carrie Coone mendapat peran sebagai Katie, sulung dari tiga bersaudari. Seorang _alpha female_ yang selalu mendominasi suasana di mana pun dia berada. Jika sedang bicara seakan tak pernah belajar tanda baca, tanpa titik koma. Natasha Lyonne sebagai Rachel, anak kedua yang eksentrik-urakan, pemadat marijuana dan penjudi pertandingan olahraga. Sementara Elizabeth Olsen dengan binar mata seindah bintang kejora adalah si bungsu Christina yang tenang. Seorang pasifis yang disiplin berlatih yoga.

Ketiga saudari lahir dari rahim perempuan yang berlainan. Katie dan Christina bersaudara kandung dari ibu yang sama, sedangkan Rachel dari ibu berbeda. Ibu mereka sudah lama meninggal dunia. Hanya Rachel yang selalu berada di sisi ayah mereka, di apartemen keluarga yang terletak di satu bagian New York City. Katie menetap di Brooklyn. Meski tak jauh dari lokasi sang ayah, namun paling banter dia hanya sebulan sekali datang menjenguk. Sedangkan Christina tinggal di California bersama keluarga mungilnya.

Dengan kondisi kesehatan yang sudah tak tersembuhkan, ketiga putri memilihkan perawatan paliatif di rumah ( _hospice_ ) bagi ayah mereka dengan bantuan perawat yang berjaga pada jam-jam tertentu. Untuk pertama kalinya Katie, Rachel, dan Christina satu rumah lagi untuk menghadapi momen paling dramatis dalam kehidupan: menghadapi kematian ayah tercinta. Sebuah peristiwa yang paling tak ingin dialami anak-anak yang mencintai orang tua mereka.

Bahkan untuk saat-saat sesulit itu, proses komunikasi dan interaksi ketiganya tak bisa selancar yang mereka harapkan. Selalu ada letupan emosi sampai ledakan ucapan yang ofensif-destruktif tersebab jejak hubungan persaudaraan kala mereka lebih muda yang juga tak selalu dalam harmoni.

Apalagi setelah datang tokoh baru Benjy (Jovan Adepo), pacar Rachel, yang menambah panas komunikasi ketiga saudari. Konfrontasi terbuka pecah, khususnya antara Benjy vs Katie dan berlanjut antara Rachel vs Katie yang mencapai klimaks titik didih, sementara ayah mereka terbaring lunglai tak berdaya di kamar sebelah.

Lantas bagaimana dengan kelanjutan hidup sang ayah serta kelanggengan persaudaraan mereka? Ini pertanyaan yang jawabannya harus ditemukan sendiri oleh penonton di antara intensitas dialog yang semakin menukik dalam esensi makna “bersaudara”—baik kandung maupun tiri. Meski nuansa pedih terus bermunculan, namun Sutradara Jacobs tak membuatnya terperosok menjadi situasi depresi. Sesekali muncul aroma humor getir yang bisa membuat penonton tersenyum pahit meski pelupuk mata sedang basah.

Menyaksikan film ini juga memberikan efek seperti melihat drama panggung. Ruang apartemen mereka yang terbatas dan properti yang tipikal apartemen kelas menengah tak ubahnya seperti setting panggung, meski sesekali ada adegan luar ruang di taman ketika Rachel harus merokok marijuana tersebab larangan Katie untuk merokok di dalam apartemen. Hebatnya Jacobs, adegan luar ruangan ini tak hanya menjadi kesendirian Rachel melainkan menjadi ajang percakapan dengan petugas keamanan apartemen, melalui dialog-dialog singkat yang memberikan aksentuasi bagi kegentingan situasi yang sedang terjadi.

Dari sisi biaya produksi, _His Three Daughters_ merupakan film biaya rendah dalam standar _blockbuster_ Hollywood. Tak ada efek spesial atau adegan extravaganza yang membutuhkan pemeran pengganti dengan ongkos mahal. Penonton seperti melihat mimesis kehidupan sehari-hari, yang bahkan mungkin bertaut dengan sebagian kehidupan masing-masing dalam riwayat persaudaraan yang unik dan spesifik, tetapi tetap membubuhkan suasana cinta-tapi-benci-tapi-cinta antarsaudara yang terkenal itu. Lari tak bisa, tak lari tak bisa.

Mungkin tersebab faktor-faktor itu jugalah maka National Board Review of Motion Pictures menabalkan _His Three Daughters_ sebagai satu dari 10 Film Independen Terbaik 2024. Mutu skenario dan penyutradaraan Azazel Jacobs memang menarik dan kuat. Namun ruh pengadeganan yang dibawakan _trio tour de force_ Carry Coone, Natasha Lyonne dan Elizabeth Olsen lah yang membuat cerita menjadi memikat.

Jakarta, 12 Januari 2025

Tags: #SKEMA (Sketsa Masyarakat)#Ulasan Film
Share234SendTweet146Share
Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi

Next Post
UJIAN PERSAUDARAAN DI UJUNG KEHIDUPAN - 9897b4d4 42a9 4625 90f8 d4ca45633e61 | ulasan | Potret Online

Dihadiri Duta Besar Kuwait, Pertunjukkan Mahakarya Randai III Siti Manggopoh Sukses dan Memukau

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com