POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Post Power Syndrome dan Pencitraan Yang Terus Kasmaran Untuk Tetap Terus Berkuasa

Jacob EresteOleh Jacob Ereste
January 4, 2025
Tags: #Post Power Syndrome
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste :

Kata seorang kawan psikolog, post power syndrome itu adalah penyakit jiwa seorang mantan penguasa. Entah dalam bidang apa saja, mulai dari level lurah di desa hingga presiden yang mengalami pubertas kedua setelah pernah jatuh cinta pada kekuasaan yang pernah ada dalam pelukan dirinya.

Ibarat kasmaran yang tengah memabukkan, post power syndrome itu relatif sulit diredakan. Apalagi hendak disembuhkan. Sebab yang bersangkutan sedang dalam suasana mabuk kepayang terhadap kekuasaan yang pernah dia rasakan sangat nikmat, meski terasa sangat menyakitkan bagi orang lain, Utamanya bagi mereka yang merasa tertindas atau dirugikan akibat dari kekuasaannya yang semena-mena, menindas rakyat, merampas hak-hak rakyat dan menjungkir-balikkan tatanan hukum demi dan untuk memenuhi ambisi pribadi, maupun hasrat anak dan istri hingga menantunya yang ingin melanggengkan kekuasaan.

Tipologi manusia seperti itu tidak sedikit adanya di Indonesia, hingga semua orang dapat menyaksikan polah tingkah mereka yang sangat norak dan kampungan, tanpa rasa malu, apalagi hanya sekeladar untuk mengindahkan ajaran dan tuntunan agama yang telah dijadikan semacam asesoris semata. Seperti gelar bodong dan ibadah yang cuma untuk memanipulasi publik dengan kesan yang baik sebagai manusia yang ingin dianggap patut dan layak dihormati. Padahal, keengganan orang banyak hanya karena kekuasaannya yang despotik, otoriter, culas, licik dan tega menindas rakyat yang lemah.

Lalu penyakit post power syndrome yang membius dirinya itu, menandakan kebodohan spiritual yang kering dan dangkal, jauh dari nuansa ketuhanan. Maka itu wajar ideologi yang dituduhkan padanya adalah pengikut partai yang tidak ber-Tuhan. Sebab semua takaran yang diberlakukan hanya material belaka. Dan kekuasaan bagi dirinya nyaris tidak memiliki muatan dimensi ibadah.

📚 Artikel Terkait

SANG TOKOH

Guru Multitalenta Katalisator Pendidikan Kini dan Esok

Angkara

Dari PRRI ke Kabinet Prabowo: Jejak Politik Urang Minang

Jadi sungguh sulit untuk menggarap dari kekuasaan yang dikeloninya itu akan menampilkan pengabdian, pengayoman, perlindungan apalagi pelayanan. Sebab dia sendiri justru sangat mendambakan sekali pelayanan dari masyarakat.

Jadi yang salah adalah persepsi bloko suto dari rakyat yang terbius oleh janji palsu mereka hendak mengayomi, melindungi dan melayani sebagai pelengkap basa-basi saat menerima amanah dari rakyat. Lalu sumpah serta janji yang mengatas namakan Tuhan itu pun, sekadar pelengkap untuk mengelabui rakyat yang dianggap cukup mengkonsumsi  janji-janji yang palsu sekalipun. Karena yang penting adalah hembusan angin surga yang menyegarkan.

Begitulah, pada tiga puluh tahun silam lebih, telah ditulis puisi esai dengan narasi tragis yang melukiskan kisah perjuangan seorang buruh wanita Indonesia yang perkasa — Marsinah dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur — tanpa pernah membedakan hak kaum buruh Perempuan dengan hak kaum buruh laki-laki, tentang janji dan harapan besar telah menggantung perempuan itu,  hingga kuyu layu terkulai tidak kunjung berbuah.

Sebab beban kaum buruh yang tersunggi sangat berat di atas pundaknya harus ditebus dengan penganiayaan hingga kematian yang dianggap banyak orang sia-sia. Setidaknya, pihak pemerintah sendiri tak hendak mengakui Marsinah sebagai pejuang kaum buruh Indonesia yang tewas ditangan aparat pada tahun 1993.

Kasus kematian pejuang kaum buruh yang gigih dan tangguh berjuang hingga akhir hayatnya sampai di liang lahat ini pun menunjukkan post power syndrome  yang bisa dianggap lebih santun dari penguasa yang rakus dan tamak tidak hanya dalam arti material, tetapi juga kekuasaan yang tak diusik dan digoyahkan. Begitu juga perilaku degil dari cawe-cawe yang tak kunjung bisa diredakan. Karena sikap serupa itu pertanda dari haus kekuasaan yang tak bisa diredakan. Lantaran dimensi dan frekuensi serta nuansa spiritualitas yang harus mampu mengasuh etika, moral dan akhlak mulia manusia telah tercampak di got atau gorong-gorong yang tak sepantasnya untuk ikut diurusi, karena petugas untuk itu sudah ada, tak patut diambil alih pula, kecuali hanya sekedar untuk sensasional dan pencitraan belaka.

Banten, 3 Januari 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Post Power Syndrome
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Tips Sederhana Memperlakukan Barang Milik Negara

Kenangan Masa Kecil di Desa: Tradisi yang Mulai Hilang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00