POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Penonton “Sayap-Sayap Proklamasi”: Tidak Mudah Memadukan Seni Tradisional dengan Elemen Teater Modern

RedaksiOleh Redaksi
December 19, 2024
Tags: #kuflet#padang panjang
Penonton “Sayap-Sayap Proklamasi”: Tidak Mudah Memadukan Seni Tradisional dengan Elemen Teater Modern
🔊

Dengarkan Artikel

 

Padang Panjang- Potretonline PERTUNJUKAN teater bertajuk “Sayap-Sayap Proklamasi” berhasil mencuri perhatian masyarakat dalam gelarannya di Desa Wisata Kubu Gadang, Padang Panjang. Pentas yang dipersembahkan Komunitas Seni Kuflet ini merupakan bagian dari program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2024 Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Karya ke-55 komunitas seni ini tidak hanya berhasil menghibur, tetapi juga mendidik generasi muda tentang nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme melalui kisah hidup Bung Hatta.

Dipentaskan di alam terbuka dengan latar sawah dan desa yang asri, “Sayap-Sayap Proklamasi” mengangkat perjalanan hidup Bung Hatta, mulai dari masa kecilnya di Bukittinggi, hingga perannya sebagai salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia.

Pertunjukan ini, yang disutradarai Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., dan penulis naskah S. Hasanah Nst. sukses memadukan seni tradisional Minangkabau seperti rabab dan saluang dengan elemen teater modern. Pementasan ini tidak hanya menampilkan hiburan yang estetis, tetapi juga menjadi ruang edukasi sejarah yang bermakna.

Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Dr. Dedy Kalee, M.Sn., menyoroti bagaimana seni dapat berfungsi sebagai media edukasi dan penyadaran sosial. “Teater Sayap-Sayap Proklamasi yang merupakan produksi ke-55 Komunitas Seni Kuflet berupaya mengembalikan fungsi seni sebagai media edukasi dan penyadaran sosial. Melalui narasi perjuangan Bung Hatta, pertunjukan ini menanamkan nilai patriotisme dan kebangsaan bagi generasi muda, memperkuat identitas bangsa, serta menegaskan pentingnya dukungan ruang kesenian dalam pembangunan karakter masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Afifuddin, M.Sn., dari ISBI Aceh, memuji integrasi tradisi lisan dengan pendekatan teater Eropa yang diterapkan dalam pementasan ini. “Menggabungkan tradisi lisan dengan konsepsi teater Eropa bukanlah hal mudah. Tradisi lisan dendang yang disampaikan dengan rabab dan alunan saluang merupakan sebuah gagasan yang dapat dikembangkan lagi pada pertunjukan teater ke depan. Konsep post-festival yang ditawarkan oleh sutradara memungkinkan pertunjukan ini menjadi lebih dari sekadar pementasan, tetapi juga ruang diskusi dan dokumentasi yang dapat disebarluaskan,” katanya.

Kandidat doktor seni di ISI Surakarta, Rasyidin, S.Sn., M.Sn., menilai bahwa perpaduan tradisi dan modernitas dalam pementasan ini menciptakan inovasi yang relevan bagi masyarakat masa kini. “Pertunjukan ini mengembalikan spirit masa lampau tentang kondisi Bukittinggi di era tahun 1902. Dengan menggunakan panggung di alam terbuka, pertunjukan ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga edukasi bagi generasi muda dalam memperkenalkan kembali nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan Indonesia,” ungkapnya.

📚 Artikel Terkait

Doa Di antara Lumpur dan Longsor

Catatan Sehabis Hujan di Cimahi

Mengapa Dunia Islam Harus Bersatu dalam Strategi Ekonomi Anti-Penindasan

UI dan USK berkerjasama Dengan BFLF Berhasil Mengembangkan Inkubator Bayi Gratis Pertama di Sumatera

Menurut Rasyidin, keunikan “Sayap-Sayap Proklamasi” juga terletak pada penggunaan elemen seni tradisional seperti rabab dan saluang, yang mengiringi cerita dan memperkuat suasana emosi dalam setiap adegan. Selain itu, petatah petitih khas Minangkabau serta dialog dalam bentuk pantun turut memberikan kekayaan budaya yang jarang ditemukan dalam pementasan teater modern.

Dosen Universitas PGRI Sumatera Barat, Dr. Yulia Sri Hartati, M.Pd., memberikan apresiasi khusus terhadap kekuatan visual dan alur cerita yang disampaikan. “Perpaduan seni tradisi, rabab, sebagai janang pengantar cerita memberikan kesan tersendiri dalam pertunjukan ini. Semakin ditonton, semakin berkesan. Lagi, petatah petitih dan pantun ikut mewarnai dialog para lakon, membuat kita merasa berada pada masa itu,” tuturnya.

Namun, ia juga mencatat adanya kontradiksi yang menarik dalam pementasan ini, seperti penggunaan bahasa Indonesia oleh tokoh tentara Jepang, yang mungkin dimaksudkan untuk menciptakan ironi. Terlepas dari itu, Dr. Yulia menyebut bahwa “Sayap-Sayap Proklamasi” adalah karya yang unik dan layak diapresiasi.

Dengan disiarkan langsung melalui kanal YouTube PadangTV, pertunjukan ini tidak hanya dinikmati oleh masyarakat yang hadir langsung, tetapi juga oleh penonton dari berbagai daerah, termasuk Aceh. Hal ini membuka peluang bagi “Sayap-Sayap Proklamasi” untuk menjangkau khalayak yang lebih luas dan memperkenalkan Desa Wisata Kubu Gadang Padang Panjang sebagai lokasi yang potensial untuk pertunjukan seni dan budaya.

“Pertunjukan ini jadi catatan eksistensi perjalanan dari Komunitas Seni Kuflet sebagai komunitas teater yang sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia,” kata Rasyidin. Menurutnya, pemilihan lokasi di Kubu Gadang juga memberikan nilai tambah karena keasrian alamnya yang mampu menyatu dengan tema pementasan.

“Sayap-Sayap Proklamasi” telah membuktikan bahwa teater dapat menjadi medium yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air kepada generasi muda. Kisah perjuangan Bung Hatta yang diangkat dalam pementasan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih menghargai jasa para pahlawan dan menjaga warisan budaya Indonesia.

Keberhasilan pertunjukan ini juga tidak lepas dari dedikasi Komunitas Seni Kuflet yang terus konsisten berkarya selama lebih dari dua dekade. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Kebudayaan, karya-karya mereka menjadi bukti nyata bahwa seni mampu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Selain itu, “Sayap-Sayap Proklamasi” bukan sekadar sebuah pertunjukan teater, tetapi sebuah perjalanan sejarah yang dihidupkan kembali melalui seni. Pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kemerdekaan, ada perjuangan yang tidak pernah boleh dilupakan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #kuflet#padang panjang
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
METODE ATAU SISTEM YANG PERLU DI KAJI ULANG?

Suara Rakyat Sudah Diamanahkan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00