POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pemerintah Dalam Cengkeraman Rokok

RedaksiOleh Redaksi
November 5, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rival Sihab

Ketika sedang bingung mencari inspirasi untuk mendapatkan ide untuk menulis, saya membaca sebuah tulisan di situs potretonline.com tentang, “Perokok Pemula Semakin Menggila?” Tulisan yang  ditulis oleh Tabrani Yunis itu, mendorong minat dan rasa ingin tahu saya, untuk menjelajahi internet dan mencari lebih jauh informasi atau referensi tentang  permasalahan yang disebutkan dalam tulisan Tabrani Yunis tersebut.

Selanjutnya saya membaca pula situs p2ptm.kemkes.go.id. Informasinya juga tentang “Perokok Aktif di Indonesia yang Tembus 70 Juta Orang, yang  mayoritas Anak Muda” yang menambah prevalensi perokok aktif di Indonesia terus meningkat. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun”.

Masih dalam kasus yang sama tentang perokok muda, tertulis di situs indonesia.go.id tentang “Mengapa perokok remaja di Indonesia terus bertambah” Disebutkan “Saat ini perokok aktif jumlahnya diperkirakan telah mencapainya 70 juta orang, mirisnya sebanyak 7,4 persen di antaranya adalah perokok di rentang usia 10-18 tahun. Anak dan remaja merupakan kelompok dengan peningkatan jumlah perokok yang paling signifikan.

Sementara data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) pada 2019 menunjukkan, prevalensi perokok pada anak sekolah usia 13–15 tahun naik dari 18,3 persen pada 2016 menjadi 19,2 persen di 2019″.

Nah, dari data-data tersebut di atas, dapat kita lihat dari data survey kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan kemnakes 7,4% diantara 70 juta perokok adalah perokok muda berumur kisaran 10-18 tahun. Kondisi yang mengkhawatirkan kita. Hal tersebut tidak luput dari tingginya tingkat perkembangan perokok muda (anak yang berumur 13-15 tahun) yang naik dari 18,3% pada tahun 2016 ke angka 19,2 % di tahun 2019, maka  dapat dipastikan, tanpa adanya tindakan sosial dan kesadaran masyarakat, angka tersebut akan terus naik. Sangat disayangkan, bukan?

Ya, tentu saja. Bagi saya yang bukan seorang perokok aktif, melihat bahwa hal tersebut memang  sangat disayangkan, mengingat banyaknya dampak negatif dari “merokok”. Entah apa lah yang membuat seseorang menjadikan merokok sebagai kebutuhan sekunder bahkan sebagai kebutuhan primer. Pernah beberapa kali saya dengar istilah dalam konteks “candaan” Saat di tongkrongan “Ga apa ga makan, asal rokok jangan putus” Begitu kata teman saya yang perokok mengatakan. Tentu bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi dapat disimpulkan sepenting itulah rokok bagi para pecandu rokok sampai – sampai rokok bisa saja sepenting makanan.

Juga masih dari sudut pandang saya yang bukan perokok, tidak tahu apa nikmatnya dan apa sisi positifnya dari kegiatan merokok tersebut. Tentu saja saya, sebagai seorang pria, remaja, yang punya rasa ingin tahu yang tinggi pada waktu itu, pernah berkali – kali mencoba merokok, hingga saya berhenti, karena  tidak dapat atau tidak bisa menikmati sisi positif dari pada rokok tersebut. Maka, secara pribadi, saya menyadari cukup banyak dampak negatif dari merokok, seperti uang yang dipakai untuk membeli rokok. Belum lagi dampak buruknya pada tubuh yang akan terlihat pada masa tua nanti.

Padahal, pabrik rokoknya sendiri sudah memberikan peringatan pada bungkus rokoknya “MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN”, dan tidak pernah dituliskan manfaatnya dari pada rokok. Namun, para pecandu rokok tidak peduli dengan peringatan itu. Malah, peringatan itu sering dipelesetkan dengan berbagai ungkapan yang sifatnya menolak berhenti rokok.

📚 Artikel Terkait

BERSEPEDA BUKAN SEKEDAR OLAH RAGA

IA-ITB Terbelah Dua Kubu, Tiba-tiba Ada Baliho Erick Thohir

Bisnis Café yang Ramah Lingkungan

Ayah

Mungkin banyak yang heran dan sebaliknya tidak mengherankan lagi kenapa merokok dapat membuat seseorang menjadi kecanduan. Ternyata, memang salah satu daya tariknya adalah karena mereka telah mengonsumsi zat pada rokok, yakni zat adiktif utama yang memengaruhi otak dengan cepat yaitu nikotin. Setelah dihirup, nikotin mencapai otak dalam waktu sekitar 10 detik, Nikotin merangsang pelepasan dopamin, salah satu saraf neurotransmitter yang berperan dalam perasaan senang dan reward. Ini menciptakan sensasi euforia dan relaksasi sementara, yang membuat orang ingin merokok lagi.

Nah, masih bersama saya yang bukan seorang perokok, tentu saya pernah mempertanyakan kepada teman perokok saya, apa nikmatnya rokok dan mengajukan ajakan lebih baik berhenti, tetapi tetap saja. Hanya akan berakhir dengan sia- sia jika tidak ada niatan berhenti dari seorang perokoknya sendiri. Letika saya katakan rokok membunuhmu, mereka akan menjawab “Yang merokok mati, yang tidsk merokok juga mati. Jadi, mending merokok sampai datang mati”. Juga ketika saya katakan, ” Kalau uang rokokmu kau tabung, mungkin kamu sudah dapat beli motor baru”

Celakanya,  saya malah mendapat jawaban “kamu tidak merokok, tapi kamu tidak dapat beli motor baru”. Keras kepala memang, tetapi, saya tidak dapat menyalahkan mereka yang sudah kecanduan merokok. Mungkin, ada satu hal yang dapat mereka nikmati dari merokok dan tidak dapat saya nikmati. Mereka sampai pada sebuah tingkatan seseorang dalam mengatasi stress. Setiap orang berbeda beda, mungkin mereka dapat mengobati stress hanya dengan merokok. Hal tersebut benar adanya. Saya pernah melihatnya, saat seorang perokok sedang stress dan buntu terhadap suatu masalah. Mereka akan merokok dan akan mendapat inspirasi dan motivasi kembali sesaat setelahnya, meskipun beberapa saat kemudian mereka akan tetap dipusingkan kembali dengan masalahnya.

Kembali ke pokok permasalahan kita, soal perokok muda di Indonesia. Saya sudah tidak kaget lagi. Saya sudah duluan di kagetkan dengan anak anak di daerah saya. Anak SMP bahkan anak SD, pernah saya lihat ada yang merokok. Miris, sangat disayangkan, mereka merusak tubuh sehat mereka untuk kesenangan tak jelas. Juga sangat disayangkan uang yang mereka buang untuk rokok, karena mereka (anak di bawah umur) belum punya pendapatan pasti.

Entah apa yang membuat mereka menjadi perokok. Apakah karena dorongan dari perasaan kekanak- kanakan mereka yang berpikir dengan merokok, mereka terlihat keren dan dewasa? Apakah pula karena  faktor lingkungan dan pergaulan yang mungkin mereka hidup di lingkungan yang dipenuhi orang orang dewasa yang merokok, sehingga mereka “kalah” akan lingkungan dan pergaulan?  Inikah yang membuat mereka ikut menjadi perokok?

Bila benar, hal itu mungkin dikarenakan kurangnya edukasi kepada anak – anak tentang bahayanya merokok, juga tidak adanya aturan hukum atau aturan yang tegas terhadap perokok, ditambah dengan mudahnya rokok didapat.

Harusnya, ada hukum yang mengatur tentang penjualan rokok, misalnya rokok hanya boleh dibeli oleh orang dewasa berumur 18+, atau dengan disusunnya undang undang yang mengatur batas umur perokok (setahu saya belum ada, CMIIW), bisa dibilang, minimnya penanggulangan untuk menurunkan angka perokok di Indonesia. Padahal, berkaca kepada negara lain, cukup banyak hal yang dapat dicontoh untuk menekan angka perokok, misalnya di Norwegia pajak tinggi diterapkan pada produk tembakau. Sementara subsidi diberikan untuk produk sehat seperti buah dan sayuran. Di Inggris, Pemerintah Inggris meluncurkan aplikasi gratis untuk membantu perokok berhenti dengan panduan harian dan dukungan. Di Filipina saja, Pemerintah memberikan insentif keuangan kepada orang-orang yang berhasil berhenti merokok, misalnya dalam bentuk potongan premi asuransi kesehatan/Singapura memiliki kebijakan ketat dengan larangan merokok di banyak tempat umum seperti taman, halte bus, dan restoran. Di Turki melarang semua bentuk iklan, promosi, dan sponsor yang berkaitan dengan tembakau. Brasil melarang penjualan rokok dengan perasa seperti menthol dan vanila yang biasanya menarik perhatian perokok muda. Jadi ada banyak contoh baik yang bisa direplikasi darı negara-negara lain.

Ya, cukup banyak langkah efektif dari negara lain untuk mengurangi angka perokok, namun, walau terasa akan sangat sulit ditetapkan di Indonesia karena sebagian masyarakatnya sudah sangat melekat akan rokok. Faktanya negara kita Indonesia juga sudah pernah mencoba untuk menanggulangi masalah ini.

Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan berbagai kebijakan, termasuk kenaikan cukai tembakau, perluasan larangan iklan dan promosi produk tembakau, serta penegakan kawasan tanpa rokok. Namun karena kurang maksimal penerapan semua kebijakan itu,  jumlah perokok tidak jua turun. Bayangkan saja dari tahun 2022 ke 2023, prevalensi merokok di Indonesia naik dari 28,26% menjadi 28,62% (berdasarkan data dari who.int).

Tidak bisa dipungkiri rokok sudah menjadi sangat sulit untuk dihilangkan di kalangan masyarakat Indonesia. Belum lagi, yang namanya rokok menyumbang pendapatan besar bagi kas negara melalui cukai. Pada 2023, pendapatan negara dari cukai hasil tembakau mencapai sekitar Rp 213,5 triliun. Ini menjadikan cukai rokok salah satu sumber pendapatan non-minyak terbesar bagi pemerintah kita, juga industri tembakau menyediakan lapangan kerja bagi jutaan orang, mulai dari petani tembakau, buruh pabrik, hingga pedagang kecil. Menghentikan produksi rokok akan berdampak juga terhadap ekonomi lokal dan pengangguran. Kalau begini, masalah rokok, Pemerintah bagai memakan buah simalakama.

M. Rival S

Mahasiswa D3 Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala ( USK) Banda Aceh

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Konjen RI Melbourne, Kuncoro Waseso Baca  Puisi pada Peluncuran Buku Suara Kampus

Konjen RI Melbourne, Kuncoro Waseso Baca Puisi pada Peluncuran Buku Suara Kampus

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00