POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dari Seminar Internasional Yu Dafu, Muncul Keinginan Bangun Museum

RedaksiOleh Redaksi
September 2, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

 

Padang,  Potretonline.com- Tidak dapat dipungkiri, Yu Dafu telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan Tionghoa di Sumatera Barat, terutama di Payakumbuh selama pendudukan militer Jepang. Keterbatasan sumber dokumen tentang jejak kehidupan Yu Dafu di Sumatera Barat dapat ditelusuri melalui studi sejarah lisan, sebagai upaya mengungkap asumsi yang simpang siur mengenai tokoh ini. Konstruksi sejarah kehidupan Yu Dafu di Sumatera Barat akan memperkanya historigrafi sejarah Tionghoa Indonesia dan berdampak positif terhadap hubungan bilateral Tiongkok dengan Indonesia, khususnya Sumatera Barat.
Demikian diungkapkan Dosen Sejarah Universitas Negeri Padang Dr. Erniwati, S.S., M.Hum pada seminar internasional Menelusuri Jejak Yu Dafu di Sumatera Barat, Senin (2/29)2024) di aula Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat jalan Samudra Padang. Seminar dibuka Gubernur Sumatera Barat diwakili Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar Dr. Jefrinal Arifin.

Menurut Erniwati, sejak Mei 1943, Yu Dafu menetap di Payakumbuh dengan nama samaran Zhao Lian. Yu Dafu membuka pabrik penyulingan arak beras Zhaoy pada 1 September 1942 untuk menyamarkan identitasnya. Dalam waktu singkat bisnis minuman arak dari beras meningkat pesat dengan merek “First Love” dan “Taibai” laku keras. Zhao Lian mulai dicurigai sebagai Yu Dafu sejak tahun 1944 ketika seorang agen Tionghoa di Singapura bernama Hong Genpei ditugaskan di Bukittinggi. Hong Genpei berhasil mengidentifikasi “Zhao Lian” sebagai Yu Dafu dan menuduh Yu Dafu menjadi mata-mata.

“Sejak itu Yu Dafu diawasi secara ketat. Pada malam 29 Agustus 1945, ketika Yu Dafu berdiskusi dengan beberapa pengusaha perkebunan Tionghoa, seorang pemuda yang tidak diketahui identitasnya meminta Yu Dafu pergi bersamanya untuk suatu urusan. Orang mengira ia pergi sebentar, ternyata itulah kali terakhir mereka melihat Yu Dafu. Asumsi yang berkembang Yu Dafu dibunuh oleh Kempetai (tentara Jepang) karena ia mengetahui banyak informasi sensitif tentang kekejaman militer Jepang. Asumsi lain adalah Yu Dafu dibunuh karena dicurigai sebagai mata-mata Jepang, kata Erniwati lagi.

Guru Besar Sejarah Universitas Andalas Padang Prof. Gusti Asnan menyebutkan,
kisah hidup Yu Dafu dan pengalaman orang Tionghoa pada masa Jepang jelas akan menambah informasi bagi sejarah Sumatera Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Sudah saatnya dilakukan pengkajian sejarah tentang keberadaan dan peran sejarah orang Tionghoa, yang termasuk ke dalam kelompok ‘orang pinggiran’ dalam sejarah Sumatera Barat ini.

📚 Artikel Terkait

Merdeka Dari Apa, Jika Ruang Kelas Sampai Asrama Masih Mencungkil Martabat Anak?

Koperasi Sebagai Pilihan Badan Hukum Usaha Tambang

ANAK SEBAGAI KORBAN PEDOFIL

Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda

“Ketika Jepang mengetahui identitasnya, Yu Dafu atau Choulion segera dihabisi. Dia dihabisi setelah Jepang kalah. Pengalaman Yu Dafu juga dialami oleh sejumlah orang Tionghoa lainnya di Sumatera Barat. Di beberapa daerah ada penyerangan atau pembunuhan terhadap orang Tionghoa,” kata Gusti Asnan.

Tampil juga pembicara lainnya, mantan Rektor Tarumanegara Prof. Roesdiman Soegiarso, Toako HBT Andreas Sofiandi, Hendri Fauzan, M.Si mewakili Kepala Dinas Pariwisata Sumatera Barat dan sejumlah pembicara lainnya dari Tiongkok dan Malaysia.

Pada pembukaan seminar turut memberikan sambutan Konsul Jenderal RRT di Medan Mr. Zhang Min, Ketua DPD Satupena Sumbar Sastri Bakry, anak Yu Dafu, Yu Meilan, Ketua DMDI Prof. Yusuf Liu.

Sedangkan moderator dalam seminar ini Sekretaris Satupena Sumbar Armaidi Tanjung dan Charlie Gunawan dari HBT. Dibantu translator Tasnim Liu, Malaysia , Yuen Man, Universal Univ Batam dan Rika dari Konsul Jenderal Medan.

Ketua DPD Satu Pena Sumbar Sastri Bakry menyebutkan, Satupena Sumbar sengaja menggelar seminar internasional Menelusuri Jejak Yu Dafu ini karena tokoh penulis terkenal di Tiongkok adalah seorang Pahlawan besar Tiongkok. Karyanya dianggap sebagai membawa sastra modern abad 19. Sedangkan jejaknya ada di Sumatera Barat, walaupun hingga kini masih belum banyak yang bisa dilacak.
“Mudah mudahan dengan seminar ini makin banyak yang bisa diungkapkan tentang Yu Dafu. Apalagi dari seminar ini ada keinginan membangun museum Yu Dafu di Sumatera Barat,, dan sponsor juga ada alhamdulillah. Seminar tidak hanya kata- kata tetapi juga ada eksekusi di bidang pariwisata, cagar budaya, ekonomi dan pendidikan” kata Sastri Bakry usai seminar didampingi Sekretaris Satupena Sumbar Armaidi Tanjung.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Ekonomi Keuangan Syariah Terus Meningkat Dalam 5 Tahun Terakhir

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00