POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Wako Payakumbuh, Suprayitno: Penting Menelusuri Jejak Yu Dafu

RedaksiOleh Redaksi
July 12, 2024
🔊

Dengarkan Artikel

 

Payakumbuh-Potretonline.com- Wako Payakumbuh, Suprayitno, sangat antusias menyambut Prof Yusuf Liu, delegasi the 2nd International Minangkabau Literacy Festival ( IMLF) 2024,  penulis dan peneliti yang sedang menelusuri jejak Yu Dafu, sastrawan China yang lama tinggal di Payakumbuh pada tahun 1942- 1945.

“Merawat sejarah dan menjaga cagar budaya itu penting. Dengan menelusuri jejak Yu Dafu, Penulis China terkenal yang pernah tinggal di Payakumbuh akan memberi dampak wisata dan pertumbuhan ekonomi, jika kita bisa memanfaatkan monumen sejarahnya” Ujar Suprayitno ketika menerima Tim Yu Dafu di kantor walikota Payakumbuh kemarin, tgl 11 Juli 2024.

Dalam perbincangan itu muncul gagasan membuat museum Yu Dafu untuk menarik wisatawan terutama dari China mengingat Yu Dafu adalah tokoh besar di China yang dikenal sebagai pahlawan di China. Dalam monumen Yu Dafu di China tercatat kota Payakumbuh sebagai salah satu tempat perjuangannya hingga terbunuh oleh Jepang karena tulisannya yang mengkritik invasi Jepang ke Sumatera.

Pada tahun 1927, ia bekerja sebagai editor majalah sastra Hongshui. Ia kemudian berkonflik dengan Partai Komunis Cina dan melarikan diri lagi ke Jepang.
Setelah perang Jepang-Cina II berakhir, ia kembali ke Cina dan bekerja sebagai penulis propaganda anti-Jepang di Hangzhou, kemudian di Zhejiang. Dari tahun 1938-1942, ia bekerja sebagai editor sastra untuk surat kabar Sin Chew Jit Poh di Singapura.

Pada tahun 1942 ketika Tentara Kekaisaran Jepang menginvasi Singapura, ia terpaksa melarikan diri ke Indonesia, tepatnya ke Payakumbuh, Sumatera Barat. Di Payakumbuh, ia tinggal di antara orang Cina lainnya dengan identitas yang berbeda dan memulai bisnis minuman alkohol dan lemonade. Ketika diketahui bahwa ia satu-satunya penduduk yang bisa berbahasa Jepang, ia dipaksa membantu polisi militer Jepang sebagai penerjemah.

📚 Artikel Terkait

Guru

Membaca Sebagai Lifestyle

Disdik Pidie Jaya Kembali Melatih 160 Pelajar Menulis Cerita dan Puisi

DEMOKRASI DI TITIK NADIR

Masyarakat Payakumbuh mengenal Yu Dafu dengan nama Choulion. Ia dikenal ramah dan suka menolong. Selama bekerja dengan Jepang, Yu Dafu sering membantu masyarakat Payakumbuh, terutama keturunan Thionghoa. Ia sengaja menyalah-nyalahkan terjemahan bahasa agar masyarakat Payakumbuh tidak ditekan, diancam dan dianiaya oleh tentara jepang.

Di Payakumbuh, Yu Dafu memiliki seorang istri dan dua orang anak yang bernama Theha dan Yu Meilan. Sebelum menikah, Yu Dafu tinggal bersama orang tua angkatnya (Che Chua Chen Song dan Upik Bonne) di Sumbar Optikal dekat pasar Payakumbuh. Setelah berkeluarga, Yu Dafu pindah ke rumah di sebelahnya.

Setelah menemukan jejak Yu Dafu di Payakumbuh telah muncul kesepahaman tentang pembangunan museum Yu Dafu. Namun sebagai langkah awal tim yang terdiri Prof Yusuf Liu, Sastri Bakry dan Qaula Harisya Gumay akan mempertajam data jejak Yu Dafu sebagai orientasi awal dan untuk pembangunan museum melalui sejarah Yu Dafu.

Setelah itu Prof Yusuf Liu diajak walikota Payakumbuh untuk melihat tanah dan bangunan heritage yang rencananya akan dikolaborasikan dengan desain dan mengisi museum serta mengajak para turis China untuk datang ke museum

Sastri Bakry, ketua SatuPena Sumbar ikut mendukung pemko Payakumbuh yang menghargai sejarah Penulis Yu Dafu dengan menyelenggarakan seminar awal di Payakumbuh untuknmemperkenalkan Yu Dafu terlebih dahulu.

” Seminar ini penting untuk mengkaji sejarah serta apa manfaatnya bagi pariwisata Sumbar khususnya Payakumbuh, apalagi Yu Dafu seorang penulis dan cerpenis terkenal. Satu Pena Sumbar sangat peduli dengan dunia literasi. Salah satu karya Yu Dafu yang sangat terkenal berjudul Tenggelam” Tambah Sastri Bakry.

Hadir dalam perbincangan tersebut adalah walikota Payakumbuh , Suprayitno, Staf Ahli Kemenparekraf, Fadjar Utomo, Delegasi The 2nd IMLF- Researcher of Yu Dafu: Prof Yusuf Liu, Ketua SatuPena Sumbar Sastri Bakry, Asisten Satu pemerintahan dan kesejahteraan rakyat, Dasrul Pasi, Asisten Administrasi Umum, Ifon Satria Chan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Diary Luka

Diary Luka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00