• Latest

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Mei 31, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 18

Redaksiby Redaksi
Mei 31, 2024
Reading Time: 4 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

 

​Seperti tak terasa waktu berjalan. Tiba-tiba aku merasa menjadi warga kota yang seakan-akan sudah melupakan kehidupan orang kampung. Setiap hari aku sibuk dengan pekerjaan di rumah dan sekolah. Hampir tak ada waktu santai sedikit pun, kecuali hari Minggu. Itu pun kalau tidak pergi ke kebun. Biasanya sore Sabtu Abang Ipar mengajakku ke kebun di Lamtamot Aceh Besar. Kebun yang jaraknya lebih enampuluh kilometer itu kami tempuh dua jam lebih. Dengan mengendarai mobil Jeeb Taf Daihatsu tahun 78 itu, perjalanan tidak mengalami hambatan apapun meskipun kadang-kadang dimusim hujan jalan becek bukan main. Maklum, waktu itu jalan menuju ke kebun di wilayah Panca, Lamtamot, Kecamatan Seulimumbelum beraspal. Malam Minggu kami menginap di pondok kebun, di kaki gunung Seulawah yang dingin dan asri. Pagi-pagi sehabis subuh kami mulai berkerja di kebun. Kakakku mendapat tugas memasak, sedangkan aku dan abang Ipar membersih-bersihkan rumput, mengcangkul, menanam bermacam tanaman, dan lain sebagainya. Sore Minggu sehabis Asar kami kembali ke rumah. Biasanya kami sampai di rumah bertepatan dengan azan magrib berkumandang di masjid.

​Kecuali ke kebun, hari Minggu Abang Ipar dan aku sering juga memanfaatkan waktu libur memancing ke laut. Biasanya kami berangkat sehabis salat subuh. Untuk persiapan memancing, Sore Sabtu kami ke neuheun (kolam) di Ulee Lheu membeli udang yang masih hidup langsung dari pemilik neuheun. Udang itu disimpan sepanjang malam dalam timba khusus agar tidak mati. Saat kami memancing esok paginya dipastikan udang itu masih hidup dan segar. Abang sering mengajak satu atau dua orang teman sekantornya memancing. Kami sering memancing ke Lhokseudu atau ke Krueng Raya. Sekali-kali kami juga memancing ke Ulee Lheu atau Lambadamenggunakan bot pancing yang disewa dari nelayan.

​Ikan yang sering kami dapat adalah ikan Rambeu, Kerapu, Merah Mata, atau ikan-ikan karang lainnya. Ini tergantung lokasi tempat kami memancing. Jika kami pergi jauh ke tengah laut maka ikan yang kami dapat biasanya ikan-ikan besar, tapi jika tidak jauh dari pantai ikannya kecil-kecil. Kalau lagi tak beruntung, sering juga kami tak mendapatkan apa-apa, pulang dengan tangan kosong. Tapi jika kami tak mendapatkan ikan pancingan, Abang mengajak aku ke Pasar Peunayong terlebih dahulu sebulum pulang. Di pasar ikan Peunayong Abang membeli ikan-ikan segar untuk dibawa pulang. Hal ini kami lakukan agar tidak ada ‘protes’ dari Kakak sesampai di rumah. Sebab, jika tidak membawa pulang ikan biasanya Kakak ‘ngomel-ngomel’ sama abang dan aku.

​Di samping hobi memancing, Abang juga hobi menjala udang. Hampir tiap sore sehabis salat asar kami sering ke neuheun di Ulee Lheu, Lampaseh, atau di Lampriet (sekitar kantor gubenrnur sekarang). Dulu neuheun-neuheun di sekitar Banda Aceh kebanyakan belum ada yang punya. Jadi masyarakat bebas mencari udang di sana dengan menjala. Malam hari, di sepanjang neuheun kelihatan kelap-kelip ‘culot’ atau pelita yang dibuat khusus dari botol limun atau botol strop cap patung. Kami sengaja datang sebelum magrib dan memasang culot di sana agar tempat menjala itu tidak ditempati oleh orang lain. Sementara untuk salat magrib kami membawa peralatan salat seperti sajadah dan kain sarung dari rumah. Pulang kadang-kadang sudah pukul sepuluh malam, bahkan bisa lebih larut lagi. Yang pasti kami akan pulang jika hasilnya sudah lumayan banyak. Udang yang didapat adalah udang galah, yang bentuknya agak memanjang dan besar-besar. Karena Abang memiliki hobi menjala tak kecandrungan, aku hampir tak dapat jatah untuk menjala, tugasku hanya dapat pekerjaan memungut udang dari jaring-jaring jala. Hanya kadang-kadang aku dapat bagian melempar jala, itu pun kalau Abang lagi istirahat dan melepas lelah. Terkadang udang yang kami dapat kami manfaatkan untuk persiapan mancing di hari Minggu. Itu jika kami pergi menjala di sore Sabtu.

​Begitulah keseharian yang kujalani hidup menumpang bersama Kakak sekaligus Abang sepupuku itu. Seingatku, sejak saat aku menjadi anggota keluarga di Jalan Krueng Peusangan Nomor dua Geucue Komplek itu, aku tak pernah bangun pagi setelah azan subuh, kecuali jika dalam keadaan badan kurang sehat. Saat suara pengajian dari menara meunasah di sudut jalan kompleks taman siswa itu bergema, aku sudah bangun dari pembaringan dan bergegas ke meunasah. Jika sudah sampai waktu, tiba di meunasah aku langsung mengumandangkan azan. Lalu salat subuh bersama-sama dengan warga jamaah subuh yang rata-rata sudah berkepala lima. Hanya beberapa orang anak muda saja yang sering salat subuh di musalla ini. Salah satu di antaranya adalah aku.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
IMG_0523

Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa

Maret 28, 2026

(bersambung)  

​  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

PROSES KREATIF MENULIS NOVEL

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com