POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Kisah Hidup

Perjalanan untuk Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri.

Redaksi by Redaksi
Desember 16, 2023
in Kisah Hidup, Kisah Nyata, Pendidikan
0
Perjalanan untuk Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. - 48abb01b 0076 4e84 b1f4 b7e652c2e7f5 | Kisah Hidup | Potret Online

Oleh Yurisa

Berdomisili di Aceh Timur

Berjuang untuk bisa kuliah sangatlah tidak mudah. Tahun 2014 menjadi tahun kelulusan di Sekolah Menengah Atas.

Baca Juga
  • Perjalanan untuk Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. - D7E69BD0 48FD 4F6A 98EB C84451B4A420 | Kisah Hidup | Potret Online
    Aceh
    Ketua IPGKhI Provinsi Aceh Lantik Pengurus IPGKhI Cabang 3 di Pidie
    02 Okt 2022
  • 02
    Analisis
    Korupsi, Pendidikan, dan Jejak
    24 Jun 2024

Banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi Ujian Nasional dan pemilihan untuk  masuk Universitas yang diinginkan.

Jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk  Perguruan Tinggi Negeri) menjadi  tahap awal untuk mendaftar masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan.

Baca Juga
  • 01
    Abdya
    Guru Penggerak Abdya Berhasil Menulis Buku.
    11 Jul 2024
  • 02
    Anak
    Bedah Buku Menggugat Ibu, Sajikan Banyak Momen Reflektif dan Pembelajaran
    28 Jul 2024

Guru-guru, kerap kali memberi  motivasi untuk kami agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Akan tetapi ada hal  yang menyiutkan nyali untuk mendaftar di Perguruan Tinggi Negeri. Dana kuliah yang tidak sedikit menjadi pertimbangan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.

Baca Juga
  • 01
    Essay
    Pendidikan dan Middle Income Trap
    30 Nov 2021
  • Perjalanan untuk Mengenyam Pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri. - 4fed973d 6aae 4166 ab0c f5828c5c09a1 | Kisah Hidup | Potret Online
    Artikel
    Rumah dan Ibu, Akar Kebahagiaan
    26 Jan 2025

Beruntung sekali ada program beasiswa Bidikmisi untuk para siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku sangat berminat dan ikut berpartisipasi dalam program itu. Mendaftar SNMPTN dengan status beasiswa Bidikmisi agar bisa masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Tapi, harapan itu sirna, aku tidak lolos jalur SNMPTN dan harus mengikuti SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan hasilnya pun sama, aku tidak lolos.

Hampir menyerah dengan kegagalan yang dialami, akan tetapi ada satu tahap lagi untuk bisa menggapai mimpi agar bisa melanjutkan ke perguruan tinggi negeri.

Aku mengikuti jalur seleksi Mandiri. Sesuai dengan nama jalurnya. Aku harus mandiri untuk bisa daftar di seleksi tersebut.

Di tahun 2014 belum ada smartphone yang bisa membantu untuk mempermudah pendaftaran. Aku harus pergi ke warnet agar bisa mendaftar secara online. Warnet selalu penuh dengan kumpulan laki-laki. Tak jarang kami harus rela antre agar bisa mendapatkan giliran. Setelah mendaftar dengan segala keruwetannya. Akupun berhasil mendaftar jalur seleksi mandiri.

Tidak sampai di situ, aku harus pergi ke Kabupaten Idi untuk membayar pendaftaran jalur mandiri. Kami harus  mendatangi Bank untuk proses pembayaran. Waktu itu, jalan dari Desaku ke Kabupaten Idi tergolong sulit untuk dilewati. Badanku yang tidak begitu besar harus berboncengan dengan Ibuku untuk sampai tujuan yang diinginkan.Tentu aku merasa kesulitan. Jalanan berbatu, berlubang, berbukit,  tikungan yang tajam, dan jalanan yang licin akibat hujan menjadikan sepeda motor yang kami kendarai hampir mencium badan jalan. Waktu itu belum ada perbaikan jalan, maka dari itu perjuangan untuk membayar pendaftaran masuk kuliahpun terasa berat  untuk dilakukan.

Perkenalkan aku Yurisa yang tinggal di Desa Perkebunan Julok Rayeuk Utara. Desa yang ditumbuhi banyak pohon sawit karena kami tinggal di lingkungan perkebunan. Desa ini termasuk pedalaman, yang fasilitasnya masih banyak yang harus diperhatikan.

Tinggal di Desa yang jauh dari atmosfer perkotaan tak menyurutkan kami untuk bisa kuliah di kota. Kami yakin mengenyam pendidikan yang tinggi tidak hanya  untuk sekumpulan orang yang memiliki uang dan seseorang yang bertempat tinggal di perkotaan. Kami juga bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Peluang beasiswa jadi penyemangat kami agar menjadi insan yang memiliki wawasan yang luas, cara pikir yang matang, dan dapat berkontribusi untuk negara. Setiap  kita mempunyai peluang yang sama. Tekat yang kuat, doa dari orang tua menjadi senjata untuk bisa mempermudah segala prosesnya.

Aku sudah mengalami itu, dan sangat bersyukur bisa mengenyam pendidikan kuliah melalui jalur  mandiri. Meskipun diawal kuliah merasa terbebani dengan uang kuliah. Akhirnya, di semester dua aku mendapatkan beasiswa Bidikmisi di kampusku. Sebelum mendapatkan beasiswa itu, aku selalu mencari informasi beasiswa yang bisa aku dapat agar meringankan beban orang tua. Dan sangat bersyukur Universitas Malikussaleh tempat aku berkuliah menjadi salah satu perguruan tinggi negeri yang paling banyak menampung program beasiswa Bidikmisi.

Terus semangat buat semua pejuang pendidikan. Tetap berjalan di kala banyak ombak yang datang. Ada suatu hari kita akan merasakan ketenangan dan kekuatan untuk semua kesulitan yang datang.

 

Previous Post

Secangkir Kopi

Next Post

Diundang ke Istana Gubernur, Ini Pemenang LMSI SatuPena Sumbar

Next Post

Diundang ke Istana Gubernur, Ini Pemenang LMSI SatuPena Sumbar

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah