POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Ratapan Anak Pinggir Sungai

RedaksiOleh Redaksi
June 7, 2023
Ratapan Anak Pinggir Sungai
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Munawir Abdullah

HUJAN sudah mulai turun, pertanda kemarau telah meninggalkan kampungku. Tubuhku yang kedinginan, telah kubaluti dengan kain sarung semalam. Aku duduk bersila kaki di depan pintu, sambil manatap ke langit. Hujan semakin deras, kedinginan semakin merasuki tubuhku. Aku masih duduk di depan pintu, badan terasa malas untuk aku gerakkan.

Adzan pun berkumandang, pertanda malam telah siap menemaniku. Aku bergegas mengambil payung untuk pergi ke Meunasah (surau). Lalu aku angkatkan kain sarung setengah lutut, agar tidak kebasahan percikan hujan. Kedinginan magrib itu, tidak mengurangi shaf shalat di Meunasah kampungku.

“Wir, nampaknya kita sudah tidak tidur malam ini”, belum sempat aku jawab sapaan dia, suara iqamahtelah berbunyi. Aku hanya sempat menganggung, sambil tersenyum padanya. Sebenarnya, aku sudah tahu maksud perkaataan itu. Tetapi karena berbarengan dengan suara iqamah, aku tidak langsung menanggapinya, hanya membalas dengan seyuman sambil mengangguk-angguk. Magrib itu, aku dan dia shalat berjamaah di Meunasah seperti biasa.

Kegelisahan orang kampungku hanya dua. Di saat kemarau, gagal panen. Di saat hujan, banjir tiba. “Ia War, begadang lagi kita” aku menyambung kembali percakapan yang semput terputus suara Iqamah tadi. Penjang lebar aku berbicara dengan Anwar setelah selesai shalat berjamaah.

Poin yang aku tangkap dari percakapan itu, Pak Geusyik (Kepala Desa) telah menyampaikan keluh kesah warga sama Pak Amir. Selaku camat di Kecamatanku. Akar persoalannya tentang predatorperusak bumi, yang didirikan di samping Kulam Cet Tambi itu. Kebutulan, Anwar ikut dengan Pak Geusyik tadi saing waktu berjumpa dengan Camat.

“Wir, Pak Amir tidak bisa berbuat apa-apa. Itu semua kewenangannya di tingkat Kabupaten”. Aku menghelakan nafas dalam-dalam saat mendengar ucapan Anwar. Hasil pertemuan Pak Geusyik dengan Camat belum membuahkan hasil.

Secara hirarki, Pak Camat tidak mungkin melewan atasannya di Kabupaten. Aku dan Anwar sangat paham tentang itu. Makanya dalam pertemuan itu, Anwar hanya diam saja.

Setiba di rumah, aku kembali termenung. Menghayati kembali percakapanku dengan Anwar di Meunasah tadi. “Memanglah dia itu, sudah diajarkan huruf dan angka oleh mamakku, masih juga menyusahkan orang kampungku”. Dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas kemurkaan Kulam Cet Tambi. Setelah predator itu dia berikan izin untuk mengeruk isi bumi.

“Mohon perhatian kepada semua penduduk Gampong Cet Tambi, hujan semakin deras, air sungai sudah meulai meluap, mohon semua perabotan rumah tangga untuk dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi” suara Apa Man itu terdengar sengat jelas di telingaku melalui pengeras suara Meunasah.

📚 Artikel Terkait

Jamu Komunitas LRCI, Aminullah: Jadilah Duta Wisata Banda Aceh

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Sepuluh Tahun Lalu- – Tabrani Yunis

Kota Kata

Begitu aku turun ke bawah, Ayah dan Mamak sudah sibuk mengangkat barang rumah ke tempat yang lebih tinggi. Rupanya Ayah sudah duluan tahu, selesai shalat magrib tadi, ayah tidak langsung pulang ke rumah. Ayah masih duduk di Meunasah sambil berbincang-bincang dengan warga. Mereka juga mengamati perkembangan air sungai, yang terletak pas di pinggir Meunasah.

Suara Apa Man tadi melalui pengeras suara, rupanya atas kesepakatan Ayah bersama warga untuk di umumkan kepada warga.

“Cepat kamu turun ke bawah, bantu angkat ini, biar tidak di bawa air nanti” pinta mamak dengan suara yang tinggi. Aku langsung turun, sambil mengamati gerak langkah mamak yang super panik itu. Dari cara gerekkannya, seakan-akan luapan air sudah memenuhi seisi rumahku.

Ayah juga ikut membantu mamak, tapi ayah lebih tenang dalam menghadapi agenda rutinitas kiriman alam ini.

Setelah semua perabotan itu kami angkat ke atas. Kami beristirahat di pekat malam yang penuh was-was itu. Repetan mamak di depan lilin, sekali-kali terdengar. Sudah menjadi hal yang lumrah di kampungku. Pemadaman listrik berbarengan dengan datangnya kemurkaan dari Kulam Cet Tambi. Repatan mamak itu, terkadang membuat Aku senyam-senyum di dalam hati.

***

Keesokan harinya, aku langsung menjumpai Anwar. “War, kampung kita tidak mungkin selalu begini, masak di saat musim hujan dan kemarau sama-sama membawa petaka. Apakah seburuk ini kampung kita? Aku yakin tidak”

Aku berusaha menyampaikan keluhanku pada Anwar. “Apa yang harus kita lakukan, Pak Amir saja sudah angkat tangan” timpa Anwar atas keluhanku. Semua warga kampungku sepakat, petaka itu merupakan oleh-oleh dari predator perusak bumi, yang berdiri di samping Kulam Cet Tambi itu.

“Kita harus menjumpai Bupati, pabrik itu harus keluar dari kampung kita” aku berusaha untuk menyakinkan Anwar. “Mana mungkin kita jumpai dia, agendanya sudah sangat padat, tidak sempat dia menjumpai kita”.

“Jangan pesimis kau War, kita coba aja dulu, siapa tahu dia berbaik hati untuk menjumpai kita” aku berusaha untuk menyakinkan Anwar.

Setelah panjang lebar aku berdebat dengan Anwar, akhirnya dia sepakat untuk menjumpai Bupati.

“Ok, kita besok akan menjumpai Bupati, mudah-mudahan dia bersedia untuk menemui kita” kata Anwar dengan penuh semangat.

Aku merasa senang karena Anwar sudah bersedia menemaniku untuk menjumpai penguasa di kampungku. Sambil pulang aku berguman dalam hati. “Mudah-mudahan pertemuan besok, Bupati bersedia untuk memindahkan predator itu ke lokasi lain, yang tidak merusak bentang alam”

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Menyelami Kehidupan Bangkok

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00