POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Mereka Yang Syahid

Redaksi by Redaksi
Desember 1, 2022
in Puisi Essay
0
Mereka Yang Syahid - 3D8AA6E4 677F 4808 A8FC 56F083902C82 | Puisi Essay | Potret Online

Usfa Sri Rezeki

 

Malam begitu pekat

Mereka Yang Syahid - 4c2eba17 0085 43cb 906e 0fd130bcecc8 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Tadarus di Bawah Cahaya Lampu Masjid
04 Mar 2025

terasa amat penat

Tak biasanya…

Mereka Yang Syahid - 1000463992_11zon | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Merayakan Hari Buruh Dengan PHK Massal
01 Mei 2025

Seakan semuanya makhluk diam

Tak berani bersuara

Mereka Yang Syahid - 94b60796 d087 433d 9cd5 92637384fc71 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
23 Jan 2025

Jangkrik seakan bersembunyi

Kodok pun seakan tidur pulas

 

Irma terjaga dalam diam

Diresapinya suasana malam

berdiri dia melangkah ke jendela

Lalu disibakkan kain gorden dengan perlahan

Menatap sebuah rumah

Di tempat dulu mereka bersenda dan bersuka ria

Ntah mengapa hatinya galau

Pikiran pun kacau

Ntah senang ntah nestapa

Namun perasaan itu terus menggoda

 

Pagi itu Irma dan anak-anaknya ingin ke pantai. Dibangunkan anak-anaknya yang masih pulas. Namun mereka tak beranjak jua. Irma terus saja membangunkan mereka. Tiba-tiba goncangan itu mengejutkannya. Semakin keras dan semakin keras goncangan itu

Tak sadar keluar kata “gempa”.

Dengan sigap ditarik kedua anaknya dan berlari keluar

*https://www.kompas.com/sains/read/2022/01/18/123000323/penjelasan-ilmiah-mengapa-gempa-dapat-mengakibatkan-tsunami

 

Goncangan demi goncangan semakin terasa, seakan merobohkan isi dunia.

Kata-kata “lailahailallah” pun terucap keras dan terdengar jelas. Pucat pasi di wajahnya.

Berpikir akan kah kiamat dunia?

 

Goncangan magnitudo 9,3 skala Richter, telah mengakibatkan tsunami yang menyebabkan banyaknya korban jiwa.

Perasaan cemasku pun mengisi jiwa-jiwa.

*https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_dan_tsunami_Samudra_Hindia_2004

 

Berapa saat setelah itu, entah apa terjadi di luar sana, namun banyak orang hiruk pikuk berteriak

Lari… Larii… Lariii…

Itulah kata yang terdengar di saat itu

 

Ternyata air laut melimpah ke darat

Tak masuk akal sehat

Tapi ini benar adanya

Air menggulung jutaan manusia

Rumah, toko, pepohonan semua hancur tak tersisa

Air bena telah tiba

Duka nestapa pun membelenggu jiwa

*https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/12/15/deretan-bencana-tsunami-terbesar-yang-menelan-ribuan-korban-meninggal-di-indonesia#:~:text=Badan%20Meteorologi%20Klimatologi%20dan%20Geofisika,itu%20disebut%20mencapai%20227.898%20jiwa

 

Beberapa jam setelah itu

Irma pun mengingat ibu

Ibunya yang berjualan nasi di setiap pagi

Sampai saat ini belum kembali

Irma pun pergi ke tempat jualan ibunya

Dan terpana tanpa suara

Menyaksikan suasana di sana

Semuanya telah rata

Bumi berselimutkan sampah dan puing-puing di mana-mana

Hanya air mata yang mengalir

Tanpa bisa berbuat apa-apa

Ibu… Ibuu… Ibuuu….

Hatinya menjerit

Di manakah ibu?

Ibu… Ibuu… Ibuuu…

Semoga Allah melindungi mu

 

Irma pun terpaku diam membisu

Pikiran pun tak menentu

Hati terasa disayat sembilu

Memikirkan dimana gerangan ibu

 

Malam pun tiba

Berbalut kerudung putih, menangis bersimbah air mata

Qitabullah masih terdekap di dadanya

Sebagai saksi kepedihan hati yang luka

 

Oh Tuhan…

Kemanakah ibu…

Masih adakah dia…

Masihkah engkau menyelamatkan jiwanya

Dari terjangan air laut yang mengganaskan

 

Begitu hebat guncangan itu

Hingga meluluh lantakkan bumi Aceh tercinta

Tak terhitung korban jiwa4

Tak terhitung korban harta

Hanya dalam waktu 30 menit

Sapuan air itu menenggelamkan sebahagian bumi Aceh

Duka Aceh menjadi dukanya dunia

Mereka menangis

Mereka berduka

Seakan diri mereka pun menjadi mangsa

Dari luapan air laut semata

*https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/12/15/deretan-bencana-tsunami-terbesar-yang-menelan-ribuan-korban-meninggal-di-indonesia#:~:text=Badan%20Meteorologi%20Klimatologi%20dan%20Geofisika,itu%20disebut%20mencapai%20227.898%20jiwa

 

Isak tangis pun semakin menyayat

Hati pun terasa tersayat-sayat

Tuhan…

“Apakah ibu ku telah pergi dalam diam?”

Gumamnya

Tak ada berita semuanya diam

Jiwanya terasa semakin kelam

Seiring lampu-lampu di saat itu padam

 

Malam pun semakin larut

Membuat hatinya yang kian bergelut

Dengan rasa-rasa yang kelam bagaikan kabut

Gelap… Gelapp… Gelappp…

Bagaikan mata hari terbalut kabut

Begitu dahsyatnya air itu hanya 100 m/detik saja

Mampu mengubah segalanya

Kepedihan kini menyelimuti raga

Duka nestapa pun semakin terasa

Perih, pedih, dan pilu amat dirasa

Melepas perginya ibunda tercinta

Semoga bahagia di alam sana

Doa selalu dari anak-anak tercinta

Berharap semua syahid sebagai syuhada

 

https://news.detik.com/berita/d-5870910/tragedi-tsunami-aceh-17-tahun-lalu-gempa-dahsyat-diikuti-terjangan-tsunami

Tsunami Aceh bermula dari gempa magnitudo 9,3 yang terjadi sekitar pukul 07.59 WIB pada Minggu (26/12/2004).

Gempa dirasakan selama 10 menit dan berpusat di Samudra Hindia pada kedalaman sekitar 10 kilometer di dasar laut.

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Mereka Yang Syahid - A1F960E3 FEA2 4E63 B0AA 272206EE800D | Puisi Essay | Potret Online

SEMUA MENURUT PERINTAH-MU

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah