POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pesan Yang Diabaikan

RedaksiOleh Redaksi
September 1, 2022
Irama Ruang Waktu
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Akbar Priadi Sadikin

Hah … helaan nafas yang menandakan rasa lelah keluar dengan sendirinya, sampai terdengar oleh telinga ini. Orang-orang melirikku, yang duduk di kursi taman ditemani perasaan gelap tidak mendasar memecahkan suasana malam di bawah lampu jalanan.. Tatapan itu seakan mengatakan “Kenapa dengan dia?”

“Apa kau mendapat masalah, paman?” Seorang anak perempuan berkuncir kuda yang entah datang dari mana berdiri di hadapanku.

“Aku tidak memiliki apa-apa, jadi pergilah,” pintaku.

“Paman tidak boleh seperti itu, nanti akan ada orang yang marah jika tidak mau menceritakan masalah paman,” ujarnya.

Aku menatapnya, sayu. “Siapa namamu?”

“Tasya.”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.

“Tadinya Tasya bersama ibu, tapi tiba-tiba ibu menghilang.”

“Hmm … Jadi, apa maksudmu aku akan dimarahi?” tanyaku.

Dia bergerak, duduk di sampingku, dan tersenyum menatapku. “Tasya dulu pernah tidak pergi ke sekolah karena teman-teman selalu mengejek Tasya, tapi tidak menceritakannya kepada siapapun sampai ibu marah. Tasya takut melihat ibu marah, jadi sambil nangis Tasya menceritakannya.

Setelah itu saat pergi ke sekolah, teman yang mengejek Tasya meminta maaf. Jadi Tasya berpikir kalau menceritakannya kepada orang lain masalahnya akan selesai. Jadi paman juga harus menceritakannya.”

Begitu, ya. Mau bagaimanapun dia masih anak kecil, mungkin masih seukuran anak SD, jadi tidak tahu bagaimana logika dunia berjalan. Aku akan bersyukur jika masih ada orang yang mau membantu menyelesaikan masalah yang kualami, tapi percuma.

Aku berdiri, melihat sekeliling mencari pos polisi agar bisa mengantarkan anak ini. Akan terlihat tidak manusiawi jika hanya meninggalkannya begitu saja.

“Tasya!” Seorang wanita berjalan cepat menghampiri gadis di sampingku.

“Ibu ….” ucap gadis kecil itu.  

Ia mendekati kami membawa tas belanja di tangannya. Segera ia menundukkan kepala ke arahku. “Maaf jika dia merepotkanmu, perhatiannya sangat mudah teralihkan.”

“Tidak apa-apa, kau juga jangan mudah mengalihkan pandangan dari putrimu.”

Ia menundukkan kepala sekali lagi dan menarik lengan putrinya. “Ayo, Tasya.”

📚 Artikel Terkait

Oh, Kutulis Laut Meulaboh

Nuansa Kasih yang Terjerat

Konsep Birul Walidain di Era Digital

Pohon Jeju dan Tebang Pilih Kemarahan – Ulasan

“Paman, jangan lupa menceritakannya kepada orang lain, ya. Ingat paman, tuhan punya rencana terbaik untuk semua orang.” lambaian tangannya semakin menjauh dariku. Aku hanya bisa tersenyum sejenak untuk membalasnya. Sepertinya sudah saatnya untuk pulang, tidak ada gunanya jika terus berada di sini.

Sampainya di apartemen, aku langsung menghempaskan tubuh ini ke atas kasur.

Ting … suara itu membangunkanku, mengganggu waktu istirahat yang sudah kurencanakan.  Kubangkit dari tidur, melihat smartphone yang berbunyi tadi. Sebuah pesan formal masuk. “Panggilan Seleksi/Wawancara Kerja.” Itu kata-kata yang sangat indah tertulis di layar smartphone. Aku melanjutkan tidur kembali, dan mulai membayangkan kehidupan kerjaku jika interview kali ini berhasil.

Hari baru sudah dimulai. Saat matahari pagi bersinar, aku berada di dalam ruangan ber-AC, dengan diiringi suara kertas yang dibolak-balik serta nada jarum jam yang terus bergerak, membuat jantung berdetak keras. Aku pastikan hari ini akan berhasil. Dengan semangat aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan, sampai akhirnya ….

“Terima kasih.” Aku menundukkan kepala dan keluar dari ruangan karena interview sudah berakhir. Melangkah semakin jauh meninggalkan tempat interview dengan terus menundukkan kepala, melewati orang-orang yang berlawanan arah, dan sampai di salah satu lampu merah. Kata-kata mereka terus berputar di kepalaku, memunculkan kekecewaan yang sangat besar. Dengan mudahnya mereka berkata, “Mohon maaf, sepertinya kamu tidak dapat bekerja di perusahaan ini, karena sepertinya kamu masih kekurangan pengalaman. Kami juga mendapat informasi kalau kamu sudah ditolak 3 kali di perusahaan yang berbeda, apalagi perusahaan yang menolak kamu itu perusahaan kecil.”

Sial dengan ini sudah empat kali lamaranku ditolak, lagi dan lagi. Perasaan ini muncul kembali, rasa bersalah akan kurangnya kemampuan, hingga ditolak dalam lamaran kerja. Apanya yang “tuhan punya rencana terbaik,” Aku ingin mengakhiri semuanya.

Kulihat lampu lalu lintas yang masih berwarna merah untuk pejalan kaki. Mungkin sampai di sini saja, pikirku.

Perlahan Melangkah ke zona merah mencoba menghentikan semua sandiwara, karena berat rasanya terus melanjutkan kehidupan yang terlihat sia-sia. Tapi tarikan lembut terasa menyentuh, membuat kaki berhenti melanjutkan langkahnya. Seorang gadis kecil menarik bajuku dengan sekuat tenaga.

“Apa yang kau lakukan, paman! Lampunya masih merah tadi.” Mulut kecilnya habis-habisan memarahiku yang duduk di kursi taman, dekat tempat kejadian.

Aku sudah kehilangan arah, bahkan wajah ini menghadap ke bawah, tidak berani menatapnya yang sedang bertanya. Mulutku kering tidak bisa mengolah kata-kata. Di suasana senja dia terus berbicara kepada diriku yang duduk mematung.

“Tasya!” panggil seseorang.

“Kakak ….” Gadis kecil yang terus mengomel tadi, kini menghampiri kenalannya.

Mata yang lelah menatap mereka berdua, membuatku semakin terjerumus dalam lubang keirian. Sebagai anak kecil, mereka pasti hidup dengan mudah, tanpa beban pikiran akan masalah besar yang sangat menyiksa.

Tidak lama dia menyadari apa yang barusan terjadi dari bisikan adiknya.

“Apa benar yang dikatakan adikku, paman? Kau mencoba bunuh diri!”

Melihatku tak menjawab, dia mengambil dokumen yang kuletakkan di samping, dan melihat semua lembaran kegagalan.

Duduk, memangku tasnya, dan menatap langit oranye. “Begitu, ya. Aku sudah mengerti masalahmu, paman.”

Aku tersenyum tipis. “Pasti lucu ya melihat orang yang sudah ditolak berkali-kali.” ucapku.

“Apa kau tau paman, kegagalan itu bukan suatu kegagalan, melainkan keberhasilan yang tertunda, karena kau akan mendapatkan sebuah pengalaman dari sana,” ucapnya.

“Tidak, walaupun aku sudah mencoba sebaik mungkin, mereka tidak peduli. Kali ini aku tidak berhasil karena kegagalanku di masa lalu. Semua pengalaman yang sudah kulewati  terlihat menyedihkan di mata mereka.”

Berdiri dan mengenakan tasnya kembali. “Paman, sudah mulai gelap. Besok aku akan menunggumu di sini, jadi datanglah. Tenangkan dulu dirimu, dan ingat! jangan mencoba bunuh diri lagi. Aku akan membawa dokumen ini.” Dia pergi, merangkul tangan adiknya.

Aku juga melangkah dengan berat menuju tempat peristirahatan.

Menatap suasana kota dari balkon apartemen, memperhatikan berbagai macam suasana kota. Senang, sedih, marah, dan adapun yang sepertiku. Perasaan yang berada di jurang kekecewaan menjadi hampa. Aku tersenyum dan menghela nafas lega.

Dengan bebas aku menyerahkan diri memasuki Area tanpa pijakan, mencoba membebaskan diri dari masalah.

“Aku senang ada yang sedikit peduli padaku. Tapi maaf, aku tidak akan datang untuk menemuimu.”

Biodata Penulis

Akbar Priadi Sadikin, Lahir di Medan, 3 Februari 2005. Saat ini, penulis berdomisili di Aceh timur tepatnya di Sungai Raya. Menamatkan pendidikannya di SMAN Unggul Aceh timur. Ia mulai menulis sejak duduk dibangku SMA. Kegemarannya adalah mendengarkan cerita orang-orang sebagai sumber utama inspirasi. Saat menulis karya ini, ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Samudra jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Instagram dan Facebook @akbarpriadisadikin

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Sehimpun Puisi Asep Perdiansyah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00