• Latest

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan?

Desember 6, 2021
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan? - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan?

Redaksi by Redaksi
Desember 6, 2021
in Essay, Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Baca Juga

cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan? - 1001353319_11zon | Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

Maret 14, 2026
Mengapa Mencintai Dunia Pendidikan? - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Essay | Potret Online

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Februari 21, 2026

Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok, Jawa Barat

ADVERTISEMENT

Itu pertanyaan mas Agus Wahyudi sahabat saya guru senior dari Purwokerto. Gus Wah, sebetulnya awalnya bukan mencintai dan dengan dunia pendidikan ini saya kena kutukan “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino”. Keseringan berurusan dan berakhir dengan mencintai, meskipun yang saya cintai belum tentu membalasnya.

Awalnya dari menduga jawaban dari persoalan yang selalu saya tanyakan. Kok sebuah bangsa bisa maju, ujung ujungnya pendidikan (UUP). Kok banyak persoalan yang muncul berulang dan tak selesai, UUP.  Kok terjadi diskriminasi, UUP. Mengapa lama sekali Indonesia merdeka, UUP dan seterusnya.

Ketika punya putra dan duduk di SD, maka saya melihat dengan jelas masalah pendidikan itu. Kreatifitas murid TK dijajah oleh persepsi kebenaran gurunya, kegairah bertanya yang saat belum sekolah selalu saya “jabanin”, menjadi lenyap di sekolah. Anak menjadi patuh dan pendiam seperti anjing terlatih atau kuda liar yang sudah takluk kepada pekatiknya.

Pendidikan dikerdilkan menjadi persekolahan dan murid dipacu untuk menghapalkan materi yang akan diuji, bukan diajak bertualang dengan dunia mencari jawaban mengapa dan bagaimana. 

Dalam bahasa keren, semangat dan potensi Learning, tidak terbentuk tuntas dan hanya menjadi “mesin penyimpan informasi” yang jelas kedodoran ketika terus dijejali. Potensi otak untuk menjadi penerima, pemroses dan pemberi informasi serta solusi, mati. Otak hanya dijadikan gudang penyimpan data.

Semua itu semakin mendekatkan hipotesis saya bahwa ada yang salah dalam dunia pendidikan Indonesia. Apalagi ketika mulai mengenal Freire, Ivan Illich, Mochtar Buchori, Pater Drost, Bahrudin QT dan para “mbeling” pendidikan. Di sisi kanan, Peter Senge, Dostoyeski, Tolstoy, Sartre, Kundera juga ikut mengaduk aduk pikiran saya.t

Semakin menyelam, seperti di lautan, isi perut pendidikan semakin terang benderang. Gurulah salah satu kunci utama. Pendidikan menjadi guru tak diurus sebaik pendidikan menjadi dokter, insinyur dan Lawyer. Menjadi guru adalah pilihan terakhir dalam berkarya.

Dalam dunia Guru, jenjang SD/MI adalah kasta terendah. Pernah ada anggapan bahwa menjadi guru SD/MI itu siapapun bisa dan anggapan “taken for granted” ini diperkuat dengan sikap komplasen semua bangsa kita, tak terkecuali yang terdidik sangat baik dan tidak.

Komplasen bahwa semua baik baik saja. Lulus SD/MI pasti menguasai ilmu dasar dalam matematika numerasi, sains dan (faham) membaca. Faktanya, semua anggapan itu salah besar. Sejak lama saya sudah menduga duga dan menemukan bukti. 

Selain jalaran kulino, cinta saya kepada dunia pendidikan memiliki latar kurang baik, saya merasa kasian kepada dunia pendidikan, kasian meninggalkannya. Semestinya, cintailah apa adanya, Just the Way You Are. 

Jadi, dengan latar belakang bukan dari dunia pendidikan dan pernah diolok olok seperti “Terkun” alias Dokter Dukun, saya mencintai dunia pendidikan ini.

Karena sebetulnya dasar cinta yang tak kokoh, kadangkala menyesal juga menyaksikan kawan kawan yang hidup di dunia “lain” yang dengan ringannya mengeluarkan uang berjuta juta hanya untuk merumput di lapangan golep atau ratusan ribu hanya untuk secangkir kopi.

Masihkah saya mencintai dunia pendidikan yang seringkali lusuh dan compang camping dan semakin bodoh ini ? Jelas masih, “wis kadung cak…” ujar kawanku. “Iyo, masiyo uelek raine, tapi ngangeni….” Di wajahnya masih terlihat cahaya yang sering membawa ketenangan. Really ?


🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post

“POTRET SINGKAT SEORANG ANAK NEGERI DALAM MERAJUT MIMPI”

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com