POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Asal Mula Mukim Cot Saluran

RedaksiOleh Redaksi
November 23, 2021
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Amira Uzlifatul Jannah

Siswi Kelas VIII SMP Fajar Hidayah

 

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil di pinggiran kota kerajaan, hiduplah beberapa Puak keluarga dengan damai. Semuanya aman tenteram tanpa ada yang mengganggu. Sehari-hari, penduduk desa menggarap sawah atau menggembala ternak.

Hari itu, penduduk desa berembuk untuk memperbaiki balai desa. Disepakatilah untuk diadakan gotong royong. Semua orang berbondong-bondong datang dengan alat-alat di tangan. Ada yang membawa cangkul, linggis, parang dan ibu-ibu membawa minuman serta cemilan. Suasana saat itu riuh rendah. Beberapa orang bekerja sambil berdendang. Beberapa lainnya saling bergurau.

Ketika hari menjelang siang, seorang lelaki tua yang tinggal di kebun dekat persawahan sibuk mencangkuli bebatuan di tempat yang akan digunakan untuk peletakan batu pondasi. Ketika ia berusaha mencungkil batu yang tancapannya paling dalam, sedikit air terciprat ke wajahnya.

“Hah, apa ini?” gumamnya.

Lelaki yang kerap disapa Yah Bit itu mempercepat pekerjaannya dan berhasil mengangkat batu tersebut. Ternyata, cekungan bekas batu itu sudah dipenuhi genangan air bersih.

“Apa itu, Yah Bit?” tanya salah satu pemuda desa.

📚 Artikel Terkait

Bencana Aceh; Tambang Ilegal dan Hutan Berubah Sawit

Membaca Sikap Inkonsistensi Orang Tua Dalam Mendidik Anak

Kreativitas Tidak Bergantung Pada Teknologi: Penulis Akan Tetap Menulis Dengan Atau Tanpa AI

Cara Penyerahan Uang Komitmen Fee agar Tak Terlacak KPK

“Sepertinya ini mata air,” celetuk warga yang lain.

Kepala desa memasuki kerumunan dan memeriksa sumber air itu, “Kita biarkan saja dulu. Paling sebentar lagi juga bakal mengering,”

Ucapan kepala desai tu bertentangan dengan yang sesungguhnya terjadi. Beberapa minggu setelah kerja bakti hari itu, air dari mata air itu semakin deras dan kadang-kadang melambung seperti air mancur. Balai desa yang dibuat tepat di sampingnya itu kayunya melapuk karena sering terkena air. Warga mulai resah. Bahkan belakangan ini, mata air itu mulai membentuk genangan air. Balai desa yang dibuat berbentuk panggung itu sudah di kelilingi dengan mata air.

Warga protes ke Yah Bit. Menurut mereka, mata air itu sudah di sumpal para nenek moyang dengan batu besar itu agar tidak membanjiri pemukiman. Tapi Yah Bit malah membuka gerbang menuju kehancuran desa. Yah Bit merasa sedih. Ia merasa bersalah.

“Bagaimana ini? Desa kita bisa tenggelam!”

“Benar! Kalau dibiarkan bisa menjadi telaga bahkan danau!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?!”

Di tengah ribut-ribut warga, seorang nenek renta yang tinggal di dekat balai desa datang dengan lesung besar di tangannya.

Nek Nyak, begitu biasa disapa, adalah wanita bijak dan sering memberi nasihat untuk orang yang mendatanginya.

“Kalau tetua kita menyumpal mata air ini, maka kita sekarang juga harus menyumpalnya,” kata Nek Nyak. Ia mengangkat lesung dengan susah payah dan menyerahkannya kepada Yah Bit. “Nak, tancapkan lesung ini di asal mata air nya. Lalu, buat aliran agar airnya menuju sawah kita,”

Yah Bit mengangguk dan segera mendatangi tempat ia menemukan mata air itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya dan menekan lesung itu. Air yang mengalir tampak surut. Warga lain langsung menggerakkan cangkul dan mengalirkan air ke sawah terdekat.

“Dengan begini, aliran air akan terhambat sehingga tidak ada banjir. Selain itu, air nya masih bisa berguna untuk kita,” ujar Nek Nyak.

Lama setelah itu, aliran air dari mata air itu terus meluas dan menjalar kemana-mana. Kampung-kampung sekitar pun juga mendapat penghidupan dari sana. Lama-kelamaan, aliran itu dijadikan irigasi. Di sekitar situ, penduduk mulai membuat rumah dan mendirikan toko. Kampung-kampung yang berada di sepanjang irigasi itu disebut dengan Cot Saluran. Sekarang, Pemukiman Cot Saluran telah menjadi salah satu dari 3 mukim yang ada di Kecamatan Blang Bintang.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

PANDEMI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00