• Latest

Asal Mula Mukim Cot Saluran

November 23, 2021
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Asal Mula Mukim Cot Saluran

Redaksiby Redaksi
November 23, 2021
Reading Time: 5 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Amira Uzlifatul Jannah

Siswi Kelas VIII SMP Fajar Hidayah

 

Pada zaman dahulu, di sebuah desa kecil di pinggiran kota kerajaan, hiduplah beberapa Puak keluarga dengan damai. Semuanya aman tenteram tanpa ada yang mengganggu. Sehari-hari, penduduk desa menggarap sawah atau menggembala ternak.

Hari itu, penduduk desa berembuk untuk memperbaiki balai desa. Disepakatilah untuk diadakan gotong royong. Semua orang berbondong-bondong datang dengan alat-alat di tangan. Ada yang membawa cangkul, linggis, parang dan ibu-ibu membawa minuman serta cemilan. Suasana saat itu riuh rendah. Beberapa orang bekerja sambil berdendang. Beberapa lainnya saling bergurau.

Ketika hari menjelang siang, seorang lelaki tua yang tinggal di kebun dekat persawahan sibuk mencangkuli bebatuan di tempat yang akan digunakan untuk peletakan batu pondasi. Ketika ia berusaha mencungkil batu yang tancapannya paling dalam, sedikit air terciprat ke wajahnya.

“Hah, apa ini?” gumamnya.

Lelaki yang kerap disapa Yah Bit itu mempercepat pekerjaannya dan berhasil mengangkat batu tersebut. Ternyata, cekungan bekas batu itu sudah dipenuhi genangan air bersih.

“Apa itu, Yah Bit?” tanya salah satu pemuda desa.

“Sepertinya ini mata air,” celetuk warga yang lain.

Kepala desa memasuki kerumunan dan memeriksa sumber air itu, “Kita biarkan saja dulu. Paling sebentar lagi juga bakal mengering,”

Ucapan kepala desai tu bertentangan dengan yang sesungguhnya terjadi. Beberapa minggu setelah kerja bakti hari itu, air dari mata air itu semakin deras dan kadang-kadang melambung seperti air mancur. Balai desa yang dibuat tepat di sampingnya itu kayunya melapuk karena sering terkena air. Warga mulai resah. Bahkan belakangan ini, mata air itu mulai membentuk genangan air. Balai desa yang dibuat berbentuk panggung itu sudah di kelilingi dengan mata air.

ADVERTISEMENT

Warga protes ke Yah Bit. Menurut mereka, mata air itu sudah di sumpal para nenek moyang dengan batu besar itu agar tidak membanjiri pemukiman. Tapi Yah Bit malah membuka gerbang menuju kehancuran desa. Yah Bit merasa sedih. Ia merasa bersalah.

“Bagaimana ini? Desa kita bisa tenggelam!”

“Benar! Kalau dibiarkan bisa menjadi telaga bahkan danau!”

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?!”

Di tengah ribut-ribut warga, seorang nenek renta yang tinggal di dekat balai desa datang dengan lesung besar di tangannya.

Nek Nyak, begitu biasa disapa, adalah wanita bijak dan sering memberi nasihat untuk orang yang mendatanginya.

“Kalau tetua kita menyumpal mata air ini, maka kita sekarang juga harus menyumpalnya,” kata Nek Nyak. Ia mengangkat lesung dengan susah payah dan menyerahkannya kepada Yah Bit. “Nak, tancapkan lesung ini di asal mata air nya. Lalu, buat aliran agar airnya menuju sawah kita,”

Baca Juga

5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Raih Gelar Winner Putera Pelajar Riau 2026, Arqan Wira Rizqullah Siap Bawa Perubahan Positif dengan Karakter dan Dedikasi

Raih Gelar Winner Putera Pelajar Riau 2026, Arqan Wira Rizqullah Siap Bawa Perubahan Positif dengan Karakter dan Dedikasi

Maret 2, 2026

Yah Bit mengangguk dan segera mendatangi tempat ia menemukan mata air itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tangannya dan menekan lesung itu. Air yang mengalir tampak surut. Warga lain langsung menggerakkan cangkul dan mengalirkan air ke sawah terdekat.

“Dengan begini, aliran air akan terhambat sehingga tidak ada banjir. Selain itu, air nya masih bisa berguna untuk kita,” ujar Nek Nyak.

Lama setelah itu, aliran air dari mata air itu terus meluas dan menjalar kemana-mana. Kampung-kampung sekitar pun juga mendapat penghidupan dari sana. Lama-kelamaan, aliran itu dijadikan irigasi. Di sekitar situ, penduduk mulai membuat rumah dan mendirikan toko. Kampung-kampung yang berada di sepanjang irigasi itu disebut dengan Cot Saluran. Sekarang, Pemukiman Cot Saluran telah menjadi salah satu dari 3 mukim yang ada di Kecamatan Blang Bintang.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

PANDEMI

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com