• Latest

RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH

Oktober 12, 2021
RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH

Redaksi by Redaksi
Oktober 12, 2021
in Essay, POTRET Budaya, Risma
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Ahmad Rizali

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH - 5de97004 0731 46d3 b7a2 38575dadc077 | Essay | Potret Online

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026

Berdomisili di Depok 

Risma menjadi trending topik nasional. Kejadiannya saat Risma memarahi Pendamping PKH di Gorontalo beberapa hari lalu. Kejadian tersebut direkam seseorang dan kemudian disebarkan melalui WhatsApp. Setelah itu, lahir berbagai pendapat dan polemik. Saya fokus pada “marahnya” Risma dan bagaimana orang Gorontalo memandang perilaku marah dalam perspektif antropologi. Kemarahan Risma menurut saya bukan sesuatu yang spontan. Kemarahannya adalah rangkaian peristiwa dan kejadian serta latar belakang kultural Risma itu sendiri. 
Dalam perspektif antropologi Gorontalo, marahnya Risma bertingkat-tingkat. Risma adalah seseorang yang “moyingowa” atau pemarah jika melihat ketidakbenaran atau kebatilan. Risma juga “mopatuwa” artinya perangainya mudah panas atau mudah marah, apalagi melihat banyak ketidakberesan aparat dalam pelayanan publik. Banyak rekaman kejadian yang bisa kita tonton soal perangai Risma, baik mulai dari Walikota Surabaya maupun saat dia menjabat Mentri Sosial.
Dua “dasar” ini adalah “kaki” perangai Risma dalam pemerintahan. Dalam konteks antropologi Gorontalo, karena banyak perulangan kejadian yang tidak beres atas tata kelola pemerintahan, maka membuat inilah yang membentuk dan menjadi “tahu-tahu atau sudah tersimpan dalam memori dan nurani. 
Di Gorontalo, jika marah sudah dalam tingkat “tahu-tahu” maka dengan trigger apapun, khususnya melihat ketidakberesan yang berulang, akan segera “naik” dan pada ujungnya pendamping PKH “tilu-tilunggoiyo” alias ditunjuk-tunjuk. Molu-molunggo’o adalah ekspresi marah dalam kaidah Gorontalo. Ekspresi dari pendamping adalah “le hulo’o” atau terduduk. 
Jadi, apa yang Risma ekspresikan sebenarnya ada dalam kultur keseharian orang Gorontalo. Bahkan dalam kemarahan orang Gorontalo yang lain, jima sudah “tahu-tahu” marah, maka ada beberapa yang akan “anu-anungo” atau menyelipkan pisau atau parang di balik baju untuk membalas atau mengekspresikan kemarahannya.
Kemarahan Risma menurut saya masuk juga dalam varian marahnya orang Gorontalo yakni “lombu-lombula nyawa” artinya itu berarti kiasan seperti merebus air yang mendidih. Dalam arti lain, marahnya Risma sudah berada “mato yimbupulu” atau sudah berada di ubun-ubun. 
Marah dalam perspektif orang Gorontalo sangat beragam. Mulai dari yingo, moyingowa, yingo ma’o-yingo ma’o, yiyingowa, mayile yingo dan banyak ragam ekspresi lainnya. 
Ada yang ekspresi lanjutan dengan sabar dan menyerahkan ke Allah dengan “mapilooyonga liyo” dan ada yang “maletahu yingo” artinya marahnya disimpan, sewaktu-waktu bisa meledak. Risma masuk kategori kedua, maletahu yingo. 
Pertanyaannya, apakah marah adalah keburukan atau tidak? Dalam konteks antropologi Gorontalo, marah dengan segala variannya adalah bagian dari kearifan lokal. Kenapa bisa disebut arif? Karena marah adalah untuk meluruskan yang tidak beres. Ada ketidakbecusan dalam mengelola sesuatu.
Di konteks Gorontalo, seorang pemimpin atau disebut “wuleya lo lipu” harus punya sifat marah. Karena sesuai janji adatnya, “huta, huta lo ito Eeya” (tanah, tanah milik Allah), “taluhu, taluhu lo ito Eeya” (air, air milik Allah), “dupoto, dupoto lo ito Eeya” (angin, angin milik Allah), “tulu-tulu lo ito Eeya” (api, api milik Allah). 
Dalam konteks itu, seorang pemimpin sebagai “wakil” wajib menjaga alam dan segala apa yang ada kaitannya dengan sepenuh hati. Marah adalah salah satu sifat untuk menegakkan kebenaran. Itu termaktub dalam kalimat adati hulo-hulo’a to Syara’a, Syara’a hulo-hulo’a to Quruani (adat bersendikan syara’, syara bersendikan Qur’an). Artinya, ada ruang dan kewajiban menegakkan amal ma’ruf dan nahi munkar. 
Pertanyaan kemudian, apakah perilaku marahnya Risma itu bisa menyelesaikan sesuatu atau membuat tata kelola pemerintahan menjadi lebih baik? Risma telah mencontohkan kebiasaan marahnya telah membuat Surabaya meraih 322 penghargaan baik nasional maupun internasional. Di level internasional, Risma mendapatkan penghargaan sebagai Walikota Terbaik Dunia dari citymayors.com. Risma juga dianugerahi walikota ketiga terbaik dunia dari World Mayor Project hingga ia menjadi tokoh urutan ke 24 dari 50 tokoh dunia versi Fortune. 
Di wilayah Asean, Risma pernah menjadi Ketua Asean Mayors Forum, yang saya menjadi saksi bagaimana Risma bisa menjadi pusat perhatian saat Asean Mayors Forum di Bangkok tahun 2019 silam.  Maksud saya menulis ini untuk menjernihkan persoalan, bahwa marahnya Risma tidak bisa dilihat dari satu perspektif, tapi multi perspektif. 
Memang banyak yang menginginkan harusnya Risma sebagai pemimpin ada sifat “toliango” atau kasih sayang. Tapi, makna toliango tidak bisa ditafsirkan satu jenis saja yakni sayang saja, marah pun adalah bagian dari toliango.
Coba kita perhatikan orang-orang tua kita, sering marah pada kita. Itu bukan “yingo” tapi “toliango”. Jadi “toliango” harus didudukkan secara lebih proporsional. 
Jadi, yingo dan toliango dalam konteks Gorontalo adalah sesuatu yang melekat dan terpadu satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan. Karena bisa saja, misalnya jika kita lihat pada kakek dan nenek kita yang begitu sayang pada cucunya dengan cara “hepopohidiyo liyo” maka banyak contoh jika anak tersebut kelak akan jadi “jamodungohe” dan bahkan “kapala angi” dalam konteks negatif. Karena kasih sayang yang berlebihan. 
Sebagai penutup, saya mengajak agar kita lebih proporsional dalam melihat peristiwa yang terjadi. Problem inti sebenarnya bukan soal marah, tapi soal ketidakberesan manajemen data yang memang amburadul. Tapi jika dalam beberapa waktu kedepan misalnya hal ini tetap tidak beres dan tidak ada perubahan, maka Risma bisa saja kita sematkan “yingo ma’o-yingo ma’o” atau “moyingo jato tambati liyo”. Sebab, dia juga bertanggung jawab sepenuhnya atas manajemen data yang buruk, walaupun ia mewarisi hal yang buruk itu saat ia baru beberapa bulan masuk ke lingkungan kementrian yang ia pimpin, maka dia harus menunjukkan efekifitas marah yang ia terapkan saat di Surabaya lalu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

RISMA DAN ANTROPOLOGI MARAH - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Essay | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com