Oleh: Aisah Nurul Fadila
Hari itu, langit juga meratap
Seolah memberi pertanda bahwa ia juga terluka
Semuanya terjadi tanpa tanda
Simpang siur terjadi hampir di pesisir desa
Orang berlari ke sana ke mari seperti dalam drama
Aku yang masih balita tertatih bertanya
‘Apa yang terjadi abah?’
‘Kenapa ombak pasang sampan di teras?’
Tidak ada jawaban
Abah terus mengumandangkan Adzan
Sesaat kemudian ombak kembali tenang
Menyisakan reruntuhan
Namun bumi masih tergoncang
‘Apa yang sebenarnya terjadi abah?’
Aku yang langsung direngkuh menangis tanpa sebab
Seolah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi
‘Kita akan baik–baik saja’
Hanya itu yang abah lontarkan
Kalut tubuh masih mendera
Hingga saatnya tiba
Semuanya hancur tak tersisa
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.











Discussion about this post