Oleh Lina Zulaini, Mahasiswa FKIP Geografi Unsyiah
Langit mulai mengamuk dan mengeluarkan gelagak suara garang.
Pun angin rupanya tak mau kalah.
Mulai berputar ke arah yang tak pasti.
Tampak pepohon menari marah dengan rantingnya.
Bahkan rumah rumah mereka seakan mau ikut terbang bersama deru.
Sesekali ku dengar suara jerit.
Sepertinya mereka yang mulai takut pada kondisi semesta.
Atau mungkin mereka yang khawatir akan kehilangan.
Mentari sudah tidak sedia lagi berada di sisi atas bumi.
Hingga aku bebas turun ke tanah dan berdiri dimana saja.
Hanya pada saat langit sedikit gelap aku bisa mendekap mereka.
Bahkan dengan lama dan mesra.
Ada yang takut, bahkan menarik anak mereka memasuki rumah saat aku hampir tiba.
Aku yang berjalan gontai, mungkin pasrah pada garis hidupnya.
Ada yang mrah, saat dagangannya hampir menjadi bagian diriku.
Ada yang terbawa suka, saat mereka melihatku di antara benih dan tanamannya.
Ada pula yang menyesal, ketika aku mendarat pelan di udang yang hampir diminyaki.
Pun menangis, saat aku hampir menelan rumah mereka.
Tapi sungguh, aku tak sengaja membuat mereka senang atau tergenang.
Ini semua titah Tuhanku, juga Tuhan mereka.
Dan sungguh, aku bahagia bila masaku tiba.
Karena bisa menyentuh mereka lembut dengan doa.
Oh ya, aku hampir lupa.
Perkenalkan, namaku HUJAN!
Hujan Oktober, 2018
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

















