• Latest

Nilai Yang Bergeser

November 2, 2017
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Nilai Yang Bergeser

Redaksiby Redaksi
November 2, 2017
Reading Time: 3 mins read
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Lukyana Arsa
Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Unsyiah, Banda Aceh

Globalisasi merupakan sebuah proses yang mendunia. Setiap orang yang ingin terhubung tidak lagi dibatasi oleh batas-batas wilayah atau batas-batas negara. Artinya, setiap individu dapat terhubung dan bertukar informasi di mana saja dan kapan saja. Globalisasi membuat batas-batas dalam suatu wilayah menjadi sempit, karena setiap individu bisa dengan mudah untuk bertukar informasi, melakukan interaksi dengan individu-individu lainnya yang berada dalam jaringan wilayah atau negara yang berbeda dengan dirinya. Jika dibilang, bahasan globalisasi sudah sering dikupas oleh banyak penulis atau media. Namun kali ini penulis ingin kembali berbagi informasi tentang pengaruh globalisasi dan pergeseran nilai-nilai tradisional.

Baca Juga

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana

Ramadhan dan Warung Kopi, Rutinitas yang Tak Lekang oleh Waktu.

Maret 7, 2026

Dalam perkembangannya, globalisasi telah memberikan banyak perubahan dan pengaruh dalam pergeseran nilai-nilai budaya Indonesia. Perkembangan internet, informasi, teknologi digital yang diharapkan mampu membantu pekerjaan manusia, malah menjauhkan kita dari nilai-nilai tradisional yang sudah lama melekat di benak setiap generasi muda. Dunia semakin sempit dan efek yang diberikan oleh globalisasi terlalu cepat diserap oleh generasi muda kita saat ini. Sehingga dengan mudahnya segala informasi dari dunia luar dapat diketahui dalam waktu yang sekejap.

Penerimaan masyarakat terhadap pengaruh globalisasi juga mendukung globalisasi untuk terus tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Biasanya masyarakat tradisional akan sulit menerima berbagai pengaruh-pengaruh dari budaya luar ke lingkungannya, karena dianggap merusak atau jauh dari falsafah, ideologi ataupun nilai-nilai yang selamat ini telah mereka anut. Namun fakta yang kita lihat saat ini mau tidak mau masyarakat ikut terseret ke dalam arus globalisasi. Masyarakat juga membutuhkan perubahan, tanpa perubahan masyarakat akan terus tertinggal oleh zaman yang semakin hari hari semakin gencar dengan perubahannya.

Ada banyak sekali nilai-nilai yang telah bergeser di masyarakat yang ditimbulkan oleh pengaruh globalisasi. Kemudahan teknologi yang semakin hari semakin maju perlahan membuat banyak orang seolah-olah tidak lagi membutuhkan bantuan orang lain, mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Hilangnya budaya gotong royong, sikap ramah tamah, enggan memperhatikan orang lain saban hari semakin memudar. Orang-orang sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tidak sedikit pun mereka berpikir untuk orang lain, padahal tanpa orang lain kita tak akan bisa berdiri sendiri, misalnya tanpa ada petani, tanpa nelayan, tanpa pekebun kita tak bisa makan.

Sikap individual dan tidak pedulikan seseorang pada orang lain akan merembes pada kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan sosial akan menyebabkan jarak dan sikap keengganan untuk berinteraksi dengan sesama, misalnya kesenjangan si kaya dengan si miskin, kesenjangan juragan dengan pembantunya, kesenjangan dalam pendidikan dan berbagai kesenjangan lainnya yang ujung-ujungnya akan merusak nilai-nilai persatuan dan persaudaraan umat manusia. Kesenjangan juga akan memicu prasangka terhadap orang lain, sikap iri hati dan dengki, timbulnya persaingan tidak sehat antar manusia hingga munculnya tindakan kriminal seperti pembunuhan, perampokan, dan kejahatan lainnya.

Objek paling besar yang menerima terpaan pergeseran nilai-nilai tradisional ini adalah remaja sebagai generasi penerus bangsa. Sebagai sosok yang masih mencari jati diri remaja terbilang sebagai individu yang labil, belum kuat pendirian, dan sangat mudah terpengaruh dengan berbagai arus globalisasi. Kecanggihan perangkat komunikasi yang ada saat ini membuat para remaja dengan mudah mengakses apa saja yang mereka inginkan, apakah itu tentang idola mereka, informasi tentang musik, film, Fashion dan hal-hal yang kekinian lainnya. Fatalnya lagi adalah akibat pengaruh teknologi banyak dari remaja-remaja kita saat ini yang terpengaruh dengan video porno, yang berawal dari rasa penasaran, lalu melihat dan akhirnya melakukan perbuatan yang sangat tercela itu.

Itu adalah sebagian kecil dari pergeseran-pergeseran yang timbul akibat globalisasi yang melahirkan banyak sekali penyakit-penyakit di masyarakat. Sebagai orang yang juga masuk ke dalam arus kita tidak bisa menyalahkan, kita tidak bisa berlari atau pun menyangkal. Dunia pasti berubah dan kita selalu membutuhkan perubahan. Maka dari itu diperlukannya benteng diri yang kuat dalam menghadapi dunia yang kian hari kian menjolak. Arus globalisasi harus benar-benar kita sikapi dengan baik, mencegah untuk tidak terjerumus terlalu dalam terpaan yang ada.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Si Capcin Yang Murah Meriah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com