• Latest

Punya Masalah? Yuk, Kembali pada Allah (Sekilas Pandang Psikologi Islam)

Agustus 7, 2017
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Begitu Banyak “Teman” – Tapi…

April 29, 2026
1001436738_11zon

Refleksi 29 Tahun Pasie Raja: Merawat Potensi, Menjaga Eksistensi.

April 29, 2026
7f667085-fd7c-4173-8b85-11136faf14e4

Relevansi Pemikiran Gus Dur Dalam Pendidikan dikan, Antara Kemanusiaan dan Keberanian Berfikir

April 29, 2026
4536739a-d378-4c22-a612-82994686d242

Memahami “Waktu” Melalui Logika Nahwu.

April 28, 2026
2afaeacc-81a4-4ce5-8cd3-81dcd366f946

Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Kinerja, Kolaborasi, dan Prestasi Sekolah

April 28, 2026
Punya Masalah? Yuk, Kembali pada Allah  (Sekilas Pandang Psikologi Islam) - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | Psikologi | Potret Online

Rudal dan Nuklir: Di Persimpangan Nasib Umat Manusia.

April 28, 2026
b2bc6465-d97c-403b-9423-129ad2454b88

Pendidikan sebagai Ta’dib: Meneguhkan Integrasi Ilmu, Iman, dan Amal

April 28, 2026

Akuntansi Zakat Perdagangan: Menakar Keadilan dalam Valuasi Aset Modern

April 28, 2026
Rabu, April 29, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Punya Masalah? Yuk, Kembali pada Allah (Sekilas Pandang Psikologi Islam)

Redaksi by Redaksi
Agustus 7, 2017
in Psikologi
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS
Oleh Farah Febriani
Mahasiswi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Di sebuah ruang perkuliahan…
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sarah, seorang perempuan cerdas dengan gamis birunya merapikan buku dan melangkah mendekati seorang perempuan berkacamata. Umurnya sekitar 30-an. Berpakaian rapi dengan sebuah laptop mini yang terletak didepan meja kerjanya.
“Bu, saya boleh bertanya sesuatu terkait pelajaran kita hari ini? Tanyanya malu-malu. Sungguh, ini kali pertama ia memberanikan diri untuk menanyakan masalahnya kepada seseorang yang tidak memiliki attachment (kedekatan) dengannya. Ia sadar, selama ini seseorang yang berada di depannya adalah sosok yang tegas dan disiplin keras. Tapi, ia tidak peduli dengan hal itu. Ia yakin, seseorang yang saat ini berada di depannya tidak seburuk apa yang ia pikirkan.
“Ya, ada apa Sarah? Kamu duduk di samping saya saja ya. Sebentar saya selesaikan tugas saya sedikit lagi. Perempuan tersebut terus merapikan dan menyelesaikan tugas tugasnya. Wajahnya terlihat teduh dan “welcome” dengan siapapun. Beberapa menit kemudian, ia membetulkan posisi duduknya tepat di depan Sarah.
“Saya ingin cerita bu. Saya harap, saya bisa mendapatkan solusi dari ibu,” Sarah memulai pembicaraanya dengan wajah yang tampak gugup. Kali ini, ia merasa seperti mau diinterview kerja, namun lebih tepatnya ini adalah sesi konseling (konsultasi psikologis). Pandangannya menyebar ke seluruh ruangan. Tangannya mengetuk ngetuk meja secara berulang. Kakinya juga turut ia gerakkan. Ia ragu, apakah masalah ini harus ia ceritakan?
“Begini bu, hmmm…,” Sarah menarik nafas panjang. “Saya dibesarkan dari latar belakang keluarga yang tidak utuh. Orang tua saya telah berpisah 15 tahun yang lalu. Kejadian tersebut berdampak pada diri saya hingga saat ini. Saya merasa seperti kurangnya kasih sayang, emosi saya tidak stabil dan saya selalu menyalahkan kedua orang tua atas apa  yang terjadi pada saya saat ini. Bahkan, suatu hari saya pernah memutuskan untuk tidak ingin menikah karena rasa kesal saya pada sosok yang berlabel “Laki-laki”. Saya ingin orang tua saya kembali berdamai. Menurut ibu, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya penuh harap.
“Begini Sarah…Banyak faktor yang membuat sepasang sumai-istri memutuskan untuk berpisah. Mungkin ketidakcocokan, perbedaan visi misi atau ada yang disebut dengan “Bounder”. Bounder itu adalah masalah kecil yang tidak diselesaikan, terus ditumpuk dan ketika masalah masalah lain muncul, maka akan meledaklah emosi antar pasangan sehingga lahirlah perceraian tersebut. Saat ini, Sarah hanya butuh komunikasi dengan orang tua. Sampaikan pada mereka dengan sopan dan baik. Selesikanlah dulu masalah tersebut dengan “menerima”. Masalah itu perlu kita hadapi bukan dihindari. Dalam islam, disebut dengan “Ikhlas”. Kita tidak pernah tau hikmah apa yang Allah sampaikan pada setiap masalah yang Ia berikan. Saya dulu juga sempat gagal menikah. Saya bersyukur. Seandainya saya jadi menikah dengan dia, saya tidak tahu masa depan saya akan seperti apa. Belakangan saya ketahui, bahwa ia adalah laki-laki yang jahat. Memang, kita butuh waktu untuk sampai pada tahap “Healing” (penyembuhan). Tidak mungkin, semua kita dapatkan dengan instan. Tapi, satu hal yang saya ingin sampaikan adalah ketenangan hati akan kita dapatkan dari Allah. Curhat dengan manusia mungkin akan terasa lega, tapi bagaimana dengan hati? Apakah kita mendapatkan ketenangan? Cobalah mengadu padanya di sepertiga malam. Meminta padanya pada sujud dhuha yang panjang. Barengi dengan sedekah, puasa dan membaca Al quran. Kamu tahu? 
Obat dari segala masalah adalah Al-quran. Tahap pertama yang harus kamu jalani adalah “acceptance”. Terima. Ikhlaskan. Hadapi. Jauhi bertanya dengan kata-kata mengapa harus saya ya Allah? Apa salah saya? Toh, saya sudah salat, sudah puasa, sudah mengaji juga. Padahal jauh di sana, Allah ingin menaikkan derajatmu dengan cobaan yang ia berikan. Ia ingin yang terbaik buat kamu, meski kamu tidak mengetahui hikmahnya saat ini. Allah gak butuh kita. Kita yag butuh Allah. Kita masuk syurga bukan karena ibadah kita, tapi karena Rida  Allah, kan?”
Sarah mengangguk pelan. Tanpa bisa dicegah, air mata jatuh perlahan dari sudut matanya. Ia sadar, sabar dan ikhlas adalah kunci utama dari setiap masalah. Hanya saja, dalam penerapannya masih belum sempurna. Sarah kembali memperhatikan wajah teduh itu. Prasangka orang terhadap perempuan di depannya kini telah lenyap dari fikiran.
“Setelah ikhtiar, maka jalan terakhir adalah tawakkal. Meski banyak teori yang mengatakan seperti ini, tapi tetap tumpuan terakhir kita adalah Allah. Jalankan shalat wajib tepat waktu, maka Allah akan mengatur urusan hidupmu. Percayalah,” pesan perempuan itu menutup pembicaraan.
Sebelum ia membereskan bukunya dan beranjak pergi, ia kembali berpesan pada Sarah.
“Sarah, suatu saat nanti, jika kamu sudah “acceptance” dengan semua masalah kamu. Kamu perlu konseling lanjutan untuk memodifikasi prilakumu dan mengubah pola pikirmu yang salah. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk masa depan yang lebih baik lagi. Saya yakin, kamu mampu,” Bu Ika, seorang psikolog konseling keluarga dan perkawinan, pergi meninggalkan ruang kelas sembari mengucapkan salam pada Sarah dan dua orang teman disampingnya. Sarah tersenyum.
Kini, ia mendapatkan “insight” (pencerahan/ hidayah) dari masalah yang selama ini ia hadapi. Hanya ada dua kata “ikhlas dan sabar”, kuncinya. Kembalikan semua masalah pada Allah. Biarkan Allah yang mengatur hidupnya. Jangan lupa ikhtiar dan tawakkal. Tanpa keduanya, hidup serasa kurang sempurna.
Baca Juga
  • Self-Compassion: Kunci Mahasiswa Mengatasi Stres dan Menjaga Kesehatan Mental
  • Pengaruh Media Sosial terhadap Munculnya Prasangka di Era Digital
Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Menjaga Aurat, Niscaya Selamat Dunia Akhirat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com