• Latest

Gampong Ramah Anak

Juni 11, 2017
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Gampong Ramah Anak - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Lomba Menulis | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Gampong Ramah Anak

Redaksi by Redaksi
Juni 11, 2017
in Lomba Menulis
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dian Rubianty

Sebut saja beliau Bu Ati. Setelah kepergian suami pertamanya, beliau memutuskan untuk menerima lamaran seorang laki-laki yang berjanji akan membahagian beliau dan anak-anaknya. Bu Ati menikah lagi tak hanya karena desakan ekonomi. Tapi juga dengan pertimbangan, anak-anaknya membutuhkan sosok seorang ayah dalam proses tumbuh-kembang mereka. Namun malang, niat baik ini malah berbuah petaka. Sosok laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung keluarga, justru menghancurkan mereka dengan menistakan putri Bu Ati, yang ketika itu berusia lima tahun.

Baca Juga

Gampong Ramah Anak - IMG_0256 | Lomba Menulis | Potret Online

Lomba Menulis Cerita Anak Cerdas 2026

Maret 13, 2026
Gampong Ramah Anak - 3e9b60a1 45e7 42c0 811f 85cdab43f330 | Lomba Menulis | Potret Online

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Gampong Ramah Anak - IMG_8287 | Lomba Menulis | Potret Online

📢 𝐔𝐏𝐃𝐀𝐓𝐄 𝐓𝐄𝐑𝐁𝐀𝐑𝐔 𝐋𝐎𝐌𝐁𝐀 𝐌𝐄𝐍𝐔𝐋𝐈𝐒 𝐄𝐒𝐀𝐈 𝐍𝐀𝐒𝐈𝐎𝐍𝐀𝐋 𝟐𝟎𝟐𝟓 📢𝐅𝐎𝐑𝐔𝐌 𝐊𝐑𝐄𝐀𝐓𝐎𝐑 𝐄𝐑𝐀 𝐀𝐈 (𝐊𝐄𝐀𝐈)

Oktober 31, 2025

Angka Kekerasan Seksual Terhadap Anak Masih Tinggi

Kisah Bu Ati bukan satu-satunya kasus yang terjadi di Aceh. Ada banyak kisah, dengan berbagai modus dan beragam pelaku. Walaupun sudah ada Undang Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang diperkuat dengan Qanun No. 11 Tahun 2008, angka kekerasan sesksual terhadap anak di Propinsi Aceh, secara nasional, masih tergolong tinggi.

Di Banda Aceh, misalnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilaporkan pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) terus meningkat. Menurut salah satu konselor di sana, tahun 2014 ada 25 kasus yang dilaporkan, meningkat menjadi 50 kasus di tahun 2015 dan 81 kasus di tahun 2016 (Modus, 2017). Kita tidak boleh berasumsi, hal ini terjadi karena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor. Betul, partisipasi masyarakat dalam gerakan perlindungan anak terus meningkat. Namun data juga menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan, sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris Daerah Propinsi Aceh, dalam sebuah temu koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan (website Pemprov Aceh, 2017).

Gampong Siaga?

Sebagai orang tua, kita ingin anak tumbuh bahagia. Mereka bisa menikmati masa kecilnya dengan nyaman dan aman, bebas bermain dan belajar tanpa was-was. Namun, kemungkinan hadirnya predator anak sungguh mencemaskan. Lantas apa yang bisa kita lakukan bersama?

ADVERTISEMENT

Dalam Qanun Nomor 11 Tahun 2008 Pasal 55 dan 56, dijelaskan tentang peran aktif masyarakat dalam gerakan perlindungan anak. Pasal ini mengingatkan kita pada sebuah peribahasa dari Afrika, “It takes the whole village to raise a child” (Dibutuhkan seluruh warga gampong untuk membesarkan seorang anak). Kearifan lokal yang juga ada dalam budaya di gampong kita. Hanya saja, “modernisasi” perlahan menggerus nilai mulia ini.

Kesibukan, desakan ekonomi dan dampak teknologi adalah beberapa sebab yang kerap menjadikan kita “sibuk sendiri-sendiri”. Seakan, kita merasa cukup dengan “urus diri masing-masing”. Mungkin, inilah awal yang membuat kita bisa saling tak peduli.

Mengembalikan “Gampong Siaga” adalah salah satu langkah yang bisa dilakukan bersama oleh warga masyarakat. Pertama, mari kembali peduli. Bahwa keamanan dan kenyamanan satu anak, adalah kepentingan setiap warga gampong. Bahwa setiap anak di gampong adalah anak kita.

Kami ingat masa kecil dulu, saat berpetualang ala anak kecil menelusuri gampong. Menjelang azan maghrib, orang dewasa yang berpapasan dengan kami, pasti akan mengingatkan. “Ka jeut jak wo, meutuwah. Ka rhap meugreb.” (Sudah boleh pulang, sudah menjelang maghrib). Atau bila kami bermain terlalu jauh dari rumah, akan ada orang dewasa yang mengingatkan, “Hai bek jioh that, dimita le Ma, hai neuk.” (Jangan bermain terlalu jauh, nanti dicari ibumu, Nak). Peringatan ini kami patuhi, seakan mendengar suara ayah-bunda sendiri. Karena anak melihat, bagaimana orang dewasa di gampong saling peduli, saling menjaga. Kami tidak menganggap mereka sebagai orang nyinyir yang sibuk mengurusi urusan orang lain.

Kepedulian bersama inilah yang perlu kita bangun kembali. Ia mulai absen dalam kehidupan di sebagian gampong kita. Padahal saling peduli adalah modal utama mencegah hal buruk terjadi pada setiap anak yang ada di gampong kita.

Langkah kedua yang bisa kita lakukan adalah dengan mewujudkan kepedulian menjadi aksi bersama. Ketika berkesempatan belajar di negeri seberang, “Neighborhood Watched” (Lingkungan Yang Diawasi) adalah salah satu hal yang menarik perhatian kami. Di jalan gampong, banyak papan bertulisan “Neighborhood Watched” dipasang. Tentu bukan sekedar dipasang. Warga siap melapor dan menindak, misalnya, bila ada mobil yang melaju di atas batas kecepatan maksimal, melewati jalan di lingkungan mereka. Mereka juga akan melaporkan bila ada hal-hal yang mencurigakan. Tentunya aksi bersama ini butuh dukungan dari pemerintah. Harus ada mekanisme hukum yang jelas dan penegakan hukum yang tegas setelah warga melapor.

“Neighborhood Watched” sebenarnya bukan hal yang baru untuk gampong kita. Adanya pos jaga dan aturan “tamu wajib lapor setelah 24 jam” adalah contoh penerapan dari prinsip ini. Yang diperlukan lagi-lagi kepedulian kita, untuk saling menjaga.

Selain menciptakan lingkunga tumbuh kembang yang nyaman dan aman, selanjutnya anak juga perlu diajarkan, dengan bahasa yang sederhana sesuai usianya, bahwa tubuh mereka adalah milik mereka. Tidak boleh ada yang menyentuh tanpa ijin, apalagi bila sentuhan itu membuat mereka merasa tidak nyaman.

Komunikasi dan edukasi berkelanjutan dengan anak-anak sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kekesaran seksual pada anak. Biasanya anak yang menjadi korban adalah anak yang tidak tahu bahwa hal itu tidak boleh dilakukan oleh orang dewasa terhadap dirinya. Jika musibah itu terjadi, banyak anak tidak berani bicara karena takut. Yang paling menyedihkan adalah bila mereka dibuat oleh pelaku, untuk merasa bahwa hal itu terjadi karena kesalahan mereka. Ini akan menjadi beban dan luka psikologis yang akan terbawa sepanjang hidup mereka.

Sebagai orang tua, tak satu pun kita ingin hal ini terjadi. Karena anak adalah buah hati. Sibiran tulang, demikian sebutan Baginda Rasulullah Saw. Mari saling peduli, membangun gampong yang ramah anak, tempat mereka tumbuh bahagia menimati masa kecil tanpa kekerasan. Gampong ramah anak ini tidak mustahil wujud, karena bersama kita pasti bisa.

Note: Setiap naskah lomba yang dimuat pada portal www.potretonline.com sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Setiap artikel lomba tidak melalui proses editing.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 340x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post

LINDUNGIN ANAK DARI KEKERASAN SEKSUAL

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com