POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga

Redaksi by Redaksi
Desember 19, 2016
in Aceh, Jalan-Jalan, Legenda
0

Sebuah Cerita rakyat dari Kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan

Oleh : Keumala Fadhiela. ND

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    Narkoba di Negeri Bersyariah
    07 Nov 2016
  • de802804-16fc-40d2-9378-4a23f3aaa63a
    Artikel
    Membaca Karakter Orang Aceh di Era Digital, Mobilitas Global, dan Dinamika Pergaulan Multikultural
    05 Mei 2026

Pernah kah kamu berkunjung ke Kota Tapaktuan? Kota Tapaktuan yang terkenal dengan sebutan Kota Naga, merupakan ibu kota dari kabupaten Aceh Selatan. Sejak dulu Aceh Selatan terkenal dengan panorama keindahan alam yang begitu mengagumkan. Kabupaten ini berbatas dengan Aceh Singkil di sebelah Utara, Aceh Tenggara di sebelah Selatan, Aceh Barat Daya di sebelah Barat dan Aceh Singkil di sebelah Timur. Tapaktuan, sebuah kota yang dikelilingi deratan gunung dan laut biru yang indah, ternyata menyimpan cerita rakyat yang menarik. Tahukah kamu bagaimana kisah asal usul nama Tapaktuan itu? Nah, inilah sebuah kisah tentang Naga, Tuan Tapa dan Putri Bungsu cantik nan jelita.

Pada zaman dahulu kala, hiduplah sepasang naga raksasa yang tinggal di gua dan lautan lepas Aceh Selatan. Sepasang naga sakti ini berasal dari lautan Negeri Cina yang diusir karena membawa sial pada negerinya. Karena tidak mempunyai keturunan, maka Naga jantan dan Naga betina tersebut meminta izin untuk hidup di Aceh Selatan pada seorang pertapa sakti yang menghabiskan waktu hidupnya di dalam gua. Meskipun mendapatkan izin untuk menetap, namun Tuan Tapa memberikan syarat pada sepasang Naga tersebut.

Baca Juga
  • Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga - 288c37cf ada3 47f1 a739 3e9acdb6a97f scaled | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Di Balik Senyum Murung
    14 Des 2024
  • Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga - 3633B055 C425 49CC 81E7 43DAFEA6E907 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    BASA GEUTANYOE KARAP ABÉH MEUGINTÖN, MEUSUPÉT, MEUPIRÉT NGÖN BASA KOMPUTER
    14 Jun 2022

“Kalian boleh tinggal disini asal tidak membuat kekacauan”, kata Tuan Tapa memberikan syarat.

Sepasang Naga pun menyanggupinya. Mereka hidup di sebuah gua di lembah gunung dan mereka mencari makan di laut dengan memangsa ikan-ikan yang ada.

Baca Juga
  • Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga - bk | Aceh | Potret Online
    Aceh
    HABA Si PATok
    25 Apr 2025
  • Legenda Tuan Tapa dan Putri Naga - IMG_0446 | Aceh | Potret Online
    Bencana
    Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang
    22 Mar 2026

Pada suatu hari, saat asik mencari makan, sepasang naga tersebut tiba-tiba menemukan sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan terapung di tengah lautan. Ternyata terdapat seorang bayi perempuan di dalamnya. Dengan perasaan iba, mereka pun mengambil bayi mungil tersebut dan kemudian mengasuhnya seperti anak sendiri.

“Wahai suamiku, bayi ini begitu lucu. Sungguh kasihan jika kita meninggalkannya sendiri disini. Bagaimana kalau kita mengambilnya dan mengasuhnya saja?“, tanya Naga Betina pada Naga Jantan.

“Baik. Kita akan mengasuhnya. Lebih baik kita membawanya terlebih dahulu. Laut ini sangat ganas. Kita harus menyelamatkannya“, tambah Naga Jantan.

Hari demi hari, bayi tersebut pun beranjak dewasa menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Mereka menamakan gadis itu Putri Bungsu, karena sebenarnya ia adalah Putri Bungsu dari Kerajaan Asralanoka, sebuah negeri di dekat Pulau India. Sepasang naga tersebut menganggap Putri Bungsu seperti anaknya sendiri. Mereka merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Putri Bungsu hidup layaknya seorang manusia, namun selalu dijaga oleh Naga. Putri Bungsu pernah tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang putri kerajaan.

Seperti biasa, Naga Jantan dan Betina pergi mencari makan ke laut lepas. Namun sang Naga selalu berpesan kepada Putri Bungsu untuk tidak pergi terlalu jauh dari gua, karena mereka khawatir jika nanti ada manusia yang menemukannya. Namun sang Putri merasa penasaran mengapa dirinya berbeda dengan kedua orang tuanya. Ia pun mencari tahu dari mana dirinya berasal.

Setelah mendengar tentang kesaktian Tuan Tapa. Tanpa berpikir panjang, ia pun bertanya pada Tuan Tapa,

”Wahai Tuan Tapa yang sakti, mengapa aku berbeda dengan kedua orangtuaku? Siapa sebenarnya diriku ini?“, tanya Putri Bungsu penuh harap

“Ayahmu adalah seorang raja dan kau adalah putri bungsu, karena kau adalah yang paling terkecil dari tiga bersaudara. Kau terpisah dari orangtuamu saat badai menghantam kapal keluargamu“, jelas Tuan Tapa.

Mendengar penjelasan tersebut, Tuan Putri pun pergi meninggalkan Tuan Tapa dengan perasaan sedih. Sang Putri pun menjalani hari-hari dengan perasaan yang tak menentu. Ia ingin sekali bertemu dengan keluarganya lagi.

Pada suatu hari, akhirnya keinginan Putri Bungsu terkabulkan. Orangtuanya dari Kerajaan Asralanoka datang mencari putri kesayangannya. Tuan Tapa pun memberitahu mereka bahwa putri mereka masih hidup dan telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, karena telah dirawat oleh sepasang naga raksasa.

Orangtua Putri Bungsu pun meminta izin kepada Naga untuk membawa kembali anaknya. Namun Sang Naga menolak hal tersebut. Mereka bersikeras tetap ingin menjaga Putri Bungsu karena telah menganggapnya sebagai anak sendiri.

“Putri Bungsu adalah bukan dari jenis kalian. Ia adalah anak manusia yang terpisah dari orangtuanya. Kalian tidak berhak melarangnya. Biarkan Putri Bungsu kembali ke negerinya bersama orangtua kandungnya”, kata Tuan Tapa.

“Tidak! Kami yang menyelamatkan Putri Bungsu dari keganasan laut lepas. Ia telah kami rawat dan kami besarkan hingga sampai saat ini. Kami berhak memilikinya!“, ujar Naga Jantan marah.

Tuan Tapa mencegah keinginan Naga untuk mengambil kembali Putri Bungsu. Sepasang Naga raksasa pun sangat marah dan mengakibatkan terjadinya perkelahian yang sengit antara makhluk sakti itu.

Naga Jantan menyerang Tuan Tapa dengan ekornya yang panjang dan besar sehingga Tuan tapa terbanting jauh. Sang Naga tak berhenti hanya disitu. Ia kembali menyerang terus-menerus dengan membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya yang panjang. Terjadi pertarungan yang sangat sengit antara Tuan Tapa dan sepasang Naga. Masing-masing tak ingin kalah dan mengeluarkan jurus saktinya.

Dalam pertarungan, Tuan Tapa tidak tinggal diam. Ia mengambil tongkat saktinya dan menyerang balik sepasang naga tersebut. Akhirnya, libasan tongkat tersebut membuat Naga terpelanting ke udara dan jatuh berkeping-keping di pantai. Darah tubuh naga jantan tersebut tercecer dimana-mana. Kini bekas gumpalan darah dan hati naga jantan bisa dilihat di pantai Desa Batu merah dan Desa Batu Hitam, yaitu sekitar 3 km dari Kota Tapaktuan.

Dengan penuh amarah, Naga Betina pun menyerang Tuan Tapa kembali. Tapi apa daya, Naga Betina juga kalah dan mengakibatkan tongkat dan topi Tuan Tapa tercampak di lautan, sehingga kini menjadi batu di dasar lautan. Naga betina yang kalah mengamuk dan melarikan diri dari serangan. Dalam pelariannya, Naga Betina membelah sebuah pulau menjadi dua. Pulau tersebut dinamakan Pulau Dua, yaitu sebuah pulau di daerah Bakongan. Tidak hanya itu, Naga Betina juga memporakporandakan banyak pulau sehingga terpecah menjadi pulau-pulau kecil. Sekarang pulau hasil amukan Naga Betina tersebut dinamakan Pulau Banyak. Pulau-pulau ini dapat dilihat di sekitar Kabupaten Aceh Singkil.

Setelah kejadian penyerangan itu, Tuan Tapa mulai lemah dan akhirnya meninggal dunia. Jasadnya dikuburkan di dekat Gunung Lampu di kelurahan Padang, Tapaktuan. Konon Tuan Tapa bertubuh sangat besar, sehingga makamnya juga lebih besar dari ukuran normal. Putri Bungsu pun kembali kepada orangtuanya ke kerajaan Asralanoka dan hidup bahagia.

Kini banyak sekali tempat-tempat yang meninggalkan cerita menarik di daerah Tapaktuan, sehingga menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi. Panorama pelabuhan kota Tapaktuan menjadi tempat yang indah karena dikelilingi deratan gunung yang menyerupai seorang gadis yang sedang tidur. Masyarakat mempercayainya sebagai sosok Putri Bungsu. Air terjun tingkat tujuh dipercayai menjadi tempat pemandian sang Putri yang hingga kini menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat.

Selain pemandangan alam laut dan gunung yang sangat indah ternyata terdapat sekelumit cerita rakyat yang menambah daya tarik Aceh Selatan. Demikian kisah Tuan Tapa, Naga dan Putri Bungsu yang menjadi asal usul Kota Tapaktuan dan daerah lainnya di Aceh Selatan. Bagaimana? Tertarik mengunjungi Kota Naga?

Previous Post

Tindak Pidana Prostusi Terhadap Anak Harusnya Masuk Dalam Bab XIV Tindak Pidana Kesusilaan

Next Post

Sekolah Desa vs Sekolah Kota

Next Post

Sekolah Desa vs Sekolah Kota

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah