• Latest

Tinjauan Kritis tentang Peran Perempuan dalam Sejarah Aceh

November 24, 2016
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tinjauan Kritis tentang Peran Perempuan dalam Sejarah Aceh

Redaksi by Redaksi
November 24, 2016
in Aceh, Edukasi, Literasi, Pendidikan, Sejarah
Reading Time: 5 mins read
0
592
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
Kekuasaan para sultanat di masa lalu tidak identik dengan kesetaraan dan keadilan terhadap perempuan Aceh di masa itu.
Oleh Farid Muttaqin*)
PERAN politik perempuan di Aceh, banyak didominasi oleh cara pandangan romantisme sejarah (historical romanticism). Cara pandang macam ini antara lain mengungkap keberadaan perempuan-perempuan Aceh dalam berbagai posisi kepemimpinan publik di masa lalu.
Pandangan romantisme sejarah tak hanya dominan dalam lingkup partisipasi politik, tapi juga dalam pembicaraan isu-isu gender yang lebih luas. Misalnya, dalam berbagai kegiatan training, workshop, seminar atau forum diskusi lainnya, Para peserta dari masyarakat Aceh, sangat suka mengemukakan pandangan bahwa di Aceh (ketidakadilan) gender bukanlah persoalan (besar); tidak ada persoalan (ketidakadilan) gender di Aceh; buktinya, masyarakat Aceh sudah sejak lama –dalam sejarah—memberi ruang sangat luas bagi kaum perempuan, dari Sri Ratu Syafiatuddin hingga Tjut Nyak Dhien, untuk menjadi pemimpin publik, menjadi sultanat, menjadi pemimpin perang.
Sejarah perempuan pemimpin di Aceh, seringkali dijadikan bukti bahwa masyarakat Aceh –sejak dulu hingga saat ini—sudah “berperspektif gender” . Masyarakat Aceh menyebutnya dengan istilah “sudah gender”. Ujung-ujungnya, berkembang pandangan bahwa masyarakat Aceh kini sama sekali “tidak butuh program-program terkait isu gender”, yang biasa mereka ungkapkan dengan kalimat: masyarakat Aceh tidak butuh “gender-gender”-an. Pandangan seperti ini tak hanya berkembang di kalangan masyarakat. Para pejabat pemerintah, anggota legislatif, para ulama atau para akademisi juga banyak yang memiliki pandangan serupa.
Romantisme sejarah sudah menjalar dalam pembicaraan isu gender yang lebih luas itu kini, maka sangat penting untuk melakukan kajian kritis terhadap pandangan romantisme sejarah tersebut. Patut diketahui bahwa peran dan partisipasi (politik) perempuan di Aceh tidak berhenti pada fase sejarah jauh sebelum kemerdekaan atau tidak berhenti di masa perjuangan Tjut Nyak Dhien dan kawan-kawannya.
Saat terjadi konflik hebat di Tanah Rencong ini, yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), banyak perempuan Aceh jadi inong balee alias gerilyawan. Para inong balee ini tak hanya berperan sebagai tukang masak dan penyedia logistik belaka. Banyak di antara mereka yang berdiri di barisan depan, tengah, hingga belakang dalam kancah perlawanan dan peperangan. Selain mereka, beberapa kelompok perempuan Aceh juga berinisiatif membangun peran politik mereka, seperti memfasilitasi dua kali Duepakat Inong Aceh. Beberapa perempuan Aceh memutuskan jadi calon anggota legislatif. Bahkan, salah satu dari mereka ini terpilih menjadi wakil walikota. Artinya, dalam beberapa hal, kisah tentang keagungan perempuan dalam berbagai posisi politik di Aceh berlanjut hingga saat ini.
Sayangnya, di balik wajah yang tampak tak masalah itu, muncul beberapa hal yang patut dikritisi. Selain bagaimana kini berkembang pandangan tentang “Aceh yang sudah berperspektif gender dan karenanya tidak butuh lagi program-program untuk penguatan keadilan gender,” kenyataan membuktikan bahwa hanya satu perempuan saja yang jadi wakil walikota, kurang dari enam persen calon legislatif perempuan yang akhirnya bisa jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dan bahkan di beberapa kabupaten/kota, tak satu perempuan pun yang terpilih menjadi anggota legislatif. Seorang camat perempuan di Kabupten Bireun bahkan harus menghadapi “impeachment” dari lembaga legislatif setempat. Inilah kenyataan sekarang, bukan cerita masa lalu. Oleh sebab itu, membangun studi kritis terhadap pandangan sejarah amatlah penting.
Cara pandang berdasarkan romantisme sejarah adalah cara pandang sejarah yang bias gender.
Saya pernah secara khusus menulis tentang sejarah perempuan (di Indonesia) yang bias gender dalam artikel “Sejarah Gerakan Perempuan yang Bias Jender,” diterbitkan Kompas (baca artikel tersebut di http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/47368). Dalam tulisan tersebut, saya mengungkapkan bahwa pandangan kita tentang sejarah (gerakan) perempuan di negeri ini lebih banyak didominasi oleh pandangan yang mengagungkan perempuan-perempuan yang “berhasil” menduduki posisi atau jabatan atau peran-peran publik, seperti Raden Ajeng Kartini. Dia dianggap pahlawan emansipasi perempuan bereputasi dunia karena sumbangan besarnya lewat pendidikan bagi perempuan dan surat-surat gugatannya yang dikumpulkan dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Ada lagi Tjut Nyak Dhien, yang juga diagungkan sebagai tokoh perempuan Nusantara yang berhasil memimpin perang. Pandangan ini sangat bias, terutama karena hanya mengakui peran-peran perempuan dalam wilayah politik atau publik. Pandangan ini lalu mengisolasi peran-peran penting perempuan di wilayah domestik.
Dalam satire yang saya tulis di Kompas, saya menyebutkan bahwa pandangan tersebut membuat kita melupakan jasa “Bu Kartinah, si tukang masuk di dapur umum para pejuang kemerdekaan, di samping RA Kartini … Mak Dewi, si suster pejuang yang terluka, di samping Dewi Sartika …(atau) Tjut Minah yang ulet mengurus anak-anak, sementara suami berperang bersama Tjut Nyak Dien.”
Jika kita tak mengubah cara pandang berdasarkan romantisme sejarah itu, sesungguhnya kita sedang melestarikan pandangan bias gender dalam sejarah. Pandangan romantisme sejarah juga lebih banyak menekankan aspek sejarah politik, sejarah elit, yaitu sejarah tentang para elit, sejarah tentang para penguasa atau sejarah “para pemenang.”
Dalam pandangan yang menekankan sejarah elit, kita menjadi lupa dengan sejarah sosial, sejarah hidup keseharian dengan berbagai dinamikanya. Memang benar bahwa dalam sejarah Aceh Sri Ratu Syafiatuddin pernah menjadi seorang sultanat. Pertanyaan kritisnya, bagaimana kondisi hidup kaum perempuan pada saat Ratu Syafiatuddin berkuasa? Bagaimana status keadilan gender pada saat itu? Memang merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan bahwa Tjut Nyak Dhien pernah menjadi komandan sebuah pasukan perang yang berisi para tentara laki-laki. Pertanyaan kritisnya, apakah pada saat Tjut Nyak Dhien (berhasil) menjadi komandan perang, kondisi perempuan Aceh sudah terbebas dari berbagai bentuk ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan berbasis gender?
Kajian kritis sejarah yang tidak hanya menyentuh sejarah para elit, tapi juga sejarah sosial atau sejarah kehidupan masyarakat sehari-hari akan menjadi upaya penting untuk mengungkap berbagai kepentingan di balik sebuah konstruksi gender, termasuk konstruksi gender yang berkaitan dengan peran politik perempuan. Kajian kritis sejarah yang demikian akan sangat penting membantu kita menjawab sejumlah pertanyaan hari ini.
Jika masyarakat Aceh sudah sangat “sensitif gender” sedari dulu, mengapa dalam masyarakat Aceh masa kini susah sekali bagi perempuan di Aceh untuk jadi seorang anggota legislatif? Apa yang membuat Tjut Nyak Dien bisa jadi pemimpin, sedang camat perempuan di Bireuen dipaksa turun? Kepentingan apa yang membuat situasi yang dialami kedua perempuan ini berbeda? Mengapa terjadi perubahan situasi? Atau jangan-jangan tidak ada yang berubah sejak dulu: belum ada ruang yang adil bagi perempuan sejak dulu dan pandangan yang adil tanpa melihat jenis kelamin sesungguhnya belum benar-benar menjadi pandangan masyarakat Aceh.
Sekali lagi, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kajian sejarah yang komprehensif, yang menyentuh baik sejarah elit atau sejarah politik maupun sejarah masyarakat atau sejarah sosial menjadi hal yang sangat penting dilakukan. Persoalan ketidakadilan gender terus berkembang seiring dengan perkembangan di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama. Globalisasi membuat tak satupun masyarakat di pojok dunia paling terpencil pun bebas dari interaksi –dan pengaruh—dunia di luarnya.
Data sejarah bisa menjadi bukti untuk menilai bagaimana kondisi keadilan gender di suatu masyarakat. Namun, kita hidup dengan dan dalam dinamika sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama yang terus berkembang. Artinya, berbagai sistem sosial-politik baru dapat mempengaruhi pembentukan pandangan dan konsep gender baru.
Di Aceh misalnya, konflik panjang antara pemerintah Indonesia dan GAM dan penerapan syariat Islam dalam sistem hukum formal jangan-jangan telah menghasilkan praktek dan konsep tertentu tentang gender.
Penggunaan data sejarah amat membutuhkan berbagai kontekstualisasi agar penilaian kita bisa lebih valid, dan yang terpenting penilaian tersebut tidak menjadi alasan untuk menolak berbagai upaya penguatan keadilan gender.***
*) Farid Muttaqin adalah aktivis hak-hak perempuan dan keadilan gender, tinggal di Banda Aceh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
SummarizeShare237Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Mencintai Bahasa Daerah

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com