• Latest
LITERASI DAN SIKAP KITA

LITERASI DAN SIKAP KITA

March 28, 2023
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

March 12, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026

Tadarus – Surah Al-Baqarah ayat 11

March 10, 2026

Bedah Buku – Kitab al-Shifa

March 10, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

LITERASI DAN SIKAP KITA

Redaksi by Redaksi
March 28, 2023
in Artikel, Literasi, Membaca, Menulis, Pendidikan
0
LITERASI DAN SIKAP KITA
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dewi Sofiana

Baca Juga

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026

Berdomisili di Bireun,  Aceh

Saat ini, tema literasi ramai dibicarakan. Secara seremonial banyak kegiatan yang mengusung tema tersebut, terutama di sektor pendidikan. Literasi sering akrab dalam ucapan, tetapi masih kurang diakrabi dalam kehidupan. Padahal, literasi merupakan sebuah keniscayaan dalam hidup. Peradaban manusia tak terlepas dari literasi. Literasi menjadi bagian yang  mengiringi perjalanan hidup manusia hingga sampai pada zaman modern sekarang ini. Oleh karena itu, tak berlebihan jika dikatakan literasi memegang peranan penting dalam membidani lahirnya peradaban dan kejayaan suatu bangsa.

Seiring perkembangan kehidupan manusia, literasi menjadi  jantung pendidikan dan  urat nadi peradaban. Sedemikian pentingnya, sehingga kita patut   merasa khawatir jika literasi belum dianggap penting oleh  kita.

Apakah literasi itu? Penulis yakin,  istilah literasi bukan lagi kata yang asing didengar, terlebih bagi dunia pendidikan. Menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, suatu kegiatan atau aktivitas untuk membudayakan gerakan membaca dan menulis. Dalam definisi yang sederhana,  literasi adalah kegiatan membaca dan  menulis. Sebagai ummat Islam membaca bukanlah hal yang baru bagi kita. Ayat pertama yang  diwahyukan kepada Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril adalah  Iqra’, yang artinya bacalah.

Betapa pentingnya membaca dalam Islam, hingga penegasannya disebutkan melalui kalam Illahi, jauh sebelum budaya literasi dicanangkan oleh kehidupan sekarang.

Islam merupakan agama yang menuntun kehidupan umat dengan membaca. Lalu mengapa kita sebagai negara dengan ummat muslim terbesar dunia justru menjadi negara dengan minat baca rendah ?

Membaca merupakan kegiatan yang sarat manfaat. Membaca bisa dari buku, majalah, surat kabar, ataupun sumber bacaan lainnya, baik dalam bentuk kertas maupun digital. Membaca dapat memberi wawasan seluas dunia. Membaca dapat membentuk karakter bijak, menciptakan insan cerdas, dan berilmu.  Intinya dengan membaca kita bisa mengenal dunia sekaligus membentuk pola pikir kritis dan terarah. Membaca mampu membuka cakrawala berpikir seseorang. Sedangkan menulis sebagaimana yang disebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),  pengertiannya adalah melahirkan pikiran atau gagasan dengan tulisan.  Secara sederhana menulis dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan mentransformasikan pikiran melalui bahasa tertulis dengan menggunakan huruf sebagai pembentuk kata dan kalimat.  

Dalam berbagai kesempatan, penulis sering  menyampaikan bahwa menulis tidak sesulit yang dibayangkan. Ibarat kita mengubah sesuatu yang hendak disampaikan secara lisan diganti dengan bahasa tulis. Gampang bukan? Selanjutnya hanya tinggal berlatih dan berlatih. Menulis merupakan kegiatan yang bisa melahirkan kreativitas seseorang dan membuat pembacanya tercerahkan. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan tulisan mempunyai kekuatan dahsyat  dalam melahirkan peradaban manusia.

Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi satu sama lain. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Apabila tidak menulis, maka tidak ada tulisan yang bisa dibaca. Sebaliknya, apabila tidak membaca,  maka akan sulit untuk menulis karena kurang terbukanya wawasan dan kreatifitas untuk melahirkan sebuah gagasan lain.

Sebuah petuah bijak menyatakan; membaca membuat kita bisa mengenal dunia, menulis membuat kita bisa dikenal dunia. Jadi betapa pentingnya literasi baca tulis itu dalam kehidupan.

Kita dapat mengambil pembelajaran dari sejarah terdahulu, bagaimana suatu bangsa dan negara menjadi masyur dan berjaya karena literasi telah menjadi budaya dalam kehidupan mereka. Sebagai contoh, dalam sejarah peradaban Islam dapat dilihat bagaimana tradisi literasi Islam melahirkan tulisan –tulisan para pemikir dan ulama yang sudah berumur ratusan tahun sampai saat ini masih eksis dipelajari sebagai sumber ilmu pengetahuan. 

Namun sangat menyedihkan, sampai saat ini Indonesia masih tergolong negara dengan budaya literasi amat rendah dibandingkan dengan negara lainnya di dunia.

📚 Artikel Terkait

Bencana Ini Diskriminatif

Data Gender dan Anak Penting Untuk Perencanaan Pembangunan

LPD Kunjungi Ibu Rohani Disabilitas Yang Mahir Melukis

Ironi Masa Kini : Anak-anak dan Gadget

Beberapa survei dari lembaga terpercaya dunia menyuguhkan hasil yang menyedihkan.  Data UNESCO  tahun 2016, menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia  sangat memprihatinkan, yaitu hanya 0,001%. Artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca. UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) merupakan Badan PBB yang  bertugas mengurus bidang pendidikan, ilmu dan kebudayaan.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh PISA (Program for International Student Assesment)  menunjukkan data yang tidak jauh berbeda, dimana  tingkat literasi Indonesia masih rendah dibandingkan  dengan negara – negara di dunia.

Responden pada survei  ini  adalah anak sekolah usia 15 tahun ke atas (kelas menengah). Survei PISA 2015 menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 64 dari 70 negara, sedangkan hasil survei tahun 2018 menunjukkan posisi Indonesia berada pada peringkat 74 dari 79 negara.

Suka atau tidak, kita tak bisa menolak  hasil survei tersebut. Inilah kenyataan yang sesungguhnya. Kenyataan yang menyuguhi kita tentang  kondisi budaya literasi masyarakat  Indonesia . Pun di era global yang tingkat persaingan dan daya saing semakin kompetitif. Lalu peran apa yang bisa kita lakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap realita ini?

Sebagai orang Indonesia, terlebih praktisi pendidikan  pastinya kita akan merasa sedih dengan fakta yang disuguhkan tersebut. Apakah kondisi demikian akan  membuat kita merasa tersudutkan atau justru menjadi pelecut agar segera bertindak membuat perubahan?

Perubahan dapat dilakukan, dengan memfungsikan Iqra’ dalam berbagai esensi kehidupan, Bukankah kita ummat yang memegang teguh  kitab suci Al quran, dimana ayat  pertama diturunkan adalah Iqra’,  yang artinya bacalah?

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, umumnya karena masih kurangnya kesadaran orang tua, masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah tentang pentingnya budaya membaca. Sebagai gambaran yang dapat dijadikan bukti terkait dengan rendahnya minat baca, adalah  perpustakaan kalah populer dengan tempat – tempat publik lainnya. Buku atau bahan bacaan lainnya adalah benda yang sepi peminat dan jarang disentuh. Rasanya tak berlebihan jika dalam hal ini penulis beranggapan bahwa umumnya masyarakat kita belum mengganggap buku dan sumber bahan bacaan lainnya sebagai sesuatu yang penting.  

Ironisnya, sekolah sebagai institusi pendidikan belum juga sepenuhnya  mampu menghadirkan suasana cinta literasi kepada insan didiknya.  Buku  terpajang rapi di rak – rak perpustakaan. Tertata indah pada pojok – pojok baca. Namun kehilangan esensi karena tidak dihidupkan ruh literasinya. Misalnya , bagaimana mungkin  siswa suka membaca, jika gurunya  tidak mencontohkan dengan sikap serupa? Bagaimana mungkin  siswa tergugah semangatnya untuk  mencintai dunia literasi jika gurunya justru  tak menunjukkan  cinta baca kecuali sekadar kewajiban memahami dan membaca buku pelajaran yang wajib saja.

Sejatinya, sekolah sebagai tempat yang mewadahi terlaksananya kegiatan pendidikan,  diharapkan benar – benar mampu menggiatkan literasi sesuai tujuan dan fungsinya, bukan  semata – mata slogan belaka.  Melihat dari ruang lingkupnya, institusi pendidikan seharusnya menjadi tempat untuk menumbuh kembangkan dan memajukan budaya literasi. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal bertanggung jawab terhadap upaya tersebut, karena disinilah wadah pendidikan terhadap para generasi. Sekolah merupakan cikal terbentuknya insan bangsa yang maju, terdidik dan berkarakter.

Pendidik menjadi ujung tombak dalam program besar ini  dan menjadi pelaksana di garda terdepan. Meskipun demikian, alangkah bijaknya jika kita   semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjadikan literasi menjadi budaya kehidupan. 

Patut diapresiasi terhadap mereka dari berbagai kalangan yang telah melakukan upaya sedemikian rupa untuk menghadirkan minat baca dan menghidupkan budaya literasi baik terhadap anak maupun masyarakat pada umumnya. Mereka berbentuk  komunitas, gerakan atau perseorangan pegiat literasi. Berbekal komitmen yang patut diacungi jempol, mereka ikut mengabdikan dirinya dalam memajukan literasi. Banyak upaya yang telah dilakukan. Diantaranya, memberi motivasi literasi kepada para siswa di sekolah – sekolah, menginisiasi hadirnya Pustaka Desa, dan mendirikan pojok baca di rumahnya agar bisa diakses oleh anak – anak sekampung. Bahkan ada yang menyumbangkan tenaga dan waktunya, menjangkau daerah – daerah pelosok dengan sepeda motor yang membawa keranjang penuh buku untuk dibagikan dan dibaca oleh anak atau masyarakat setempat. Berbagai upaya ini tentu tak akan berarti bila segenap elemen tidak saling mendukung dan bersinergi.

Selain itu peran pemerintah memegang kendali utama. Sebagai pemangku kebijakan pemerintah diharapkan mampu melahirkan kebijakan – kebijakan yang menciptakan atmosfir cinta literasi dalam kehidupan masyarakatnya khususnya usia pelajar. Apalagi  di tengah gempuran arus negatif teknologi informasi yang kian  menyeret anak ke dalam jebakan pengaruh negatif internet seperti game online, konten pornografi, konten kekerasan, dan konten negatif lainnya. Keadaan bertambah runyam akibat pandemi corona yang turut  melumpuhkan sektor pendidikan.

Sejatinya, literasi tak akan maju melainkan dengan segenap upaya serius untuk menumbuh kembangkan dan menyuburkannya hingga menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan. Selama kita masih memandang sebelah mata terhadap literasi, maka cita – cita menjadi bangsa yang  maju dan berjaya hanya sebuah mimpi belaka ! 

 

 

Dewi Sofiana, Domisili Bireuen

Email: dewi_sp17@ymail.com

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Terkait

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 12, 2026
0

Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian moral dan politik bagi dunia internasional....

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh Masrur Salamuddin Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 menandai titik balik penting dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam desain penyelenggaraan pemilihan umum. Mulai 2029, keserentakan Pemilu nasional dan...

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU. (Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh) Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir hutan di Sumatera. Dalam berbagai forum, dari seminar akademik...

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

by Hanif Arsyad
March 12, 2026
0

Oleh: Hanif Arsyad  Akademisi Universitas Malikussaleh dan Penggiat literasi Di tengah berbagai evaluasi tentang kualitas pendidikan di Aceh, satu pertanyaan penting muncul: ke mana sebenarnya arah pendidikan kita? ...

Next Post

MENANTI KEAJAIBAN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Tentang Kami
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Punya tulisan menarik?
Kirim ke Redaksi via WhatsApp
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com