Oleh : Hurriyatuddaraini(Inong Literasi) “Abang…rindu…” Suara Nadia patah di tenggorokan. Ia berdiri di ambang pintu rumah mungil mereka, jerit hatinya...
Read moreDetailsOleh : Mustiar Ar Pasar Peunayong pagi itu hidup oleh suara orang-orang yang berjuang dengan caranya masing-masing. Amir berdiri di...
Read moreDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Gundukan tanah merah itu masih basah. Kicauan burung sesekali terdengar, seolah mendendangkan simfoni kesedihan atas sebuah...
Read moreDetailsOleh Ria FachriaInong Literasi (Berdasarkan penuturan dari Iza) Hujan turun sangat deras beberapa hari ini. Aku dan anak-anak sedang bermain...
Read moreDetailsOleh: Ilhamdi Sulaiman Warkop Babe Togap sore itu sunyi. Hanya suara kipas tua yang berputar pelan dan sendok yang sesekali...
Read moreDetailsOleh Yusriman Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Andalas Man tumbuh di sebuah kampung kecil yang jalannya lebih sering berlumpur daripada...
Read moreDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir...
Read moreDetailsOleh Hurriyatuddaraini(Inong Literasi) Aku berjalan pelan di belakang Ibu. Kakiku tenggelam sedikit setiap melangkah. Tanahnya lembek, dingin, dan berbau lumpur....
Read moreDetailsOleh Asmaul Husna(Inong Literasi) Syifa, gadis berkerudung biru itu tampak gelisah. Jemarinya sibuk memainkan sedotan plastik di dalam gelas yang...
Read moreDetailsOleh Asmaul Husna(Inong Literasi) Jam menunjukkan pukul 00.30 WIB, namun mata enggan terpejam. Padahal biasanya pukul 22.00 aku sudah berkelana...
Read moreDetails