• Latest
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk

Post Power Syndrome dan Pencitraan Yang Terus Kasmaran Untuk Tetap Terus Berkuasa

Januari 4, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Post Power Syndrome dan Pencitraan Yang Terus Kasmaran Untuk Tetap Terus Berkuasa

Jacob Eresteby Jacob Ereste
Januari 4, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: #Post Power Syndrome
Harapan Besar Sri Eko Sriyanto Galgendu Kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto Dapat Segera Memulihkan Ekonomi Indonesia Yang Terpuruk
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Jacob Ereste :

Kata seorang kawan psikolog, post power syndrome itu adalah penyakit jiwa seorang mantan penguasa. Entah dalam bidang apa saja, mulai dari level lurah di desa hingga presiden yang mengalami pubertas kedua setelah pernah jatuh cinta pada kekuasaan yang pernah ada dalam pelukan dirinya.

Ibarat kasmaran yang tengah memabukkan, post power syndrome itu relatif sulit diredakan. Apalagi hendak disembuhkan. Sebab yang bersangkutan sedang dalam suasana mabuk kepayang terhadap kekuasaan yang pernah dia rasakan sangat nikmat, meski terasa sangat menyakitkan bagi orang lain, Utamanya bagi mereka yang merasa tertindas atau dirugikan akibat dari kekuasaannya yang semena-mena, menindas rakyat, merampas hak-hak rakyat dan menjungkir-balikkan tatanan hukum demi dan untuk memenuhi ambisi pribadi, maupun hasrat anak dan istri hingga menantunya yang ingin melanggengkan kekuasaan.

Tipologi manusia seperti itu tidak sedikit adanya di Indonesia, hingga semua orang dapat menyaksikan polah tingkah mereka yang sangat norak dan kampungan, tanpa rasa malu, apalagi hanya sekeladar untuk mengindahkan ajaran dan tuntunan agama yang telah dijadikan semacam asesoris semata. Seperti gelar bodong dan ibadah yang cuma untuk memanipulasi publik dengan kesan yang baik sebagai manusia yang ingin dianggap patut dan layak dihormati. Padahal, keengganan orang banyak hanya karena kekuasaannya yang despotik, otoriter, culas, licik dan tega menindas rakyat yang lemah.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Lalu penyakit post power syndrome yang membius dirinya itu, menandakan kebodohan spiritual yang kering dan dangkal, jauh dari nuansa ketuhanan. Maka itu wajar ideologi yang dituduhkan padanya adalah pengikut partai yang tidak ber-Tuhan. Sebab semua takaran yang diberlakukan hanya material belaka. Dan kekuasaan bagi dirinya nyaris tidak memiliki muatan dimensi ibadah.

Jadi sungguh sulit untuk menggarap dari kekuasaan yang dikeloninya itu akan menampilkan pengabdian, pengayoman, perlindungan apalagi pelayanan. Sebab dia sendiri justru sangat mendambakan sekali pelayanan dari masyarakat.

Jadi yang salah adalah persepsi bloko suto dari rakyat yang terbius oleh janji palsu mereka hendak mengayomi, melindungi dan melayani sebagai pelengkap basa-basi saat menerima amanah dari rakyat. Lalu sumpah serta janji yang mengatas namakan Tuhan itu pun, sekadar pelengkap untuk mengelabui rakyat yang dianggap cukup mengkonsumsi  janji-janji yang palsu sekalipun. Karena yang penting adalah hembusan angin surga yang menyegarkan.

Begitulah, pada tiga puluh tahun silam lebih, telah ditulis puisi esai dengan narasi tragis yang melukiskan kisah perjuangan seorang buruh wanita Indonesia yang perkasa — Marsinah dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur — tanpa pernah membedakan hak kaum buruh Perempuan dengan hak kaum buruh laki-laki, tentang janji dan harapan besar telah menggantung perempuan itu,  hingga kuyu layu terkulai tidak kunjung berbuah.

Sebab beban kaum buruh yang tersunggi sangat berat di atas pundaknya harus ditebus dengan penganiayaan hingga kematian yang dianggap banyak orang sia-sia. Setidaknya, pihak pemerintah sendiri tak hendak mengakui Marsinah sebagai pejuang kaum buruh Indonesia yang tewas ditangan aparat pada tahun 1993.

Kasus kematian pejuang kaum buruh yang gigih dan tangguh berjuang hingga akhir hayatnya sampai di liang lahat ini pun menunjukkan post power syndrome  yang bisa dianggap lebih santun dari penguasa yang rakus dan tamak tidak hanya dalam arti material, tetapi juga kekuasaan yang tak diusik dan digoyahkan. Begitu juga perilaku degil dari cawe-cawe yang tak kunjung bisa diredakan. Karena sikap serupa itu pertanda dari haus kekuasaan yang tak bisa diredakan. Lantaran dimensi dan frekuensi serta nuansa spiritualitas yang harus mampu mengasuh etika, moral dan akhlak mulia manusia telah tercampak di got atau gorong-gorong yang tak sepantasnya untuk ikut diurusi, karena petugas untuk itu sudah ada, tak patut diambil alih pula, kecuali hanya sekedar untuk sensasional dan pencitraan belaka.

ADVERTISEMENT

Banten, 3 Januari 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Tips Sederhana Memperlakukan Barang Milik Negara

Kenangan Masa Kecil di Desa: Tradisi yang Mulai Hilang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com