HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Agustus 2025

Juli 31, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pengupas Cangkang Kehidupan

Redaksi by Redaksi
Juli 5, 2018
in Alam, Feature, Humaniora
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Iqbal Perdana
Staff di CCDE
Tubuhnya bergetar saat mengupas seonggok cangkang petang itu. Nur harus mengayunkan sikien catok (alat untuk mengupas cangkang tiram) empat sampai lima kali agar bibir cangkang lumat, “Kalau besar sampai 7 kali,” katanya. Mengadu sikien catok dan cangkang begitu saja tidak cukup, “Ada celahnya, harus diarahkan ke celah itu,” terang Nur sambil menunjuk celah pada wujud cangkang itu. “Mungkin untuk pertama tidak bisa melihat, karena sedikit sukar untuk dicari.”
Tangan kirinya dibalut sarung tangan berwarna coklat, sedang tangan kanannya telanjang, hanya menggenggam sikien catok. Sarung tangan yang ia gunakan juga sudah sobek, agaknya tidak layak pakai, ada bolong besar di jari telunjuk dan jari tengah sarung itu. Alhasil, banyak luka bekas sayatan cangkang tiram yang menganga di telapak tangannya.
Nur. Wanita berumur setengah abad itu berprofesi sebagai nelayan tiram. Berawal dari membuntut teman, “Jadi keterusan,” akunya. Awalnya ia bekerja sebagai pencuci pakaian, mulai dari keluarga yang ‘biasa-biasa’ sampai keluarga geuchik ia kerjakan. Meski demikian, uang yang diperoleh dari pekerjaan itu tidak mampu menopang kebutuhan hidup ibu dengan tiga anaknya itu. “Waktu cuci pakaian dulu tidak cukup untuk keluarga saya,” jelas Nur kemudian.
Lantas pada tahun 2004, ia mulai menggeluti pekerjaan sebagai nelayan tiram. Berbekal kemauan dan tekad yang kuat, wanita itu rutin mengikuti temannya memanen tiram. Nur hanya melihat cara temannya mencabut tiram dari bebatuan atau permukaan kayu, cara berdiri yang kokoh dalam arus sungai, dan cara menggunakan sikien catok.
Lokasi memanen tiram ada dua tempat; sepanjang Krueng Raya (mulai dari Jembatan Lamnyong sampai Jembatan Kajhu) dan parit yang bersebelahan dengan Krueng Raya, Aceh Besar. “Arus yang deras, di parit besar itu,” tunjuk Nur. Untuk memanen tiram, ia berangkat setelah shalat zuhur, “Setelah salat zuhur, rasanya lebih sejuk,” terangnya.
Nelayan tiram yang biasa memanen di dua lokasi itu berjumlah 12 orang, semuanya wanita. Namun dalam keluarga Nur, yang menjadi nelayan tiram hanya Nur. Saat hendak memanen, Nur selalu menggunakan sepatu bot, sarung tangan, dua sikien catok, dan topi yang terbuat dari daun pandan. Pun demikian, “Kadang-kadang saya tidak pakai sepatu, karna berat,” aku Nur melucu.
Tiram yang berada di perairan Krueng Raya merupakan marga ostrea dan crassostrea. Tiram yang bermarga ostrea berbentuk pipih, besar maksimalnya mencapai 5 sampai 6 Inch. Sedangkan tiram bermarga crassostrea berbentuk piala, besar maksimalnya mencapai 4 Inch. Namun,  tiram jenis crassostrea yang dominan di perairan Krueng Raya itu. Hewan tanpa tulang punggung itu biasanya menempel di tiang penyangga jembatan, batang kayu, juga dinding sungai. “Tiram ini (jenis crassostrea-red) biasa bertumpuk di satu lokasi,” terang Nur.
Untuk mengambilnya, Nur menggunakan dua sikien catok, sikien catok yang pertama disangkutkan punggung cangkang, sedangkan sikien catok yang lain menghantam dari atas. Sikien catok yang disangkutkan itu bermaksud agar si nelayan tidak terbawa arus sungai, disamping itu, posisi seperti itu memungkinkan Nur mengambil ancang-ancang saat mengayunkan sikien catok yang lain, “Jadi kuat mukulnya,” aku Nur.
Memanen tiram di sungai bisa memakan waktu tiga sampai lima jam, tergantung banyak tidaknya tiram yang didapat, “Kalau sudah penuh goni ini ya pulang.” Setelah selesai mengangkat tiram dari tempat persugihannnya, para nelayan tiram mendiamkan tiram dalam goni selama sehari, “Besoknya baru di kupas,” ungkap Nur. Menurut Nur, tiram yang dikupas tidak boleh direndam, “Karna akan menghilangkan rasa manisnya.”
Pagi, sekira pukul delapan, ia mulai mengupas kulit tiram. “Paling banyak 13 kantong.” Saat mengupas, ia hanya memerlukan satu sikien catok, dan satu sarung tangan. Satu plastik tiram diukur dengan cangkir plastik setinggi jari telunjuk. Setelah diukur menggunakan cangkir, tiram yang telah dicuci bersih itu ditaruh dalam plastik berukuran 1 kg, lalu diisi air secukupnya, “Agar lebih tahan lama,” aku Nur.
Tiram yang sudah ditaruh didalam plastik akan awet sampai empat hari, tiram yang sudah lama didalam air akan berubah warnanya, menjadi putih pucat dan bagian tubuhnya mulai terkelupas. Air yang digunakan juga akan keruh. Nur menjajalkan tiram hasil panennya di ujung jembatan Krueng Raya. Disitu ada empat pedagang tiram. Dalam satu hari Nur mampu menjual delapan sampai sembilan kantong. Namun, saat bulan ramadhan, “Delapan sampai Sembilan kantong itu paling sedikit,” akunya.
Untuk kebutuhan sehari-hari, ia harus merogoh kocek sampai Rp 50 ribu, mulai dari membeli kebutuhan dapur untuk empat kepala, sampai menabung untuk membayar tagihan listrik dan air. Ia bertempat tinggal di desa cadek kecamatan Baitussalam.[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 231x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 180x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

Fenomena Aneh, Muncul Lubang Raksasa di Aceh dan Shanghai China

Fenomena Aneh, Muncul Lubang Raksasa di Aceh dan Shanghai China

Februari 14, 2026

Nada-Nada Alam yang Membentuk Kekuatan

November 28, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Asal Mula Alam Semesta: Perspektif Ilmiah dan Religius

Juni 1, 2025
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Next Post

Rintihan Sang Jalang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com