Oleh Tabrani Yunis
Hari itu Sabtu, 6 Oktober 2024 usai mengantarkan anak yang tua, Ananda Nayla ke SMA Negeri 3 Banda Aceh, seperti biasa saya singgah dahulu ke POTRET Gallery, sebuah usaha bagi saya untuk mencari rezeki dan tempat belajar entrepreneurship bersama keluarga dan para pekerja. Saya menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan, karena pada hari itu saya juga harus mengantarkan anak yang kedua, ke Museum Aceh untuk mengikuti acara yang dirancang dan diselenggarakan bersama oleh sekolah dan peserta didiknya, yang menurut cerita anak saya, memakan waktu selama lebih dari satu bulan masa persiapan. Lumayan lama ya? Pasti ini persispan yang hebat, karena anak-anak yang usia SD dan SMP dilibatkan secara aktif dalam kegiatan tersebut.
Ya, pagi Sabtu itu, saya bersama anak, Aqila Azalea Tabrani Yunis, yang kini masih di kelas 7 Istanbul tiba di kompleks museum Aceh. Saya memarkirkan mobil dan kemudian menuju rumah tradisional Aceh yang begitu memesona berupa rumah panggung dengan ornamen adat budaya Aceh. Di bawah rumah, Lantai bawah, tampak anak-anak yang merupakan murid SDIC Anak Bangsa itu, sedang sibuk menyiapkan lapak untuk menggelar produk-produk yang akan mereka jual kepada para pengunjung kegiatan yang diselenggarakan oleh Sekolah Islam Cendikia (SIC) Anak Bangsa Banda Aceh bersama para peserta didik, dengan sekaligus menghadirkan orangtua masing-masing.
Bukan hanya kesibukan itu yang terlihat. Dua anak perempuan yang merupakan pelajar SMPIC itu tampak sedang memasang sebuah spanduk di bagian depan rumah Aceh. Spanduk yang menginformasikan tentang kegiatan “ Awareness Day”. Belajar tentang bencana dan Megathrust. Berarti ada kegiatan edukasi tentang bencana. Lalu, mengapa pula banyak murid SD yang menggelar dagangan di bawah rumah Aceh?
Ternyata, kegiatan itu bukanlah kegiatan yang illegal. Artinya bukan kegiatan anak yang dilarang, apalagi membuka lapak di bawah rumah adat Aceh yang merupakan wilayah wisata budaya itu. Kegiatan itu adalah bagian dari kegiatan Awareness Day. Sudah menjadi agenda terencana dari pihak sekolah untuk selalu membangun kesadaran anak-anak sejak dini, memiliki jiwa entrepreneur dan juga memiliki pengalaman menjalankan usaha. Maka, pada setiap kegiatan edukasi seperti Kegiatan Awareness Day ini, selalu dilakukan beriringan dengan kegiatan entrepreneurhip. Mereka menyebutnya dengan sebutan, Marketing Day”. Sangat menarik dan penting, bukan?
Tentu saja. Tak dapat dimungkiri bahwa ini adalah kegiatan yang menarik, penting dan bahkan berorientasi ke masa depan. Mengapa demikian, jawabannya sangat sederhana. Ya, dengan kegiatan ini, anak-anak usia SD sudah mulai mendapat pemahaman atau pengetahuan tentang berdagang yang diawali dengan perencanaan usaha, meliputi perencanaan produk yang bakal dijual. Ya, anak-anak belajar bagaimana memilih atau menentukan produk apa yang cocok untuk dijual, tahu pula apa saja peralatan yang harus dibawa. Tentu bukan hanya itu, anak -anak juga belajar bagaimana menggelar produk agar bisa menarik pembeli. Mereka juga belajar mampu berkomunikasi dengan pembeli ketika ada pembeli yang bertanya dan menawar. Tidak kalah penting, setelah barang dagangan mereka laku, mereka juga tahu menghitung untung.
Jadi, kegiatan ini adalah kegiatan yang Edukatif, dan memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak sejak usia dini. Pengalaman seperti ini, merupakan pengalaman yang sangat berharga dan bisa bertahan dalam ingatan atau memory anak dalam waktu lama. Pengalaman yang menjadi bekal awal bagi mereka yang pada suatu saat ada yang memilih profesi sebagai entrepreneur andal di masa depan.
Apalagi, sekolah ini melakukan kegiatan marketing day berkali- kali setiap kali mengadakan kegiatan edukasinya. Bayangkan saja, bila murid SD selama 6 tahun mendapat pengalaman ini secara berkelanjutan, maka pengetahuan dan ketrampilan itu akan sangat melekat kental dalam jiwa atau diri peserta didik. Ditambah lagi bagi murid yang dari SDIC tersebut melanjutkan pendidikan ke level SMPIC, maka selama 9 tahun anak akan mendapatkan pengetahuan, ketrampilan dan soft skill di bidang entrepreneurhip.
Kiranya, kegiatan edukatif seperti ini perlu dipertahankan oleh sekolah ini, karena kegiatan ini sangat diperlukan bagi masa depan anak. Walau tidak menjadi pilihan pertama, sebagai alternatif pun akan sangat membantu masa depan generasi dalam membangun kehidupan yang lebih baik. Akan sangat bagus bila kegiatan yang edukatif dan berorientasi pada kebutuhan masa depan ini, bisa dilakukan oleh sekolah -sekolah lain di mana saja.
Saya pun, sebagai orangtua, mendapat banyak pelajaran darı kegiatan ini. Padahal saya sebenarnya diundang hadir untuk kegiatan bincang edukasi terkait bencana dan Megathrust, namun kegiatan marketing day ini menjadi catatan penting bagi saya yang juga lama mengajarkan mata kuliah entrepreneurhip di institusi pendidikan.
Tabrani Yunis
Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) dan Pegiat Literasi