• Latest
Sang Pembangkang

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Juli 23, 2023
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Bagian 13

Redaksiby Redaksi
Juli 23, 2023
Reading Time: 4 mins read
Sang Pembangkang
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Bussairi D. Nyak Diwa

Bulan Juli tahun 1983 aku dinyatakan lulus dari SMP Negeri Bakongan. Dengan demikian tamatlah sekolahku di satu-satunya SMP di Kacamatan Bakongan itu. Kebetulan di tahun yang sama dibuka pula Sekolah Menengah Atas Swasta untuk pertama kali di Kota pesisir ini. Maka otomatis pula, kami yang cikal bakal lulusan SMP tahun itu, mau tidak mau, jika ingin melanjutkan sekolah harus masuk ke SMA yang baru dibuka itu. Tak ada pilihan lain, bersama beberapa teman seangkatan, aku pun mendaftar di sekolah yang guru-gurunya tak lain adalah guru kami sewaktu di SMP juga.

Namanya juga SMA Swasta, jadi tak ada gedung sendiri. Tempat belajar kami juga menumpang pada ruang Laboratorium SMP. Demikian juga dengan proses belajar-mengajar, kadang-kadang berlangsung, kadang-kadang macet. Waktu kami di sekolah lebih banyak diisi dengan kegiatan nonkurikuler. Misalnya main bola kaki di pantai yang luas dan landai yang letaknya persis di belakang SMP. Atau main poli di halaman sekolah, bahkan banyak di antara kami yang menghabiskan waktu dengan keluyuran ke luar kompleks sekolah.

Keadaan yang terus menerus seperti ini akhirnya membuat aku jenuh juga. Tiap pagi ke sekolah, tapi sampai di sekolah kadang belajar, kadang tidak. Maklum, guru-guru yang mengajar tentu lebih mementingkan mengajar di SMP karena memang mereka guru SMP ketimbang menghabiskan waktu mengajar kami. Toh, kalau pun mereka mengajar kami, gaji guru-guru itu tetap saja di SMP. Sedangkan honor mereka di SMA kadang ada, kadang tidak. Tergantung sepenuhnya dari SPP yang kami bayar.

Hampir enam bulan aku belajar di SMA Swasta ini, aku mulai bosan. Iseng-iseng aku mengirim surat kepada abang iparku di Banda Aceh. Aku curhat tentang keadaan sekolahku, sedangkan aku ingin sekali sekolah yang sungguh-sungguh. Jika aku tetap bertahan di kampung aku khawatir sekolahku akan berantakan karena situasi dan kondisi sekolah yang tidak menentu. Kuceritakan semua keadaan sekolah yang kujalani dan tak lupa pula aku ungkapkan keinginanku untuk bersekolah di tempat yang lebih baik. Aku ingin masa depanku tidak sia-sia, seperti yang pernah disarankan oleh kepala sekolah sewaktu aku SD dulu.

Di luar dugaan, abang iparku yang bekerja di Kantor Gubernur itu menanggapi curhatanku dengan positif. Sewaktu Abang Ipar bersama kakakku dan anak-anaknya pulang kampung menjelang puasa tahun 1983 itu, dia mengajakku untuk pindah sekolah ke Banda Aceh dan tinggal bersamanya. Tentu saja, tanpa pikir panjang aku mengiyakan. Aku membayangkan, jika pindah ke Banda Aceh sekolahku tentu akan lebih baik. Maklum, sekolah di kota tentu sangat beda dengan sekolah di desa. Di kota semua fasilitas sekolah tersedia. Dengan demikian kesempatan belajar pun tentu akan lebih baik, pikirku.

Seminggu sehabis Hari Raya Idul Fitri tahun 1983 itu, kami bersiap-siap untuk berangkat ke Banda Aceh. Ayah ibuku sangat setuju aku pindah sekolah ke Banda Aceh, karena berpikir bahwa aku di Banda Aceh kelak tinggal bersama kakak kandungku sendiri. Tentu, tinggal dengan saudara sendiri sama saja tinggal bersama kedua orang tua. Tapi aku tidak memikirkan dengan siapa aku akan tinggal, yang aku pikirkan adalah bagaimana aku dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih baik. Itulah sebabnya, ketika Abang Ipar memintaku segera mengurus surat pindah aku pun menghadap kepala sekolah. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan aku sampaikan tekatku kepada Kepala Sekolah. Dan alhamdulillah, akhirnya dengan rasa berat hati Beliau merestui kepindahanku dengan mengeluarkan secarik kertas Surat Pindah dan sebuah raport berkulit karton berwarna biru pudar.

Aku masih ingat, dengan menumpang mobil Jeep Taf solar warna merah bata milik Abang Ipar, aku dan Beliau sekeluarga berangkat dari rumah di Desa Ujong Gunong Rayek. Diiringi oleh isakan ibu dan pandangan iba Ayah, aku mencium tangan kedua orang tuaku itu, mohon restu. Tapi aku tidak menangis, kesedihan yang maha hanya kusimpan di dalam hati. Aku tidak ingin semangatku patah karena hanya merasa sedih meninggalkan Ayah dan Ibu di kampung. Justru aku ingin kesedihan itu kusimpan di lubuk hati yang paling dalam sebagai bekalku dalam menuntut ilmu. Aku bertekat untuk menyimpan kesedihan sementara waktu untuk kubawa pulang kembali kelak bersama keberhasilan. Hanya doa yang tak putus-putus kulafadzkan di dalam hati, semoga kelak aku dapat berjumpa kembali dengan kedua orang tuaku itu.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

(Bersambung)

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Siswi SMKN 1 Calang Raih Medali Emas di Ajang Banda Aceh Taekwondo Championship

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com