POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ratapan Anak Pinggir Sungai

Bagian Lima

RedaksiOleh Redaksi
June 20, 2023
Ratapan Anak Pinggir Sungai
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Munawir Abdullah

 

TEPAT pukul 07 pagi, aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Dari celah-celah jendela, terlihat Anwar sedang merapikan tempat tidurnya. Kamar tidur Anwar pas berada di posisi sebelah kanan pintu utama.

Aku langsung memberikan salam sambil mengetuk pintu rumahnya. Anwar yang lagi merapikan tempat tidur langsung keluar dari kamar untuk membuka pintu.

“Tepat pukul tujuh ya” kata Anwar sambil membuka pintu.

Aku langsung masuk ke rumah Anwar, tanpa menghiraukan ucapan Anwar.

“Kamu serius ingin berjumpa dengan bupati?” tanya Anwar padaku.

“Kamu juga tahukan, siapa di belakang pabrik itu?” tanya Anwar lagi padaku.

Kekhawatiran Anwar memang sangat wajar. Pabrik itu berdiri bukan tanpa ada yang backup. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, salah-satu pejabat teras di kabupaten berada di belakang pabrik itu.

Kondisi perpolitikan yang barus selesai beberapa bulan yang lalu, semakin memperkuat posisi dia di dalam pengaruhi kebijakan di tingkat kabupaten. Pasalnya, kandidat dukungannya sebagai calon bupati dalam Pemulihan Umum Kepala Daerah (pemilukada) itu, meraup suara tertinggi dan mengalahkan tiga pesaingnya.

Aku sebenarnya heran, saat pemilukada, izin-izin perusahaan ekstraktif sangat mudah keluar izin, begitu juga perpanjangannya. Aku tidak tahu apa motif sebenarnya kemudahan bagi mereka dalam pemberian izin, atau perpanjangan izin saat pemilukada.

Tapi, berdasarkan informasi yang aku dapatkan dari mulut ke mulut. Mereka merupakan pemodal untuk calon-calon bupati yang sedang bertarung. Sehingga siapapun yang terpilih, mereka dengan leluasa dapat mengandalikan kebijakan pemerintah. Bupati layaknya pion dalam permainan catur untuk melindungi raja.

“Jangan takut War, kita bergerak bukan sendiri, Pak geusyik sudah mendukung rencana kita. Janganlah kita kalah sebelum bertempur” aku berusaha untuk menyakingkan Anwar.

📚 Artikel Terkait

Il Principe – Bincang Sore POTRET

Sejarah Penghancuran Huruf Arab Melayu/Jawi dan Jawoe Oleh Penjajah Eropa

Anak Pertama Tidak Harus Sempurna

Teungku Chiek Kuta Karang: Ulama Pejuang, Ahli Falak dan Penasehat Perang Aceh.

Anwar hanya terdiam mendengar penjelasanku, namun dari raut wajahnya, Anwar masih terlihat ragu dengan segudang kekhawatiran yang tersimpan dibenaknya.

Mungkin, Anwar masih teringat peristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat itu, aku dan Anwar mandapatkan teror dari anak buah suruhan perusahaan. Kami sudah pernah membuat perlawan dengan  perusahaan itu. Karena keberadaannya sangat menyengsarakan warga. Semua cocok tanaman, yang merupakan sumber pedapatan warga selalu mengalami kegagalan pascapabrik itu berdiri.

“Kring… kring… kring….” Suara handphone di sakuku berbunyi.

“Assalamu’alaikum, ini dengan Bapak Boy ya?” Tanyaku setelah mengangkat telephone dari Pak Boy. Sebelum aku ke rumah Anwar, aku telah menghubungi Pak Boy. Mungkin karena faktor kesibukannya, atau karena terlalu masih pagi. Pak Boy tidak sempat mengangkat telephone ku, tapi aku sempat mengirimkannya short message service (SMS; pesan singkat).

Setelah aku berkomunikasi dengan Pak Boy sekitaran 10 menit melalui handphone dan menjelaskan secara singkat maksud dan tujuan pertemuan dengan bupati, aku pun menutup telephone.

“War, kata Pak Boy. Bupati pukul 10.00 pagi nanti ada di kantornya. Tepi dia hanya setengah hari di kantor. Setelah itu ada pertemuan lagi katanya” aku menjelaskan pada Anwar hasil telephone-nanku dengan Pak Boy.

Anwar masih terlihat diam dan bingung, sepertinya trauma peneroran beberapa bulan yang lalu sudah kembali menghantuinya. “Wir, kau masih ingat kan resolve yang ditodong anak buah suruhan perusahaan waktu itu”

“Iya War, aku masih ingat betul kejadian itu” perusahaan itu tidak segan-segan meneror siapa saja yang berani mengusiknya.

“Tapi gini War, kemarin kita bertindak tanpa sepengetahun Geusyik. Kita hanya mengandalkan kemampuan kita berdua. Makanya kita tidak berani bertindah lebih, setelah kita di teror sama anak buah suruhan perusahaan itu”

Memang saat itu, kami tidak berdiskusi secara luas dengan warga, hanya bermodalkan keberanian yang telah dirasuki amarah secara membabi buta. Kami mendatangi perusahaan, dengan harapan, mereka bersedia untuk mengevaluasi kembali keberadaan pabrik itu. Kalau tidak, kami mengamcam mereka akan membuat demo di depan perusahaan dan mereka harus bertanggung jawab atas kerusakan persawahan warga.

Dua hari kemudian, anak buah suruhan perusahaan datang menjumpai kami. Mereka memperlihatkan pestol jenis resolve sambil mengamcam “kamu tahu ini apakan?, kalau kalian berani macam-macam sama perusahaan, jangan salahkan kami, timah ini akan bersarung di tubuhmu”.

Aku dan Anwar saat itu memang terdiam.

Kami tidak mungkin membuat perlawan, jumlah mereka lebih banyak dari kami. Aku tidak ingat lagi, berapa jumlah pasti mereka. Dari postur tubuh, kelihatannya mereka orang-orang terlatih, yang memang dipersiapkan untuk mengamankan asset negara.

“Kali ini kita sudah siap War, sama Geuyik sudah kita laporkan. Warga juga sudah tahu. Bahkan waktu itu, Apa Man kan pernah bilang, dia siap untuk mengumpulkan warga bila nanti kita perlukan. Ini momen tepat War untuk kita kasih pelajaran bagi perusahaan itu” aku berusaha untuk menyakinkan Anwar.

“Oklah Wir, kalau begitu, aku siap-siap dulunya. Kita pergi sekrang ke kantor bupati, biar tidak keburuan bupati keluar nanti” sambil masuk kembali ke kamarnya untuk menggantikan baju.

Aku tidak bisa meninggalkan Anwar dalam setiap kegiatanku. Dia orangnya sangat pendiam, tapi memiliki analisis yang tajam dalam pengambilan keputusan. Setiap prediksi yang dia lakukan, hampir semuanya tepat. Dia sangat lihai dalam memantau situasi dan kondisi. Berbeda denganku, aku orangnya sangat gegabah, sering mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan resiko yang bakal terjadi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Puisi-Puisi Asep Pediansyah Minggu Ini

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00