• Latest

Mata Air di Alue Merbau

April 10, 2021
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Mata Air  di Alue Merbau - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Alue Merbau | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mata Air di Alue Merbau

Redaksi by Redaksi
April 10, 2021
in Alue Merbau, Bingkai, Langsa
Reading Time: 6 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Irma Diana, R

Mahasiswi Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Prodi  Pendidikan Bahasa Inggris,  IAIN LANGSA


 

Gambar: sumur tanah memiliki sumber mata air yang tak persah kering

            Alue Merbau merupakan salah satu gampong yang ada di Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa, Aceh. Gampong atau Desa yang berdekatan dengan perbatasan Kota Langsa ini memiliki beberapa keunikan, kelebihan, adat istiadat serta lahan pertanian dan  hasil tani begitu melimpah. Yang lebih menakjubkannya lagi, ada satu mata air yang memang tidak pernah kering sejak zaman dahulu sampai sekarang. Sehingga sayang, jika tidak dipublikasikan di  khalayak ramai. 

Baca Juga

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 25, 2025
Mata Air  di Alue Merbau - a256aeb3 4009 4649 93b0 0f9da7f757c8 | Alue Merbau | Potret Online

Paradoks Indonesia Dalam Pandangan Prabowo Subianto

Maret 21, 2025
Mata Air  di Alue Merbau - 49ea08ab 3563 4287 81c6 5569bde8def8 | Alue Merbau | Potret Online

Janganlah Wariskan Negeri Ini Rusak Parah Kepada Anak Cucu 

Februari 20, 2025

            Sejarah  yang masih bisa kita lihat dulu hingga sekarang yaitu dari penduduknya yang mayoritas suku Batak dan Mandailing. Walaupun kebanyakan warganya orang Batak, tetapi terbukti di Alue Merbau seluruhnya adalah orang Islam. Masjid Baiturrahim menjadi salah satu bukti nyata dari arsitekturnya. Dahulu masih berupa dinding papan dan kini sudah berganti menjadi bangunan megah. Tidak hanya masjid, ada juga bangunan lama yaitu Sekolah Dasar  Alue  Merbau yang kira-kira dibangun tahun 70-an yang menjadi saksi bisu bahwasanya bangunan ini menjadi salah satu tempat menimba ilmu untuk beberapa gampong seperti Alue Pinang, Matang Cengai, Seunebok Antara dan lain-lain.

            Kelebihan Gampong ini terletak pada wilayahnya yang masih memiliki lahan persawahan  terbentang luas. Badan Pusat Statistik Kota Langsaatau singkatannya (BPS Kota Langsa) mencatat bahwasanya lahan persawahan di Alue Merbau merupakan lahan yang terluas di Kota Langsa. Rata- rata pekerjaan warga Alue Merbau sebagai petani. Perairannya didukung oleh Irigasi, sehingga perairan pada sawah sangat cukup. Irigasi juga salah satu alternatif yang digunakan petani untuk membantu mengisi air di sawah-sawah pada saat musim kemarau tiba. Hasil panen yang melimpah menjadikan Alue Merbau menjadi salah satu penghasil padi terbesar di Kota Langsa. 

            Adat istiadat yang ada pada orang Batak memiliki keunikan tersendiri. Jika bertemu dengan sesama marga, mereka akan menganggap orang tersebut adalah saudaranya dan ini disebut Martarombo. Walaupun tinggal di Aceh, tetapi sifat warga Alue Merbau tidak ada yang hilang semana mestinya sifatnya orang Batak.

            Sebelum  musim bercocok tanam padi di sawah, ada yang unik dari adat istiadat ini biasanya kenduri sawah. Kemewahannya terletak pada pemotongan seekor lembu. Jika di gampong-gampong hanya memotong seekor kambing atau ditambah ayam. Kenduri sawah yaitu suatu acara baca yasin dan kirim doa  dimana para petani berkumpul dan bergotong royong dalam hal memasak makanan dan makan bersama-sama. Tujuannya agar tanaman padi tumbuh subur dan menjauhkan tanaman padi dari berbagai macam hama yang dapat merusak hasil panen.

            Ada yang menarik di Alue Merbau ini. Gampong ini,  memiliki satu mata air yang tidak pernah kering. Namanya air kampung Jawa. Nenek saya menceritakan tentang mata air ini, ketika dia merantau dan pindah dari medan ke Alue Merbau mata air ini sudah ada. Pada saat itu penduduk desanya belum seramai pada saat ini. Warga gampong biasa memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti untuk memasak menyuci dan mandi. 

            Di beri nama mata air kampung jawa karena posisi tempatnya dikelilingi dengan orang jawa sehingga disebut Kampung Jawa. Mata air ini dibentuk seperti kawah kecil atau bisa disebut juga dengan sumur tanah, sehingga air memenuhi sumur ini. Keadaaan mata Air kampung Jawa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Dahulunya di sekeliling tempat ini masih berbahan kayu dan semak-semak belukar. Fungsi kayu ini untuk tempat menyuci para ibu-ibu. Berbeda dengan sekarang yang telah berubah menjadi beton. Beton ini sangat membantu untuk menyangkutkan pakaian yang telah selesai dicuci. Seperti yang kita ketahui, dahulu sumur cincin sangat sedikit. Jika pun ada, itu hanya beberapa orang saja yang memilikinya. Sehingga beberapa orang rela mengangkat air tersebut dari kampung Jawa ke rumah mereka masing-masing.

            Di masyarakat telah beredar cerita mistis yang telah melegenda tentang cerita ikan gabus dan ikan limbat penghuni  di mata air. Untuk menuntaskan rasa penasaran penulis langsung berbincang-bincang mengenai legenda bersama orang tua kampung atau kami sering memanggilnya nenek. Menurut beliau, ikan itu sebagai wujud penunggu. Tak kasat mata yang menjaga tempat itu dan barang siapa saja mencoba untuk menangkap ikan tersebut maka akan datang celaka untuknya. Ada sebuah kejadian seorang laki-laki  mencoba menangkap ikan gabus. Setelah ditangkap dia membawa pulang dan memakannya. Keesokan harinya laki-laki ini dikabarkan meninggal dunia. Tetapi menurut penulis ajal itu di tangan Tuhan dan tidak ada seorang pun yang tahu. Itu hanya sebab dia untuk meninggalkan dunia.

            Musim kemarau tiba. Biasanya air di dalam sumur itu  kian menyusut walaupun tidak digunakan. Ini disebabkan karena di dekat sumurnya terdapat beberapa pohon sawit. Seperti yang kita ketahui, sifat pohon sawit itu ketika musim hujan dia tidak bisa menyimpan air, tetapi ketika musim kemarau berlangsung pohon sawit akan mnyerap air yang ada di sekitarnya. 

Lokasinya yang di tengah hutan membuat siapa saja akan merasa seram/angker. Tetapi bagi ibu-ibu yang setiap subuhnya sudah datang untuk menyuci,  membuat keadaan sekitar seakan biasa saja. Siapa saja yang ingin mengunjungi tempat ini harus melewati semak belukar, persawahan dan hutan rimbun

Air sebening kaca itu tidak pernah kering, walaupun dikuras habis sampai kering. Penulis bisa memberikan informasi ini karena di saat kemarau, dari subuh sampai tengah malam warga tidak berhenti-berhenti untuk mengambil air. Setiap satu jam sekali air akan kembali memnuhi sumur.  Sumur tanah ini memiiki satu Mata air berada di bawah kaki bukit.         

Sampai saat ini sumur tanah ini masih di manfaatkan oleh warga sekitar sebagai tempat untuk menyuci dan mandi. 

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 319x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post

Rakerwil KKG MI Se-Aceh Lahirkan Sejumlah Rekomendasi

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com