
Oleh : Novita Sari Yahya
Ketika otakmu jatuh ke perut
dan nurani terseret ke selangkangan,
apa lagi yang tersisa
dari manusia selain lapar dan hasrat?
Selangkangan borjuis—
adalah bahasa yang kau pilih
untuk menjelaskan dunia:
bahwa segalanya bisa dibeli,
bahwa harga diri pun punya tarif.
Kau jual sikapmu pada pemodal,
kau gadaikan suara pada kuasa,
demi kenyang yang sebentar
dan nikmat yang lekas usai.
Menggonggonglah anjing kapitalisme kelaparan,
di sudut-sudut kota yang tak kau lihat,
berebut serpih tulang dari debu jalanan,
mengais sisa yang bahkan tak kau anggap ada.
Dan manusia—
ya, manusia yang kau abaikan itu—
turun ke derajat yang sama,
berebut tulang dengan sistem yang kau puja,
terluka tanpa pernah kau dengar suaranya.
Sebegitukah kau memandang bangsamu?
Sebegitu murahkah arti perjuangan
mereka yang gugur demi republik?
Darah yang mengering di tanah sejarah
kau tukar dengan pesta dan gemerlap malam.
Jawablah!
Dengan pidato berapi yang kau banggakan itu,
wahai borjuis, pemuja kenyamanan,
penyembah selangkangan pemodal!
Kau rayakan kemewahan
di atas tulang-tulang yang mengering,
kau sebut itu kemajuan,
padahal itu hanya pesta di atas penderitaan.
Namun dengar ini—
sejarah tak pernah benar-benar tidur.
Ia mencatat,
ia mengingat,
dan suatu hari ia akan menagih.
Bukan dengan kata,
tapi dengan gelombang yang tak bisa kau beli,
yang akan mengguncang meja-meja marmermu,
dan meruntuhkan segala yang kau kira abadi.
Bogor, 12 april 2026










© 2026 potretonline.com








Diskusi