Oleh Rosadi Jamani
Saya udah membahas kondisi Qatar dan UEA di tulisan sebelumnya. Ada follower minta, “Bang, bahas juga dong kondisi kota Tel Aviv.” Baik, demi follower yang selalu kepo, saya tampilkan potret terkini ibu kota Israel itu yang dibombardir Iran siang dan malam. Simak sambil seruput Koptagul, wak!
Di malam yang harusnya damai di Tel Aviv, sirene meraung bukan lagi sekadar peringatan, tapi seperti ratapan panjang yang tak pernah selesai. Kota yang dulu hidupnya seperti pesta tak pernah bubar, kini berubah jadi panggung tragedi yang diputar ulang tanpa jeda. Langit bukan lagi tempat bintang berkelip, tapi jalur lintasan rudal yang datang seperti tak punya rasa kasihan.
Rudal balistik dari Iran sejak akhir Februari hingga awal April 2026 jatuh berulang kali, seperti tak pernah kehabisan amarah. Di Ramat Gan, puing berserakan seperti kenangan yang pecah berkeping. Di Petah Tikva, rumah-rumah bukan lagi tempat pulang, tapi saksi bisu kehancuran. Di Bnei Brak, air meluap dari pipa yang pecah, bukan sekadar banjir, tapi seperti kota itu menangis, air matanya menggenang di jalanan.
Ironisnya menusuk sampai ke tulang. Infrastruktur yang dibangun dengan kebanggaan kini tumbang tanpa upacara. Di Rosh HaAyin, listrik mati-hidup seperti harapan yang tak stabil. Gangguan menjalar ke pusat kota, membuat malam makin gelap, bukan karena lampu mati saja, tapi karena rasa aman ikut padam.
Bandara Ben Gurion yang dulu jadi gerbang dunia, kini seperti pintu yang setengah tertutup. Penumpang dibatasi, penerbangan dibatalkan, tiket melonjak seperti harga keputusasaan. Bahkan, pesawat pribadi pun tak luput dari serpihan rudal, langit yang dulu bebas kini berubah jadi ruang yang penuh ancaman.
Warga? Jangan ditanya. Mereka berlari ke bunker bukan lagi karena panik sesaat, tapi karena itu sudah jadi rutinitas. Malam bukan untuk istirahat, tapi untuk bertahan. Ledakan demi ledakan tak selalu mematikan, tapi cukup untuk meremukkan batin. Luka ringan di tubuh mungkin sembuh, tapi luka di kepala, itu menetap, diam, tapi menghantui.
Nuan bayangkan! Orang-orang yang dulu santai di kafe, menyeruput kopi dengan tawa kecil, kini minum sambil menghitung detik menuju shelter. Hidup malam berubah jadi wisata ke bunker. Di media sosial, keluhan mengalir deras. Video ledakan, mobil terbakar, air meluap, dan satu kalimat yang terus berulang, âKami masih di sini, tapi entah sampai kapan.â
Ada yang marah pada pemerintah. Ada yang turun ke jalan menolak perang. Ada yang diam, karena lelah. âRutinitas baru kami, sirene, ledakan, dan harapan palsu.â Mereka tahu itu pahit, tapi tetap diucapkan, mungkin supaya tidak sepenuhnya hancur.
Ekonomi? Jangan harap berdiri tegak. Biaya perang membengkak tiap minggu seperti luka yang tak dijahit. Tenaga kerja tersedot ke militer, sekolah tutup, orang-orang absen bukan karena malas, tapi karena takut. Pariwisata lumpuh, kartu kredit sepi, sektor teknologi yang dulu jadi kebanggaan ikut goyah. âStartup Nationâ perlahan terdengar seperti ironi, lebih dekat ke âShutdown Nation,â wak.
Yang paling sunyi adalah luka di kepala manusia. Stres jadi teman tidur. Cemas jadi napas harian. Kurang tidur, sulit fokus, trauma menumpuk seperti debu yang tak pernah disapu. Anak-anak tumbuh bukan dengan mimpi, tapi dengan suara sirene. Orang dewasa berpura-pura kuat, padahal retaknya sudah sampai ke dalam.
Tentang eksodus besar? Belum jadi gelombang besar, tapi retaknya sudah terasa. Profesional mulai pergi pelan-pelan. Dokter, pekerja teknologi, mereka yang bisa memilih, mulai memilih pergi. Yang tinggal? Bertahan, bukan karena kuat, tapi karena tak punya pilihan lain.
Saat kita melihat semua ini, sulit untuk tidak mengingat Gaza Strip. Luka yang sama, hanya lokasi berbeda. Ledakan yang sama, hanya arah berbeda. Tangisan yang sama, hanya bahasa berbeda.
Tragedi ini tak lagi punya wajah tunggal. Ia menyebar, menempel pada siapa saja yang hidup di dalamnya. Dua sisi yang sama-sama berdarah, sama-sama kehilangan, sama-sama lelah.
Begitulah wak. Dunia yang katanya maju ini, masih saja gagal menjaga hal paling sederhana, rasa aman untuk pulang ke rumah. Selama lingkaran ini terus berputar, yang tersisa hanya satu, manusia yang pelan-pelan hancur, tanpa pernah benar-benar tahu, untuk apa semua ini.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
















