• Latest
d2f68f27-65d1-45fe-915f-c2109c3a4b83

Kenapa Orang Tua Siswa Tak Mau Lapor Polisi Saat Anaknya Keracunan MBG?

April 6, 2026
IMG_0651

UNIGHA Sigli dan Cerita Panjang Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

April 6, 2026
95a55421-2977-493a-9a56-0f18a986b9de

Takzim Pada Ulama

April 6, 2026
IMG_0649

Suara yang Hilang

April 6, 2026
Warm afternoon reading ritual

Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia

April 6, 2026
3348af20-aa40-4c6d-abca-52db135d392d

Vonis Mati Untuk Sebuah Sudut Pandang

April 6, 2026
af88e5b9-3501-4639-8dab-86a298c8317f

Sang Penegak Amanah: Potret Karakter Muslim yang Kuat

April 5, 2026
149325e4-773e-48dc-8fba-3df68e46d0c8

Perkembangan Terkini Qatar dan UEA Terkena Imbas Perang

April 5, 2026
a94b2e7b-9a15-4874-921b-98e123348821

Antara Kafe dan Kelas: Saatnya Kampus Aceh Keluar dari Kekakuan

April 5, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Senin, April 6, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
d2f68f27-65d1-45fe-915f-c2109c3a4b83

Kenapa Orang Tua Siswa Tak Mau Lapor Polisi Saat Anaknya Keracunan MBG?

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
April 6, 2026
in MBG, # Ironi, #Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Pertanyaan itu sering muncul di kolom komentar? Saya coba meresponsnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Tiap kali ribuan bocah muntah-muntah massal macam adegan film zombie di kantin sekolah, tenang. Semua baik-baik saja. Cukup maaf, dan biaya pengobatan ditanggung.

Baca Juga:
  • Efisiensi Fiskal Koperasi Desa dan Makan Bergizi Gratis
  • Peradaban Kenyang, Akal Telanjang
  • Perlawanan Guru Honorer dan PDIP terhadap Program MBG

Bandingkan dulu dengan dunia nyata yang kejam tapi konsisten. Kalau nasi goreng pinggir jalan bikin satu orang keracunan, habislah riwayat si abang. Diseret aparat macam penjahat kelas kakap, usaha tamat, wajan jadi saksi bisu, keluarga menangis sambil mungkin banting setir jualan es lilin. Satu korban saja cukup bikin kiamat UMKM. Tapi di kerajaan MBG? Santai jak. Dapur SPPG cuma “disuspend sementara” bahasa halus dari “libur bentar, nanti lanjut lagi.” Macam artis kena skandal, rehat sejenak, lalu comeback bawa album baru bertajuk, “Menu Bergizi Season 2.”

Sekarang kita masuk ke angka-angka yang bikin perut ikut kontraksi. Data JPPI mencatat sejak 2025 sampai awal 2026 sudah ada 21.254 korban keracunan MBG. Wak, itu bukan angka kecil. Itu satu desa bisa bikin turnamen bola antar-korban! Januari 2026 saja sudah 1.929 korban tersebar di berbagai provinsi, dengan gejala paket lengkap. Mual, muntah, diare, demam, sampai dehidrasi berat. Anak-anak ini bukan lagi siswa, tapi seperti veteran perang lambung.

KPAI ikut mencatat 12.658 anak terdampak di 38 provinsi sepanjang 2025. Dan siapa juaranya? Jawa Barat, kang. Medali emas kategori keracunan massal. Sementara itu, CELIOS dengan gaya ilmiah nan dingin memproyeksikan angka bisa tembus 22.747 korban pada Juni 2026 kalau tak ada perubahan signifikan. Bahkan Oktober 2025 jadi puncak “festival keracunan nasional” dengan 6.463 korban dalam satu bulan. Ini bukan lagi program gizi ini sudah seperti event tahunan, teh!

Yang bikin suasana makin absurd adalah munculnya surat sakti dari MTsN 2 Brebes. Orang tua diminta tanda tangan pernyataan. Tidak akan menuntut kalau anaknya keracunan, alergi, diare, bahkan… ya, sampai kemungkinan terburuk. Ini bukan surat izin biasa, ini sudah level “kontrak pasrah sebelum makan.” Tambah lagi klausul bayar Rp80.000 kalau wadah hilang, jadi selain risiko perut, ada juga risiko dompet. Lengkap sudah penderitaan.

Efeknya? Orang tua jadi diam seribu bahasa. Takut anaknya tak dapat jatah makan, takut dikucilkan, takut dicap macam-macam. Akhirnya banyak yang memilih strategi bertahan hidup paling klasik, ya diam, telan, dan berharap besok menunya tidak berjamur atau berbelatung. Ini bukan lagi soal gizi, ini soal psikologi massa, ketakutan yang dibungkus ompreng.

Sekarang kita tarik lagi ke perbandingan. Dunia swasta. Satu kasus, langsung pidana, usaha tutup, reputasi hancur, pelanggan kabur macam dikejar utang. Dunia MBG? Januari 2026 saja 10 SPPG dihentikan sementara, ratusan lainnya kena evaluasi karena dapur kotor, menu basi, atau tata letak ala kandang ayam. Ada yang disuspend tanpa batas waktu, seperti kasus di Pondok Kelapa dengan 60 anak keracunan. Tapi begitu “standar terpenuhi,” buka lagi, jalan lagi, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Inilah absurditas level dewa, cak. Ribuan anak jadi korban, orang tua ditekan surat pernyataan, tapi sanksi hanya sekelas “istirahat dulu, nanti lanjut.” Target nol kasus diucapkan lantang, tapi di lapangan angka korban terus beranak-pinak. Melapor? Proses panjang, bukti susah, hasilnya sering tak sepadan. Maka jangan heran kalau orang tua lebih memilih diam dari pada berurusan dengan sistem yang terasa berat sebelah.

Program MBG memang lahir dari niat mulia, melawan stunting, memperbaiki gizi. Tapi kalau implementasinya begini, rasa keadilan publik bisa meledak macam gunung berapi. Anak-anak itu bukan objek eksperimen. Mereka masa depan, bukan statistik.

Kalau kondisi ini terus dibiarkan, jangan salahkan kalau suatu hari terdengar teriakan paling jujur dari orang tua negeri ini, “Lebih baik anakku pajoh seadanya di rumah, dari pada kenyang tapi masuk IGD, wak!”

Baca Juga

149325e4-773e-48dc-8fba-3df68e46d0c8

Perkembangan Terkini Qatar dan UEA Terkena Imbas Perang

April 5, 2026
IMG_0631

Ketika Kafe Menjadi Kampus Kedua: Membaca Ulang Makna Ruang Belajar

April 5, 2026
f094ac03-51f0-4561-8c26-4dedec176119

Arsitektur Karakter Pagi Hari

April 2, 2026

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

ADVERTISEMENT
SummarizeShare234Tweet146
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Related Posts

IMG_0651
Artikel

UNIGHA Sigli dan Cerita Panjang Tentang Pendidikan, Perjuangan, dan Harapan

April 6, 2026
95a55421-2977-493a-9a56-0f18a986b9de
Esai

Takzim Pada Ulama

April 6, 2026
IMG_0649
#Cerpen

Suara yang Hilang

April 6, 2026
Warm afternoon reading ritual
Artikel

Tantangan Literasi Mahasiswa di Indonesia

April 6, 2026
Next Post
3348af20-aa40-4c6d-abca-52db135d392d

Vonis Mati Untuk Sebuah Sudut Pandang

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com