Ketika Pecinan Menjadi Panggung Akulturasi Nusantara

IMG_0601
Ilustrasi: Ketika Pecinan Menjadi Panggung Akulturasi Nusantara

Oleh Yani Andoko

Jika anda menyusuri Gang Gloria di Glodok pada suatu pagi, anda tak hanya akan mendengar tawar-menawar khas pasar, tetapi juga bisa mencium aroma dupa dari kelenteng, melihat arsitektur atap melengkung yang khas, serta mendengar celotehan bahasa campuran yang sulit ditebak asal-usulnya.

Pecinan memang selalu identik dengan hiruk-pikuk perdagangan. Namun, di balik gemerincing koin dan tumpukan barang dagangan, tersimpan cerita yang jauh lebih dalam: bagaimana sebuah kawasan yang lahir dari kebijakan isolasi kolonial, justru menjelma menjadi pusat budaya yang dinamis.


Pecinan bukan sekadar ruang untuk berjualan. Ia adalah panggung di mana budaya Tionghoa, lokal, dan Eropa bertemu, beradu, dan menciptakan sesuatu yang baru sesuatu yang kini tak terpisahkan dari identitas Nusantara itu sendiri. Mari kita telusuri jejaknya.

Pecinan: Ruang Hidup yang Lahir dari Tembok Pemisah


Pecinan, secara harfiah, adalah permukiman masyarakat etnis Tionghoa di Indonesia yang sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa datang. Namun, ia tumbuh pesat justru di bawah kebijakan politik dan ekonomi pemerintahan kolonial Belanda yang menerapkan strategi pemisahan rasial. Ini bukan pilihan, melainkan pemaksaan.


Bayangkan sebuah tembok pembatas, senjata meriam yang selalu mengarah ke permukiman, serta jam malam yang membatasi gerak-gerik penghuninya. Itulah realitas Pecinan pada masa VOC. Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier bahkan memberikan izin bahwa setiap kerusuhan dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan. Puncaknya adalah tragedi Geger Pecinan 1740, ketika lebih dari 10.000 orang etnis Tionghoa di Batavia dibantai oleh VOC. Peristiwa ini bukan hanya menorehkan luka, tetapi juga memaksa komunitas Tionghoa untuk memusat di kawasan luar tembok Kota Batavia, yang kelak menjadi cikal bakal Pecinan Glodok.


Namun, justru dari kebijakan isolasi yang penuh tekanan ini, lahirlah ruang kreatif. Di dalam kampung yang terkekang, budaya tetap hidup dan justru mulai berinteraksi secara intensif dengan tetangga pribumi yang tinggal tak jauh dari sana.

Panggung Akulturasi: Merayakan Perbedaan
Kisah akulturasi paling kental mungkin terjadi di Lasem, sebuah kota kecil di Rembang yang dijuluki “Tiongkok Kecil” oleh peneliti Prancis. Di sini, pengaruh budaya Tionghoa dan Jawa berpadu begitu harmonis. Julukan ini lahir karena kuatnya akulturasi budaya antara Jawa dan Tionghoa yang meninggalkan warisan berharga, termasuk dalam seni batik Lasem yang kini menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia. Batik Lasem dengan “pakem Laseman”-nya yang egaliter adalah bukti nyata bahwa di lorong-lorong sempit itu terjadi dialog estetika yang intens.

Baca Juga

Sementara itu, di Semarang, akulturasi bahkan terlihat dari letak geografisnya. Setelah Geger Pecinan, pemukiman Tionghoa sengaja dipindahkan ke sebelah barat Sungai Semarang dipisahkan dari pemukiman Belanda oleh aliran sungai. Namun, pemindahan ini justru dipandang menguntungkan oleh warga Tionghoa secara feng shui: letak pemukiman yang dilingkari sungai dipercaya akan membawa berkah.

Di kawasan inilah kini berdiri 11 kelenteng kuno dan Pasar Semawis yang ramai, menjadi pusat akulturasi yang harmonis antara warga pribumi dan etnis Tionghoa.
Yang paling unik mungkin terjadi di Singkawang, Kalimantan Barat. Di sini, perayaan Cap Go Meh menjadi ajang pertemuan tiga budaya sekaligus: Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang kemudian disingkat menjadi Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu). Momen puncaknya adalah parade Tatung, di mana para “orang yang dirasuki roh” melakukan atraksi ekstrem seperti berjalan di atas bilah pedang atau menusukkan kawat baja ke pipi tanpa merasa sakit. Tradisi ini lahir dari perpaduan ritual Tionghoa Hakka untuk tolak bala dengan unsur kepercayaan animisme masyarakat Dayak. Fakta menariknya: suku Dayak turut andil dalam Festival Cap Go Meh sejak 2007, menampilkan budaya mereka dalam pawai yang sama. Di sini, perbedaan bukanlah tembok pemisah, melainkan kekayaan yang dirayakan bersama.

Jejak yang tak terhapuskan: Saat Pecinan Menyusup ke Kehidupan Sehari-hari
Dampak dari percampuran budaya ini begitu meresap hingga sering kali kita tak menyadarinya.
Coba perhatikan kosakata sehari-hari anda. Kata seperti kuli, kemoceng, pengki, kue, soto, kuah, kuali, cincau, hingga sate adalah serapan dari bahasa Tionghoa yang telah menjadi lidah orang Indonesia. Di Surabaya, bahkan muncul dialek khusus yang dikenal sebagai “Bahasa Pecinan Surabaya” atau “Bahasa Pasar Atom”, yang merupakan akulturasi antara bahasa Jawa Surabaya dan kosakata Tionghoa yang umumnya dituturkan dalam urusan berniaga dan pergaulan sehari-hari.
Tak hanya bahasa, perut kita pun menjadi saksi bisu akulturasi ini. Makanan seperti lumpia, bakpia, bakmi, hingga pempek adalah bukti nyata perpaduan teknik kuliner Tionghoa dengan kekayaan rempah Nusantara. Wedang ronde, misalnya, yang dibuat untuk sembahyang leluhur pada bulan ke-6 kalender Imlek, memiliki perbedaan rasa dengan wedang ronde di Tiongkok asli. Ini adalah “fusion” yang lahir bukan dari dapur restoran berbintang, tetapi dari dapur-dapur kampung yang telah beradaptasi lintas generasi.

Merawat Memori, Merayakan Keberagaman
Pecinan bukan sekadar kawasan dengan pintu gerbang megah dan lampion merah. Ia adalah arsip hidup yang merekam lapisan-lapisan sejarah: dari kebijakan isolasi kolonial, tragedi kemanusiaan, hingga perayaan budaya yang melibatkan banyak etnik. Ia adalah bukti bahwa tembok pemisah sekalipun tak akan mampu membendung pertukaran budaya karena pada akhirnya, manusia akan selalu mencari cara untuk terhubung, bertukar cerita, dan menciptakan sesuatu yang baru bersama.
Maka, ketika Anda melangkah ke Pecinan, jangan hanya datang untuk berdagang atau berburu kuliner. Dengarkanlah cerita yang dibisikkan oleh dinding-dinding tuanya. Karena di sana, di antara hiruk-pikuk pasar dan semerbak dupa, tersimpan memori tentang bagaimana Indonesia belajar untuk menjadi Indonesia: beragam, cair, dan selalu dalam proses menjadi.

            Batu, 20 Januari 2026
ADVERTISEMENT
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Redaksi
Majalah Perempuan Aceh

Komentar

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.