Jendela Istana Hamatisa

IMG_0596

Bagian ke Tiga

Oleh Teuku Masrizar

Negeri Hamatisa menghadapi kondisi yang semakin sulit. Walau mengganti pejabat, namun belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Pejabat baru tebar pesona mempersiapkan konsep agar performance lebih prima di depan Raja melalui inovasi-inovasi ‘langitan’ yang sulit diwujudkan.Keadaan sulit berubah apalagi mampu mendongkrak perekonomian negeri. 

Belum ditemukan resep rahasia membalikkan kondisi ke arah yang lebih baik. Raja Kreobot semakin bingung  dengan kondisi  negeri. Pada saat yang sama diperparah dengan perubahan cuaca yang ekstrim. Cuaca siang dan malam sangat panas, gerah dan lengket.

Kini cuaca tidak hanya panas dan gerah, tapi memengaruhi sektor pertanian. Tanaman Padi sebagian fuso dan terserang hama dan penyakit. Munculnya jenis hama dan penyakit baru yang menyerang padi dan juga tanaman pertanian dan perkebunan lain. Daun Tembakau terlihat menguning, kering dan kusam,   sehingga kualitas tembakau menurun dan tidak lagi sesuai dengan syarat permintaan luar negeri. 

Pabrik Rokok Marlborok terancam bangkrut, akibat kekurangan pasokan bahan baku, karyawan terancam PHK. Warga di ambang miskin dan kelaparan.

Raja Kreobot pusing tujuh keliling. Seluruh pejabat istana dipanggil untuk rapat agar ada kebijakan dan tindakan dalam menghadapi situasi ini. 

Pangeran Laban dan seluruh petinggi istana hadir dan rapat. Tidak ada yang dapat memberikan ide dan masukan konstruktif dan masuk akal. Sampai rapat berakhir tidak satupun gagasan dan pandangan yang tepat sebagai solusi dalam menghadapi situasi genting ini. 

Sulit menghadapi cuasa ekstrim dan perubahan iklim. Tidak ada obatnya selain mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, perubahan perilaku masyarakat. Bagaimanapun seluruh yang terjadi akibat dari pola hidup warga yang tidak peduli dengan keberlanjutan lingkungan hidup. Alhasil sampai rapat usai belum menghasilkan kebijakan dan tindakan instan yang tepat.

Dalam situasi kebingungan Kreobot duduk di jendela istana sembari melemparkan pandangannya keluar. Secangkir kopi pahit dan dua bungkus marlborok menemaninya. Memandang hamparan padi dan tanaman tembakau. Dataran rendah nan landai di tanaman padi dan kaki bukit sampai dengan puncak pegunungan ditanami tembakau, nyaris tidak terlihat tegakan pohon hutan yang tersisa. 

Kini padi dan tembakau meranggas dan kering. Kreobot menitikkan air mata, dan berguman, cobaan Tuhan sedang terjadi. 

Baca Juga

Diperintahkan pengawal untuk memanggil pangeran Laban sang adik. Walau kreobot tahu dengan sifat adiknya yang menghambur-hamburkan uang dan kekayaan negeri, namun walau bagaimanapun mereka berdua adalah pewaris Negeri Hamatisa. 

Pascarapat tak berkeputusan, Kreobot hanya ingin mendapatkan masukan adik semata wayang dalam memutuskan langkah dan tindakan mengatasi situasi ini. Tersisa setengah gelas diteguk kembali sisa kopinya sampai habis,Kreobot menerima saran pamungkas adiknya, Ekspansi dan Perang negeri tetangga. Sebuah keputusan sulit, namun harus dilakukan demi rakyat Hamatisa

Negeri Hamatisa dikenal memiliki peralatan dan teknologi perang yang canggih serta pasukan terlatih, jumlah kapal perang dan meriam dalam jumlah besar. Kekuatan tempur hamatisa disegani di semenanjung selat Mushor yang padat dengan jalur perdagangan. 

Menguasai negeri tetangga dan upaya alih sektor industri sebagai tumpuan negeri,. Masuk akal, pikir Kreobot.

Persiapan untuk ekspansi dipersiapkan dengan komando pangeran Laban. Dalam hal perang Laban memang jagonya, dia mendapatkan pendidikan militer luar negeri dalam waktu yang lama. 

Bisa jadi keberadaannya di luar negeri merubah budaya dan kebiasaan pangeran Laban yang kini hedon, kehilangan empati dan nilai kemanusiaan dari pribadinya. Setidaknya dalam kondisi tertentu cocok untuk menjadi panglima perang.

Strategi perang dengan menyerang dua negeri tetangga sekaligus pada waktu yang sama dipandang Laban sebagai strategi tepat. Sesuai dengan arah mata angin,  negeri yang diserang pada bagian Utara dan Barat posisi Hamatisa, sementara arah Timur dan Selatan berdiri kokoh pangkalan dan pelabuhan militer Hamatisa yang akan mempertahankan serangan dari Negeri luar. 

Hal ini didasari logika bila dua negeri sekaligus diserang, maka tidak akan terjalin kerjasama dan konsolidasi kekuatan untuk melawan. 

Ternyata strategi ini telah terbaca lawan sejak awal oleh negeri-negeri tetangga telah melaksanakan koordinasi dan mempersiapkan strategi dalam menghadapi serangan pangeran Laban. Dua negeri sasaran perang Laban warganya telah diungsikan dan seluruh fasilitas public telah diamankan dari serangan berbagai jenis sejanta. 

Saat pasukan dan peralatan perang Hamatisa dengan kekuatan penuh menyerang dua negeri, namun yang dihadapi situasi yang tidak diharapkan, penduduk sudah tidak ada dan semua fasilitas public terjaga dengan baik. Tidak bisa yang dilakukan, agresi Pangeran Laban sia-sia. 

ADVERTISEMENT

Kembali ke Hamatisa membutuhkan waktu dan konsolidasi.Sementara pasukan koalisi yang terbentuk dan terlatih melakukan penyerangan pada arah Timur dan Selatan Negeri Hamatisa, pangkalan militer tidak terjaga dengan baik, lemah akibat pasukan terkonsentrasi dalam penyerangan. 

Dengan mudah pasukan koalisi merebut dan menguasai pangkalan dan seluruh fasilitasnya. Lalu pasukan koalisi menyerang istana dan dengan mudah menawan Raja Kreobot dan seluruh petinggi istana.

Jendela Istana Hamatisa merupakan tempat yang menarik untuk melihat alam sekelilingnya. Selain tempatnya tinggi, daun jendelanya juga lebih lebar. Namun memandang alam Negeri Hamatisa tidak bisa secara menyeluruh komprehesif hanya melalui satu jendela. Desain Istana Hamatisa harus berubah menjadi lebih baik, menambah jendela agar ruang keluar dan masuk udara lebih baik, lebih sejuk dan adem. 

Jendela yang banyak dapat mengarahkan pandangan, bukan saja pada satu  dan dua sudut saja, tetapi akan banyak sudut negeri yang dilihat. Takut kualat dengan perubahan budaya yang turun temurun?

Raja Kreobot sadar ini bukan saatnya mempertahankan kondisi buruk ini. Sudah tidak zamannya. Asalkan sesuai dengan ketentuan dan norma social yang berlaku untuk kemajuan tentunya dapat dilakukan

Maka menurutnya, sudah waktunya tidak mengambil keputusan hanya dengan satu ruang pandang, harus banyak ruang agar dapat melihat lebih luas dan lebih jauh. Sehingga Negeri Hamatisa akan berkembang dan maju.###

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.

Teuku Masrizar

Teuku Masrizar Peminat Lingkungan, berdomisili di Tapaktuan, Aceh Selatan

Diskusi

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.