POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Redaksi by Redaksi
Maret 27, 2026
in # Ironi, # Book Opinion, # Kebijakan Trump, # Penyakit, # Predator Anak, #Minyak Global, Kesehatan, Kesehatan Mental
0
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Oleh : Gergorius Nokuwo

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, mulai dari tingkat individu hingga kelompok seperti suku, bangsa, dan negara. Ketika kita membahas kesehatan, kita sejatinya sedang berbicara tentang kehidupan dan kematian manusia, sejak dari embrio hingga lanjut usia.

Pada realitanya, kesehatan adalah sesuatu yang hakiki dalam kehidupan. Di satu sisi, kesehatan yang baik akan menciptakan kualitas hidup yang baik. Sebaliknya, kesehatan yang buruk akan melahirkan kehidupan yang penuh keterbatasan dan penderitaan.

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    03 Mei 2025
  • 02
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    16 Apr 2025

Secara yuridis, negara Indonesia telah mengatur hak atas kesehatan dalam Pasal 28H Ayat (1) UUD 1945. Artinya, setiap warga negara berhak mendapatkan fasilitas dan akses layanan kesehatan yang mudah, layak, dan berkualitas. Pelayanan kesehatan bukan sekadar kebutuhan, melainkan hak dasar setiap individu.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Masih banyak masyarakat Papua, khususnya di Nabire sebagai ibu kota Provinsi Papua Tengah, yang belum dapat mengakses layanan kesehatan yang berkualitas. Kekurangan pelayanan kesehatan di Nabire berdampak signifikan terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga
  • Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim - 2025 06 15 14 47 24 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Kopdes Merah Putih Perusak Kemandirian Bangsa
    15 Jun 2025
  • Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim - e79b9c65 e172 47c9 93d7 cc7abb7a175a | # Ironi | Potret Online
    #Perang Dagang
    Perang Iran -Israel dan Rapuhnya Pasar Minyak Global
    25 Mar 2026

Tidak sedikit pasien yang datang berobat ke rumah sakit umum di Siriwini dengan harapan sembuh, tetapi justru berakhir dengan kematian. Inilah realita yang terjadi di Papua, khususnya di Nabire.

Jika dilihat dari kondisi geografis, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Papua adalah bagian dari Indonesia yang terletak di wilayah timur. Secara jumlah, fasilitas kesehatan di Indonesia memang sudah cukup banyak. Namun secara pemerataan, masih belum merata di setiap daerah.

Baca Juga
  • Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim - 2025 05 26 09 14 00 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    27 Mei 2025
  • Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Pendidikan untuk Semua: Menyatukan Visi Akademik, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan Indonesia Emas 2045
    21 Mei 2025

Akibatnya, akses pelayanan kesehatan di Papua, khususnya Nabire, masih menjadi persoalan yang sangat serius. Hal ini terjadi baik di wilayah pelosok maupun perkotaan, yang seringkali disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis serta berbagai kendala sistemik dan teknis.

Beberapa daerah terpencil masih mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan. Di Nabire sendiri, RSUD Siriwini masih memiliki banyak kekurangan, baik dari segi sarana maupun prasarana. Berikut beberapa kendala utama yang dihadapi:

1. Kekurangan Dokter Spesialis

Kehadiran dokter spesialis yang selalu siap siaga di rumah sakit merupakan harapan besar bagi masyarakat. Dokter spesialis dapat menjadi penentu keselamatan pasien dalam kondisi kritis.

Namun kenyataannya, RSUD Siriwini Nabire masih kekurangan dokter spesialis. Hal ini terbukti dari beberapa kasus yang terjadi.

Pada Kamis, 11 September 2025, seorang pasien bernama Maria Tekege meninggal dunia setelah menjalani dua kali operasi usus dalam waktu berdekatan. Keluarga menduga kematian tersebut disebabkan oleh keterlambatan penanganan medis serta tidak adanya dokter spesialis yang siaga.

Kasus lain dialami oleh Oktovianus Degei yang mengalami kecelakaan lalu lintas di Kalibobo. Kakinya patah dan sempat dirawat di RSUD Siriwini. Namun karena tidak ada dokter spesialis yang menangani, pasien harus dirujuk ke Timika beberapa hari kemudian.

Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan lemahnya tata kelola layanan kesehatan di Nabire, khususnya dalam hal ketersediaan tenaga medis spesialis.

2. Kekurangan Fasilitas Kesehatan

Untuk menciptakan layanan kesehatan yang baik, dibutuhkan fasilitas yang memadai, mulai dari alat sederhana hingga peralatan medis yang kompleks.

Namun di Nabire, fasilitas kesehatan masih sangat terbatas. Banyak masyarakat yang akhirnya memeriksa kesehatan di puskesmas terdekat seperti Puskesmas Kalibobo, Wonorejo, SP2, dan Karang Tumaritis.

Selain itu, belum adanya rumah sakit jiwa di Nabire menyebabkan banyak penderita gangguan mental tidak mendapatkan penanganan yang layak. Hal ini menjadi perhatian serius masyarakat yang terus mendesak pemerintah untuk mempercepat penyediaan fasilitas kesehatan yang memadai.

3. Kekurangan Obat-obatan

Ketersediaan obat-obatan merupakan faktor penting dalam pelayanan kesehatan. Kekurangan obat dapat berdampak langsung pada keselamatan pasien.

Di RSUD Siriwini Nabire, ketersediaan obat masih sangat terbatas. Banyak pasien yang setelah menjalani operasi justru dirujuk untuk membeli obat di luar, bahkan di klinik tertentu dengan harga yang cukup mahal.

Contohnya, pasien operasi mata harus membeli obat dengan harga berkisar antara Rp100.000 hingga Rp500.000 per papan. Hal ini menimbulkan berbagai persepsi di masyarakat.

Sebagian masyarakat menilai kekurangan obat disebabkan kurangnya perhatian pemerintah pusat. Namun, ada juga yang menduga bahwa kondisi ini dimanfaatkan oleh oknum tertentu sebagai lahan bisnis.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka dampaknya akan semakin luas. Keterbatasan fasilitas dan akses kesehatan dapat meningkatkan risiko penyakit, angka kematian ibu dan anak, masalah gizi, serta menurunkan kualitas hidup masyarakat Papua secara keseluruhan.

Oleh karena itu, kami sebagai masyarakat Papua menghimbau kepada pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk memberikan perhatian serius terhadap sektor kesehatan. Masalah ini bukan hal sepele, melainkan persoalan mendasar yang menyangkut kehidupan manusia.

Peningkatan fasilitas, tenaga medis, serta distribusi obat-obatan harus menjadi prioritas utama. Dengan demikian, kejadian-kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan.

Tags: #Artikel#OpiniArticleJajakPendapatjalal-jalanMembacaMenulisPolitik InternasionalPOTRETTadarusText-to-ImageYou.com
Previous Post

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Next Post

Transisi Energi Kendaraan Listrik

Next Post
Transisi energi dan kendaraan listrik di Indonesia

Transisi Energi Kendaraan Listrik

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah