• Latest

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

Oktober 15, 2021
PETUALANGAN SEORANG DOSEN - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Biografi | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
PETUALANGAN SEORANG DOSEN - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Biografi | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Kamis, April 2, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

PETUALANGAN SEORANG DOSEN

Redaksi by Redaksi
Oktober 15, 2021
in Biografi, Buku, Dosen, Resensi
Reading Time: 7 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Satria Dharma

Berdomisili di Surabaya, Jawa Timur

Ini adalah buku otobiografi yang ditulis oleh Prof E. Sadtono, seorang mantan dosen sekaligus mantan rektor IKIP Malang yang telah mengajar puluhan tahun, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lain. Kisah yang beliau tulis ini sangat menarik dan membuat saya berpikir bahwa semestinya setiap dosen perlu menulis juga kisah-kisahnya yang nantinya dapat mereka terbitkan setelah pensiun. Tapi tentu saja akan lebih baik, jika mereka bisa menerbitkan buku mereka ketika masih aktif mengajar.

Baca Juga

ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
7fb8d49c-8ec5-4336-99da-ba4fb75fa40c

Dari Cerpen ke Layar

Maret 25, 2026
PETUALANGAN SEORANG DOSEN - 5f25a00b 8e97 467e ad24 edc1cc1204a1 | Biografi | Potret Online

Di Antara Idealisme dan Honorarium

Maret 17, 2026

Sebagai seorang mantan guru bahasa Inggris, saya sering mendengar nama Prof Sadtono ini disebut, meski pun saya sama sekali belum pernah diajar oleh beliau dan juga belum pernah bertemu. Mungkin karena beberapa teman kolega saya pernah dibimbing oleh beliau dan mestinya Prof Sadtono adalah kolega para dosen saya di IKIP Surabaya. Yang jelas Prof Sadtono menyebutkan nama almarhumah Ibu Thea Kusumo sebagai salah satu koleganya mengajar di zaman dulu. Ibu The Kusumo adalah salah satu dosen saya dulu di IKIP Surabaya.

Pengalaman yang ditulis dalam buku otobiografinya ini sangat menarik karena beliau memang seorang penulis yang trampil, sangat humoris, dengan daya ingat yang tinggi. Tapi utamanya adalah karena beliau memang sempat mengajar di beberapa negara, di antaranya di Singapura, Jepang,  New Zealand, Malaysia, Australia, Swedia, Amerika, sehingga segala pengalamannya ketika mengajar dan bergaul dengan para dosen di berbagai negara itu menjadi unik dan menarik untuk diketahui. Beliau sendiri memperoleh gelar doktornya dari University of Texas, Austin. Beliau juga berkeliling ke berbagai negara lain dalam kapasitasnya sebagai visiting professor dan mengisi atau mengikuti seminar internasional di London, Kanada, Swiss, Paris, Bangkok, yang kemudian pengalamannya yang menarik dituliskannya dengan sangat menarik dan lucu.

Boleh dikata beliau itu adalah seorang guru besar dalam tataran global. Pengalaman mengajar bersama dengan berbagai dosen dari berbagai negara membuat beliau terbiasa dengan bahasa Inggris cengkok India, Singapura, Filipina, Malaysia, Vietnam, Thailand, Australia, Amerika, British, Jepang, dan bahkan dialek lokal Amerika seperti cengkok Boston dan cengkok Arkansas. Kalau selama kuliah bahasa Inggris kalian terbiasa dengan cengkok jawanya dosen kalian maka saya jamin kalian akan kesulitan memahami ucapan penutur asli. Apalagi memahami bahasa Inggris dalam berbagai cengkok atau logat tersebut.

Ketika saya kuliah semester tiga di IKIP Surabaya (UNESA) dulu, kami kedatangan seorang professor dari Amerika dan memberikan semacam kuliah umum di kampus. Saya termasuk seorang mahasiswa yang menonjol dan banyak membaca. Nilai bahasa Inggris saya 9 waktu SMA, sudah pernah kuliah Diploma 1, sudah mengajar juga. Jadi saya pikir saya akan dengan mudah mengikuti kuliah professor Amerika ini. Eeh…! Lha kok ndilalah saya gak mengerti sama sekali apa yang disampaikan oleh Pak Professor ini. Saya merasa benar-benar tersesat. ‘Is he really speaking in English?’ kata saya dalam hati. ‘What is he really talking about? Lha kok saya benar-benar gak bisa menangkap apa yang dia sampaikan ya?’ Beliau ngomong begitu cepat sehingga kata-katanya itu seolah jadi satu dan tidak seperti bahasa Inggris yang saya pelajari. Setahu saya kata-kata dalam bahasa Inggris itu diucapkan terpisah dan punya pengucapan yang jelas. Saya sampai berkeringat dingin memahami betapa culunnya saya waktu itu. I thought I already knew English… 

Selain kisah beliau ketika mengajar di berbagai negara, beliau juga menuliskan pengalamannya ketika hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Beliau pernah sekolah sampai tingkat SD di zaman Jepang dan masih ingat banyak kata-kata bahasa Belanda yang diajarkan. Tampaknya beliau memang berbakat di bidang bahasa, meski mengaku justru sudah lupa dengan bahasa Jepang yang dulu pernah dipelajarinya. Mungkin karena ia benci dengan Jepang. Tapi beliau juga berterima kasih pada bangsa Jepang karena Jepang memberikan rasa bangga diri sebagai bangsa Asia. Jepang, yang bangsa Asia, mampu mengalahkan Belanda, yang bangsa Barat. Sebelumnya beliau minder sebagai bangsa Asia berhadapan dengan bangsa Belanda karena menganggap bangsa Indonesia itu inferior. Tapi setelah melihat Jepang dapat mengalahkan Belanda maka timbul rasa percaya diri dan rasa sejajarnya dengan mereka. 

Ada beberapa pengalaman tentang kekejaman guru Indonesia di zaman Jepang. Guru pada zaman itu dengan seenaknya menghukum siswanya dengan berbagai hukuman yang bagi kita saat ini benar-benar tidak masuk akal, seperti siswa disuruh berdiri di antara bangku, lalu pak guru menendang pantatnya seperti kiper menendang bola. Ada juga guru yang suka merokok upet dan murid yang nakal hukumannya dislomot dengan rokok upet tersebut. Hukuman disundut rokok oleh guru adalah hukuman yang tidak masuk akal saat ini. Yang paling tidak masuk akal adalah guru yang suka batuk dan meludah dengan riak kuning yang kental. Kalau ada anak yang nakal lalu dipanggil dan disuruh buka mulutnya. Lalu si guru memuntahkan ludahnya yang kental ke mulut siswanya. Sungguh edan…! 

Belajar bahasa yang sulit itu belajar idioms atau istilah-istilah khas yang kadang tidak ada dalam kamus. Sebagai contoh, ‘I’m going to go to number one’ atau ‘I’m going to see someone about a dog’ yang artinya sama yaitu ‘Saya mau ke toilet’. Menurut beliau kesukaan membaca merupakan senjata ampuh belajar bahasa asing apa pun. Saya sepakat dengan beliau karena merasakan sendiri betapa kesukaan saya membaca ternyata memang membuat saya lebih mudah memahami bahasa Inggris. Sangat berbeda dengan teman-teman saya satu jurusan yang tidak suka membaca. Pemahaman mereka akan kosa kata dan penggunaan istilah asing menjadi terbatas karena rendahnya tingkat bacaan mereka. Selain itu menurut beliau ‘golden period’ untuk belajar bahasa asing adalah usia 1 s/d 12 tahun. Beliau pernah punya teman orang Thailand yang memboyong istri dan tiga anaknya perempuan yang masih kecil-kecil ketika mengajar di Jepang. Anak-anak ini sama sekali tidak tahu bahasa Jepang. Tapi enam bulan kemudian mereka sudah cas-cis-cus berbahasa Jepang sementara beliau yang sudah lama di Jepang masih tetap merasa nol berbahasa Jepang. 

ADVERTISEMENT

Banyak kisah culture shock yang menarik yang dikisahkannya.  Salah satunya tentang seorang anak yang diminta oleh ibunya membersihkan makam ayahnya. Setelah selesai ia lalu diberi uang oleh ibunya. Padahal itu makam ayahnya sendiri, tapi toh ia tega menerima uang upah dari ibunya. Kisah yang lucu adalah ketika diundang ke pernikahan teman bule. Tradisinya tamu boleh mencium penganten wanita. Pada waktu giliran beliau tiba, beliau menggunakan filsafat Jawa ‘pungnak pungno’(mumpung enak mumpung ono) dan mencium pengantin wanitanya, dan ciuman itu bibir ke bibir. Lha sewaktu menikmati ciuman itu pengantin prianya bilang, ‘Eh, jangan lama-lama.’ Begitu juga ketika selesai mengajar di Auckland dan harus pulang ke Indonesia. Beliau diantarkan satu kelas dari Auckland Teachers’College. Waktu mau salaman ditolak oleh teman-teman cewek, karena dianggap tidak akrab alias terlalu formal. Mereka mintanya ciuman di bibir. Akhirnya beliau mencium 25 cewek-cewek bule, Katanya kalau seandainya dulu ada MURI di New Zealand, beliau pasti sudah mendapat penghargaan atas prestasi mencium 25 cewek bule tersebut. 

Ada banyak kisah menarik dan saya pikir perlu dibaca oleh khususnya para guru bahasa asing agar mendapat pengetahuan dan wawasan yang perlu mereka miliki sebagai guru yang bukan hanya mengajarkan bahasa,tetapi juga budaya dari berbagai negara yang menggunakan bahasa tersebut. Bahkan Bahasa Malaysia yang kita kira sama dengan bahasa Melayu yang kita gunakan sehari-hari beberapa kata juga punya perbedaan makna dalam penggunaannya. Sebagai contoh kalimat ‘Simpan wang di bank ini sulit’ bukan berarti menyimpan uang di sana susah tapi ‘sulit‘ di sini maksudnya ‘rahasia’ atau ‘confidential’.

Buku ini bisa dipesan pada editornya, yaitu Mas Djoko Pitono, di nomor 0856-3068-480. Belilah dan nikmati buku yang sangat menarik ini.

Satria Dharma

Surabaya, 11 Oktober 2021

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 359x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 295x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 224x dibaca (7 hari)
Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa
Trumon, Sekelumit Dalam Lintasan Masa
28 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

PETUALANGAN SEORANG DOSEN - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Biografi | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post

Bu Halimah, Dengan Anaknya Yang Cacat Mendapat Bantuan dari SDIT Muhammadiyah Manggeng

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com