POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Tajir Suka Sedekah

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 9, 2026
Abdurrahman bin Auf, Sahabat Nabi yang Tajir Suka Sedekah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Tulisan ke-26 Edisi Ramadan. Kisah sahabat Nabi kali ini, seorang tajir-melintir yang tidak pelit. Suka sedekah lagi. Bagi yang punya harta, merasa paling tajir, ada baiknya baca kisah ini. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Sejarah kadang terasa seperti panggung teater raksasa. Ada tokoh yang masuk dengan sandal jepit, keluar dengan rekening Swiss. Ada pula yang masuk dengan iman, keluar dengan surga. Salah satu tokoh jenis kedua itu bernama Abdurrahman bin Auf RA, sahabat Nabi yang jika hidup di zaman sekarang kemungkinan besar sudah jadi trending topic LinkedIn setiap minggu, “Entrepreneur sukses, investor halal, filantropis kelas wahyu.”

Nama lengkapnya panjang seperti daftar silsilah bangsawan. Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Ka’ab bin Lu’ay al-Qurasyi az-Zuhri. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 581 M, kira-kira sepuluh tahun lebih muda dari Muhammad SAW. Nama aslinya sebenarnya Abdu Amr, versi lain menyebut Abdul Ka’bah, nama yang sangat khas era sebelum Islam ketika manusia kadang lebih rajin menyembah simbol dari Tuhan. Setelah memeluk Islam, Nabi mengganti namanya menjadi Abdurrahman, hamba Sang Maha Pengasih. Upgrade spiritual level dewa.

Ia termasuk delapan orang pertama yang masuk Islam. Nuan bayangkan situasinya. Makkah saat itu bukan tempat ramah untuk mualaf. Tidak ada talkshow toleransi, tidak ada seminar pluralisme, yang ada justru paket lengkap, intimidasi, boikot ekonomi, dan penyiksaan. Namun Abdurrahman tetap bergabung dengan barisan awal yang dikenal sebagai As-Sabiqunal Awwalun. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq RA, lalu bersama sahabat lain seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’d bin Abi Waqqas menghadapi tekanan Quraisy. Jika hari ini orang takut kehilangan kursi jabatan karena beda pendapat politik, generasi ini justru siap kehilangan nyawa demi iman.

Tekanan itu membuatnya dua kali hijrah ke Habasyah, lalu hijrah lagi ke Madinah. Di Madinah terjadi salah satu adegan paling legendaris dalam sejarah ekonomi Islam. Nabi mempersaudarakannya dengan sahabat Anshar bernama Sa’d bin ar-Rabi’. Sa’d menawarkan separuh hartanya, bahkan menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahi setelah dicerai secara baik. Tawaran yang jika muncul di drama Korea mungkin akan langsung viral tiga musim. Abdurrahman menjawab kalimat sederhana yang menjadi legenda bisnis, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja pasar kepadaku.”

Ia datang ke pasar Bani Qainuqa’ tanpa modal besar. Ia mulai berdagang aqith (keju susu olahan) dan samin (mentega). Tidak ada startup pitch deck, tidak ada investor venture capital, tidak ada subsidi negara. Hanya kejujuran, kerja keras, dan keberkahan. Bisnisnya melejit cepat. Ia bahkan pernah berkata dengan nada percaya diri yang sangat pedagang, “Jika aku mengangkat sebuah batu, aku berharap di bawahnya ada emas atau perak.” Riwayat ini dicatat dalam karya klasik seperti At-Tabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’d serta kitab-kitab biografi sahabat seperti Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan Siyar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi.

📚 Artikel Terkait

Trauma Kolektif Tanpa Rekonstruksi: Aceh, Kepemimpinan Pasca-Kolonial, dan Paradoks Penderitaan dalam Negara Indonesia

Skandal Disertasi Bahlil: Menjaga Marwah UI

Literasi Digital, Solusi Pembelajaran Online Lebih Optimal

Menghidupkan Budaya Menulis di Era Koding dan Kecerdasan Artifisial

Kekayaannya luar biasa. Sebagian hartanya saja ketika wafat bernilai puluhan ribu dinar, setara ratusan miliar rupiah masa kini. Ia memiliki banyak istri dan sekitar 20–30 anak menurut berbagai riwayat. Kehidupannya tetap sederhana. Pakaiannya sering tidak bisa dibedakan dari pakaian budaknya. Kontras dengan sebagian elite modern yang baru dapat jabatan setingkat kepala dinas sudah berubah seperti sultan parkiran.

Namun bagian paling epik dari hidup Abdurrahman bukanlah kekayaannya, melainkan cara ia menghabiskan kekayaan itu. Ia pernah menyedekahkan separuh hartanya, 4.000 dinar dari total 8.000 dinar. Lalu menyedekahkan lagi 40.000 dinar. Ia membiayai 500 kuda dan 500 unta untuk jihad, terutama dalam ekspedisi seperti Perang Tabuk. Ia menjual tanah seharga 40.000 dinar lalu membagikannya kepada fakir miskin Bani Zuhrah, kaum yang membutuhkan, serta istri-istri Nabi. Mendengar itu, Aisyah binti Abu Bakar RA sampai berdoa, “Semoga Allah memberi minum Abdurrahman dari minuman surga.”

Ia juga mewasiatkan 400 dinar untuk setiap veteran Perang Badar, membebaskan ribuan budak. Ada riwayat menyebut sekitar 3.000 dalam satu kesempatan, dan terus menginfakkan hartanya. Ironisnya, ia justru sering takut hartanya menjadi penghalang surga. Suatu hari ia menangis saat melihat makanan berbuka puasa. Ia berkata, Mush’ab bin Umair dan Hamzah lebih mulia darinya tetapi wafat dengan kafan yang sangat sederhana. Kekhawatiran itu membuatnya terus menyedekahkan harta seakan-akan dompetnya memiliki lubang spiritual.

Ia juga menolak tawaran menjadi khalifah dua kali. Dalam majelis syura enam orang yang dibentuk oleh Umar bin Khattab RA, Abdurrahman menjadi tokoh kunci yang akhirnya memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah. Jika standar politik seperti ini dipakai hari ini, orang kaya menolak jabatan, lebih suka menjadi penasihat dari penguasa. Beberapa politisi mungkin langsung pingsan mendengarnya.

Abdurrahman bin Auf wafat sekitar tahun 31 atau 32 H (652–653 M) pada usia sekitar 72–75 tahun. Ia dimakamkan di Baqi’ setelah disalatkan oleh Utsman bin Affan. Sebelum wafat ia masih sempat mewasiatkan sedekah besar, 50.000 dinar, 100 unta, 3.000 kambing, 100 kuda, dan tanah pertanian untuk jihad serta fakir miskin.

Kisahnya seolah menampar zaman. Dunia modern sering memperdebatkan apakah orang kaya itu pasti serakah. Abdurrahman bin Auf menjawab dengan elegan, kekayaan tidak masalah, selama hati tidak ikut dimiliki oleh harta. Prinsip itu selaras dengan pesan Alquran, manusia tidak akan mencapai kebajikan sempurna sebelum menafkahkan harta yang dicintainya. Pada titik ini, Abdurrahman tidak hanya berdagang di pasar Madinah. Ia berdagang dengan akhirat. Keuntungannya? Surga.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 80x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 65x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Bersyukur Dapat Ikut Menangani Logistik di Lanud SIM Bersama TNI

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00