POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dua Bayang Besar di Atas Republik Islam: Kisah Para Pemimpin Tertinggi Iran

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 2, 2026
Dua Bayang Besar di Atas Republik Islam: Kisah Para Pemimpin Tertinggi Iran
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Di tengah gejolak revolusi, perang, dan konflik geopolitik yang tak pernah benar-benar padam, Republik Islam Iran hanya pernah mengenal dua Pemimpin Tertinggi. Dua sosok ulama dengan gaya kepemimpinan berbeda, namun sama-sama membentuk wajah Iran modern. Kini, setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS–Israel pada Februari 2026 negeri itu kembali berada di persimpangan sejarah.

Di Teheran, mural-mural besar bergambar Ayatollah Ali Khamenei masih memandang jalan-jalan yang dipenuhi lalu lintas pagi. Namun sejak akhir Februari 2026, tatapan itu terasa berbeda—seolah menjadi simbol sebuah era yang baru saja runtuh.

Wafatnya Khamenei dalam sebuah serangan yang memicu kecaman internasional mengguncang fondasi politik Republik Islam, meninggalkan kekosongan yang tak pernah terjadi selama hampir empat dekade.
Di negara yang hanya pernah dipimpin oleh dua Pemimpin Tertinggi sejak 1979, kepergian Khamenei bukan sekadar pergantian tokoh. Ia adalah retakan besar pada struktur kekuasaan yang selama ini tampak kokoh.

1. Ruhollah Khomeini — Sang Revolusioner (1979–1989)


Pada 1979, dunia menyaksikan sebuah revolusi yang mengguncang tatanan Timur Tengah. Di tengah jutaan massa yang turun ke jalan, satu nama menjulang: Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dari pengasingan di Prancis, ia kembali ke Teheran sebagai simbol perlawanan terhadap monarki Shah. Tak lama kemudian, ia menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran, memegang kekuasaan absolut dalam struktur politik baru yang ia bentuk sendiri.


Di bawah Khomeini, Iran melewati masa-masa paling menentukan: konsolidasi kekuasaan, perang delapan tahun melawan Irak, dan penataan ulang masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Islam revolusioner. Ketika ia wafat pada 1989, Iran bukan lagi kerajaan sekutu Barat, melainkan negara teokrasi yang percaya diri dan keras kepala dalam menentukan jalannya sendiri. Ketika Khomeini kembali dari pengasingan pada 1979, jutaan orang menyambutnya seolah menyambut seorang nabi. Ia membentuk Republik Islam dari reruntuhan monarki, menciptakan sistem politik yang menggabungkan teokrasi dan republik.
Selama satu dekade, ia memimpin Iran melewati perang, embargo, dan transformasi sosial yang radikal.

2. Ali Khamenei — Sang Penjaga Republik (1989–2026)


Setelah Khomeini, tongkat estafet jatuh ke tangan Ayatollah Ali Khamenei, seorang ulama-politisi yang sebelumnya menjabat Presiden Iran. Terpilih oleh Majelis Ahli, ia memimpin selama hampir 37 tahun—lebih lama dari pendahulunya.

📚 Artikel Terkait

Selamat Malam, Secangkir Kopi, Habis tak habis

Si Miskin Tidak Boleh Sakit

WARGA MUHAMMADIYAH LEMBAH SABIL SANTUNI 100 ANAK YATIM

(Literasi) Membaca

Di bawah Khamenei, Iran menghadapi sanksi internasional, program nuklir yang kontroversial, Arab Spring, perang proksi di Timur Tengah, dan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat.
Khamenei dikenal sebagai figur yang berhati-hati namun tegas, menjaga stabilitas internal sambil memperluas pengaruh Iran melalui jaringan “Poros Perlawanan”. Namun pada 28 Februari 2026, sebuah serangan gabungan AS–Israel mengakhiri hidupnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh pejabat AS dan Israel serta media Iran .

Dunia pun tersentak: untuk pertama kalinya sejak 1989, Iran kembali tanpa Pemimpin Tertinggi.


Ketika Khamenei menggantikan Khomeini pada 1989, banyak yang meragukan apakah ia mampu mengisi posisi sebesar itu. Namun selama 37 tahun, ia menjadi figur sentral yang menjaga kesinambungan negara. Di bawahnya, Iran memperluas pengaruh regional, menghadapi sanksi global, dan membangun jaringan aliansi non-negara yang kuat.
Khamenei bukan hanya pemimpin politik; ia adalah simbol kontinuitas. Karena itu, kepergiannya menciptakan ruang kosong yang tidak mudah diisi.

Kekosongan di Puncak: Iran Mencari Arah Baru


Wafatnya Khamenei memicu mekanisme darurat konstitusional. Iran kini dipimpin oleh dewan sementara yang terdiri dari Ayatollah Alireza Arafi, Presiden Masoud Pezeshkian, dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei . Sementara itu, Majelis Ahli—88 ulama senior—bersiap memilih pemimpin baru.


Nama-nama yang beredar mencerminkan tarik-menarik kekuasaan di tubuh Republik Islam:
Mojtaba Khamenei, putra sang pemimpin,
Ayatollah Alireza Arafi, figur ulama yang kini memegang peran interim,
Hassan Khomeini, cucu sang pendiri revolusi.
Siapa pun yang terpilih, ia akan mewarisi negara yang tengah berduka, marah, dan berada di bawah tekanan internasional yang belum pernah sebesar ini.

Warisan Dua Pemimpin, Masa Depan yang Tak Pasti
Khomeini membangun Republik Islam. Khamenei mempertahankannya selama lebih dari tiga dekade. Kini, generasi baru pemimpin akan menentukan apakah Iran tetap berjalan di jalur lama, berubah secara perlahan, atau justru memasuki babak baru yang tak terduga.


Di jalan-jalan Teheran, mural Khomeini dan Khamenei masih berdiri tegak. Namun di balik wajah-wajah itu, Iran sedang menunggu bab berikutnya—bab yang mungkin akan menentukan masa depan seluruh kawasan. Di Iran, politik tingkat tinggi jarang berlangsung secara terbuka. Namun dinamika pasca‑Khamenei memperlihatkan tiga poros kekuatan yang mulai bergerak.

Poros keluarga Khamenei, yang mendorong nama Mojtaba Khamenei. Poros ulama tradisional, yang melihat Ayatollah Alireza Arafi sebagai figur yang dapat diterima banyak pihak. Poros reformis dan moderat, yang diam-diam berharap pada figur simbolis seperti Hassan Khomeini. Setiap nama membawa konsekuensi politik yang berbeda—baik bagi Iran maupun kawasan.


Wafatnya Khamenei terjadi di tengah ketegangan regional yang meningkat. Negara-negara yang biasanya dekat dengan Iran memilih berhati-hati. Mereka mengecam serangan yang menewaskan Khamenei, namun tidak terburu-buru memberikan dukungan militer atau langkah eskalatif.


Di Teheran, rakyat menunggu arah baru. Sebagian berharap pada perubahan, sebagian lainnya menginginkan stabilitas. Namun semua sepakat bahwa masa depan Iran kini berada di tangan Majelis Ahli—dan keputusan mereka akan membentuk politik Timur Tengah selama bertahun-tahun ke depan. Iran pernah melewati revolusi, perang, embargo, dan pergantian generasi.

Namun momen ini berbeda. Untuk pertama kalinya sejak 1989, negara itu harus menentukan pemimpin baru tanpa bayang-bayang Khomeini atau Khamenei.
Di jalan-jalan Teheran, mural-mural itu tetap berdiri. Namun di balik cat yang mulai memudar, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: ke mana Iran akan melangkah setelah ini? []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00