• Latest

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Februari 2, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Redaksiby Redaksi
Februari 2, 2026
Reading Time: 4 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Syariat di Negeri Ekstraksi: Ketika Iman Gagal Menjadi Sistem Perlindungan Alam

Oleh Dayan Abdurrahman

Aceh dikenal sebagai negeri syariat. Identitas keislaman hadir kuat dalam simbol, regulasi, dan ruang sosial. Namun di balik wajah religius itu, bentang ekologinya justru menyimpan luka: hutan menyusut, sungai tercemar, ruang hidup menyempit. Pertanyaan mendasarnya bukan tentang iman, melainkan fungsi iman dalam menyelamatkan kehidupan.

Padahal tujuan keimanan adalah keselamatan dunia dan akhirat. Ketika ekologi rusak, keselamatan dunia runtuh—banjir bandang, longsor, kebakaran hutan, rusaknya sumber air, terputusnya jaringan rezeki, usaha terhambat, dan perlahan matinya kehidupan. Keselamatan akhirat tidak mungkin dibayangkan berdiri di atas dunia yang hancur.

Iman yang Tinggal di Kesadaran

Masalah Aceh bukan kekurangan iman, melainkan iman yang berhenti sebagai kesadaran personal. Ia hidup di tutur dan ritus, tetapi jarang menjelma menjadi sistem pengelolaan kehidupan. Kita tahu merusak alam itu salah, namun pengetahuan moral itu tidak berubah menjadi tata ruang yang adil atau kebijakan ekologis yang tegas.

Iman kalah bukan karena nilai, tetapi karena tidak diberi bentuk struktural.

Syariat Simbolik dan Keselamatan yang Tereduksi

Syariat di Aceh kuat sebagai identitas, tetapi lemah sebagai arsitektur perlindungan hidup. Ia mengatur tubuh dan perilaku privat, namun jarang hadir dalam perencanaan ruang, izin ekstraksi, dan kebijakan lingkungan. Padahal maqashid syariah adalah menjaga kehidupan, dan ekologi adalah ruang paling konkret dari tujuan itu.

Ketika hutan rusak dan sungai mati, yang runtuh bukan hanya alam, tetapi keselamatan sosial dan ekonomi rakyat.

Pendidikan Saleh, Negara Tanpa Jembatan

Dayah melahirkan ulama, kampus melahirkan sarjana. Namun negara sering memperlakukan keduanya secara terpisah. Ulama diposisikan di pinggir kekuasaan—hadir sebagai pembaca doa dalam seremoni, sementara keputusan strategis diambil sepenuhnya oleh teknokrat dan elite politik.

Inilah dikotomi yang keliru. Ulama dan sarjana seharusnya sejajar, seimbang, dan saling melengkapi, bukan berjalan di jalur masing-masing. Ketika ulama tidak dilibatkan dalam perumusan kebijakan, syariat kehilangan daya operasional. Ketika sarjana berjalan tanpa etika, pembangunan kehilangan arah moral.

Akibatnya, lahir kebijakan yang sah secara administratif, tetapi rapuh secara etik dan ekologis.

Dikotomi yang Melemahkan

Relasi ulama dan pemerintah sering kali tidak kooperatif. Ulama menjaga jarak karena khawatir kompromi nilai, pemerintah menjaga jarak karena merasa ulama tidak praktis. Keduanya berjalan sendiri-sendiri, saling mencurigai, dan secara tidak sadar menyingkirkan satu sama lain.

Padahal tujuan pembangunan bukan kemenangan satu pihak, melainkan keselamatan bersama. Pembangunan tidak membutuhkan dominasi, tetapi kolaborasi. Tidak saling mengikat untuk menyingkirkan, melainkan saling mengikat untuk melindungi kehidupan.

Pendidikan Masa Depan dan Rekonstruksi Peran

Di sinilah pendidikan masa depan menjadi kunci. Aceh membutuhkan model pendidikan adaptif yang:

menggabungkan pedagogi modern dan pendidikan Islam,

menguasai bahasa global tanpa kehilangan arah spiritual,

melahirkan manusia utuh—fully human.

Manusia seperti inilah yang mampu duduk di ruang kebijakan dengan dua kecakapan sekaligus: berpikir sistemik dan bernalar etik. Dari sini, ulama tidak lagi hanya berdiri di mimbar, dan sarjana tidak hanya berkutat pada angka, tetapi keduanya bertemu dalam satu meja perencanaan.

Menuju Pemerintahan Kolaboratif

Pemerintahan Aceh ke depan tidak boleh meminggirkan ulama ke ranah simbolik, dan tidak boleh membiarkan sarjana berjalan tanpa kompas moral. Yang dibutuhkan adalah model pemerintahan kolaboratif:

ulama terlibat sejak perumusan kebijakan,

sarjana memastikan kebijakan bekerja secara teknis,

negara menjadi ruang gotong royong nilai dan sistem.

Dengan cara ini, iman tidak lagi sekadar legitimasi, tetapi daya arah.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
ADVERTISEMENT

Penutup

Kerusakan ekologi Aceh bukan kegagalan iman, melainkan kegagalan membangun sinergi. Selama ulama dan sarjana dipisahkan, selama syariat dipersempit menjadi simbol, dan selama pendidikan tidak melahirkan manusia utuh, keselamatan dunia–akhirat akan terus menjadi slogan.

Mungkin sudah waktunya kita membangun Aceh dengan cara baru:
beriman tanpa kehilangan rasionalitas, modern tanpa kehilangan nurani, dan maju tanpa meninggalkan kehidupan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Buku Kumpulan Puisi “Keagungan Kota Suci” dan Novel  Karya Halimah Munawir Jadi Koleksi Perpustakaan Terbesar dan Bergengsi di Mesir 

Buku Kumpulan Puisi "Keagungan Kota Suci" dan Novel  Karya Halimah Munawir Jadi Koleksi Perpustakaan Terbesar dan Bergengsi di Mesir 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com