POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melawan Lupa: Ketika Kekuasaan Ditarik ke Tiang Gantung- Detik-Detik Vonis Mati Saddam Hussein

RedaksiOleh Redaksi
January 23, 2026
Melawan Lupa: Ketika Kekuasaan Ditarik ke Tiang Gantung- Detik-Detik Vonis Mati Saddam Hussein
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh; Dr (Cand) Muhammad Abrar, M.E

(Sumber: NBC News, 2006).

Runtuhnya sebuah rezim jarang terjadi dalam satu dentuman. Ia biasanya melewati fase Panjang perang, sanksi, isolasi, lalupengadilan. Begitulah akhir kekuasaan Saddam Hussein, sosok yang selama lebih dari dua dekade menjadikan negara sebagai perpanjangan tangan kehendaknya. Di bawah pemerintahannya, stabilitas diproduksi lewat ketakutan; hukum berfungsi selektif; dan nyawa manusia sering kali menjadi variabel yang bisa dikorbankan.

Pasca-invasi Irak 2003, dunia menyaksikan pergeseran dramatis: dari penguasa absolut menjadi terdakwa. Pengadilan Tinggi Irak dibentuk untuk menjawab satu tuntutan besar pertanggungjawaban. Kasus Dujail (1982) dipilih sebagai pintu masuk: pembalasan brutal negara terhadap satu desa setelah upaya pembunuhan yang gagal. Di sinilah negara baru Irak berusaha menutup bab lama dengan cara yang paling keras, namun formal: hukum pidana.

Pembacaan vonis pada 5 November 2006 bukan sekadar peristiwa yudisial. Ia adalah ritual penanggalan kekuasaan, momen ketika narasi politik dikalahkan oleh bahasa pasal. Hukuman mati dengan cara digantung dipilih, dibacakan, dan dikuatkan menjadi simbol bahwa bahkan penguasa paling kejam pun dapat dipanggil, diadili, dan diputus. 

Namun, simbol itu juga memantik perdebatan tajam: antara keadilandan balas dendam, antara kedaulatan hukum dan luka perangyang belum sembuh.

Ruang Penghakiman: Saat Kekuasaan Kehilangan Bahasa

Ruang sidang itu tidak lagi netral; ia menjadi ruang penanggalan kuasa. Di bawah sorot lampu yang kejam, berdiri Saddam Hussein figur yang selama puluhan tahun membuat negara berbicara dengan bahasa ketakutan. Kini, bahasa itu dicabut. Tidak ada protokol kenegaraan, tidak ada atribut kemegahan. 

Yang tersisa hanyalah seorang terdakwa dan sebuah institusi yang bertekad menutup rekening sejarah. Setiap detik di ruang itu terasa seperti interogasi terhadap masa lalu: perang, represi, dan sunyi yang dipaksakan. Pengadilan tidak berusaha menghibur dunia; ia berusaha memutus.

Dujail Dipanggil: Akuntansi Kematian yang Dingin

Nama Dujail dibacakan tanpa metafora. Inilah kekejaman yang paling telanjang: nyawa diringkas menjadi pasal. Seratus empat puluh delapan korban tidak hadir sebagai kisah, melainkan sebagai bukti penangkapan massal, hukuman kolektif, dan pembunuhan yang disahkan oleh rantai komando. Bahasa hukum bekerja seperti mesin: presisi, tak bergetar, dan tak memberi ruang pembenaran. 

Stabilitas yang dulu diklaim sebagai alasan kini dibedah, dan yang tersisa hanyalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Pengadilan menegaskan satu hal: negara tidak berhak membunuh untuk menyelamatkan citra dirinya.

Palu Hakim: Kepastian yang Menghancurkan Mitos

📚 Artikel Terkait

Dihadiri Duta Besar Kuwait, Pertunjukkan Mahakarya Randai III Siti Manggopoh Sukses dan Memukau

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Membangun Sikap Peduli Anak Terhadap Orang Miskin

Kelas Menulis Online – Serunya Menulis Cerita Anak

Ketika kalimat hukuman mati dengan cara digantung dibacakan (5 November 2006), tidak ada teatrikal justru di situlah kekejamannya. Kepastian lebih kejam daripada amarah. Palu hakim jatuh singkat, dan mitos kekuasaan abadi runtuh seketika. 

Tidak ada jeda untuk negosiasi moral; yang ada hanyalah prinsip yang lama dituntut dunia: pertanggungjawaban individual. Dalam satu kalimat, sejarah yang panjang dipotong, ditutup, dan diberi tanggal.

Retorika Terakhir: Suara yang Kehabisan Panggung

Tidak ada permohonan maaf. Yang muncul adalah teriakan penolakan, slogan ideologis, dan klaim legitimasi usaha terakhir merebut panggung yang telah direbut hukum. Kata-kata itu menggema, lalu mati. Ruang sidang menjawab dengan keheningan yang lebih keras daripada teriakan mana pun. Di momen ini, retorika kehilangan daya; putusan mengambil alih. Inilah kekalahan bahasa kekuasaan oleh bahasa hukum.

Negara Menarik Garis: Prosedur sebagai Kekejaman Modern

Banding diajukan, lalu ditolak. Waktu dipersempit. Negara bergerak dengan administrasi yang rapi dingin, presisi, tanpa emosi. Kekejaman modern tidak selalu berteriak; ia menandatangani berkas, mengatur jadwal, dan memastikan finalitas. Vonis ini bukan hanya hukuman bagi satu orang; ia adalah pesan keras bagi masa depan: rezim bisa memerintah dengan teror, tetapi ia jatuh oleh arsip, palu, dan tanggal. Sejarah tidak bernegosiasi ia mencatat akhir.

Penutup

Vonis mati terhadap Saddam Hussein menandai akhir yang final bagi satu era kekuasaan berbasis ketakutan. Ia menunjukkan bahwa hokum betapapun datang terlambat dan diperdebatkan dapat menjadi alat untuk memutus mitos keabadian penguasa. Palu hakim, banding yang ditolak, dan prosedur yang dingin menyampaikan pesan yang tak bisa ditawar: kekuasaan tidak kebal dari pertanggungjawaban.

Namun, akhir ini juga meninggalkan paradoks. Di satu sisi, ia memuaskan tuntutan simbolik keadilan bagi korban; di sisilain, ia membuka pertanyaan tentang kualitas proses, dampak rekonsiliasi, dan masa depan negara yang masih rapuh. 

Sejarah mencatatnya tanpa puisi: seorang penguasa runtuh,  bukan di medan perang, melainkan di ruang sidang oleh kalimat singkat yang menutup buku panjang kekuasaan. Dan dari sana, satu pelajaran keras berdiri tegak: kekuasaan bisa kejam, tetapi kejatuhannya selalu dicatat dan ketika dicatat, ia menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Rujukan:

1. BBC News: Peliputan komprehensif persidangan, pembacaan vonis, dan reaksi global (2006).

2. Reuters: Laporan kronologis putusan, banding, dan implikasi politik-hukum.

3. The New York Times: Analisis konteks hukuminternasional dan dampak pasca-vonis.

4. Human Rights Watch: Evaluasi kritis atas proses peradilan dan keadilan transisional Irak.

5. Iraqi High Tribunal (dokumen resmi): Putusan perkaraDujail dan dasar hukum vonis.

Bio Narasi Singkat:

Muhammad Abrar merupakan mahasiswa Program Doktor (S3) Ekonomi Syariah di Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Pendidikan sarjanadiselesaikan pada Program Studi Ekonomi Syariah UIN Sult

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Dari Persia sampai Menjadi Negara Republik Islam Iran

Dari Persia sampai Menjadi Negara Republik Islam Iran

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00