• Latest
Penulis Islam Guru Mahdi Idris Teungku Aceh Pintar Menulis Sastra Itu Telah Pergi

Penulis Islam Guru Mahdi Idris Teungku Aceh Pintar Menulis Sastra Itu Telah Pergi

Juni 22, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Penulis Islam Guru Mahdi Idris Teungku Aceh Pintar Menulis Sastra Itu Telah Pergi

Innalilahi wainna ilaihi rajiun

Redaksiby Redaksi
Juni 22, 2022
Reading Time: 3 mins read
Penulis Islam Guru Mahdi Idris Teungku Aceh Pintar Menulis Sastra Itu Telah Pergi
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hamdani Mulya
Penulis Essai dan Pengamat Sastra

Mahdi Idris seorang guru yang bersahaja. Lahir di Desa Keureutou, Kec. Lapang, Kab. Aceh Utara, 3 Mai 1979. Mahdi Idris merupakan sosok teungku (ustaz) yang berlatar belakang pendidikan dayah (pesantren). Telah menjadi ikon dan spirit bagi penulis Aceh bahwa kalangan santri dan dai pun mampu menulis karya sastra serupa cerpen dan puisi. Hal itu mengingatkan kita akan sejarah ulama nusantara tempo dulu bahwa betapa eloknya karya para penulis yang lahir dari lingkungan pesantren seperti Ali Hasjmy. Yang menulis berbagai jenis karya sastra yang lezat untuk dibaca.

Dengan kehadiran guru Mahdi Idris di kancah sastra tanah air tentunya geliat menulis untuk kalangan orang pesantren kembali berdenyut.

Guru Mahdi yang akrab disapa Teungku Mahdi oleh para sahabatnya merupakan pembuka jalan bagi kalangan santri, tentunya jalan untuk menuju ke arah kebangkitan menulis sebagai tradisi intelektual muslim. Jalan yang mungkin juga sudah lama ditumbuhi rumput atau belukar yang menutup ruang ke jalan sastra, kini di buka kembali oleh guru Mahdi Idris.

Mahdi Idris mengawali pendidikan di pondok Pesantren Modern Al-Muslim Lhoksukon dari tahun 1992 sampai 1996. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Pesantren Nurul Yaqin Al-Aziziyah Aceh Pidie selama setahun. Pada tahun 1998 meneruskan perantauannya ke Aceh Barat Daya, tepatnya di Pesantren Raudhatul Ulum Alue Pisang, Kec. Kuala Batee. Pada tahun 2001 kembali ke kampung halaman, dan mengajar di Pesantren Nurul Huda Trieng Pantang, Kec. Lhoksukon, Aceh Utara sampai Juni 2003.

Mahdi Idris, pria yang lues dalam bergaul ini adalah Sarjana lulusan Fakultas Syariah, Jurusan Muamalat pada STIS Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara ini mengawali karier bidang menulis sejak bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) Lhokseumawe pada awal 2009.
Guru Mahdi bisa dikatakan sebagai penyemangat menulis bagi kalangan santri, siswa madrasah, dan guru pesantren untuk mengulang kegemilangan Aceh dalam buku sejarah dan sastra yang digores dengan tinta emas.

Guru Mahdi juga salah seorang guru yang pernah mengajar di Pesantren Terpadu Ruhul Islam Tanah Luas, SMAN 1 Matang Kuli, dan dosen STIA Jamiatut Tarbiyah Lhoksukon, Aceh Utara. Ia sangat peka terhadap permasalahan sosial dan kearifan lokal Aceh. Lalu ia menuangkannya ide-ide tersebut dalam cerpen dan puisi yang ditulisnya.

“Potret kehidupan Aceh dalam buku kumpulan cerpen ini begitu terasa, dan sebagai putra Aceh, Mahdi berhasil memotret realita kehidupan kampung halamannya dalam sebuah cerita. Begitu mengena dan penuh nuansa,” ungkap Ayi Jufridar, Jurnalis dan Sastrawan mengomentari buku Lelaki Bermata Kabut yang diterbitkan oleh Cipta Media tahun 2011.

Lelaki Bermata Kabut adalah salah satu buku karya Mahdi Idris berupa kumpulan cerpen karya sastrawan muda asal Aceh yang juga seorang guru. Eksitensi Mahdi Idris dalam berkarya memang tidak berhenti dalam sebuah cerpen, ia juga menulis puisi, resensi, dan ulasan sastra. Sebagai seorang guru ia juga mengajar dengan buku melalui karya yang ditulisnya, Mahdi mengajar dan berdakwah melalui media. Cara yang ia tempuh adalah dengan menulis. Ini sangat menggembirakan, mengingat gairah perkembangan sastra di Aceh semakin pesat dengan lahir para penulis muda yang mencoba menunjukkan eksitensinya, Mahdi adalah salah satunya.

“Menarik, ringan serta khas. Antologi cerpen sang guru Mahdi Idris mengajak saya dalam banyak hal dalam kisahnya. Kekhasan Aceh yang mengental, kritik sosial yang ringan serta tidak menggurui, membuat saya kagum dengan penulis guru ini….” demikianlah komentar R.H.Fitriadi, penulis novel asal Aceh menilai buku berjudul Jawai karya Mahdi Idris, buku yang layak dibaca oleh semua kalangan.

Mahdi Idris telah melahirkan beberapa buku hasil goresan penanya berupa kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit: Lelaki Bermata Kabut (Cipta Media, 2011), Sang Pendoa (Yayasan Pintar, 2013), dan kumpulan puisi Lagu di Persimpangan Jalan ( Yayasan Pintar, 2013).
Selain itu, karya Mahdi Idris dimuat di berbagai buku antologi puisi bersama sastrawan nasional lainnya. Karya Mahdi tersebar dimuat diberbagai surat kabar dan majah seperti: Harian Aceh, Serambi Indonesia, Aceh Independent, Aceh Post, Rakyat Aceh, majalah Potret, Assifa, Joe Fiksi, tabloid Narit, Waspada, Jurnal Seni Kuflet, Lintas Gayo, Metronews Jakarta, Pikiran Merdeka, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, dan lain-lain.

Mahdi juga aktif sebagai pengurus Mahkamah Adat Aceh (MAA) Kab. Aceh Utara dan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kab. Aceh Utara. Beliau sering menjadi juri lomba menulis dan membaca karya sastra di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Serta menjadi khatib Jum’at di masjid.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Pada tahun 2011 Pak Mahdi meraih juara II sayembara penulisan buku pengayaan Puskurbuk Kemendikbud dengan judul naskah manuskrip Nyanyian Rimba, dikalangan pihak Kemendikbud Mahdi Idris dipanggil dengan sebutan Pak Aceh, satu-satunya guru dari seluruh Indonesia yang menghadap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan memakai peci dan memakai baju muslim untuk mengambil hadiah, sertifikat, dan tropi penghargaan bagi penulis Mahdi Idris.

Kita berharap guru Mahdi Idris dapat menggantikan almarhum Ali Hasjmy ulama sekaligus sastrawan besar Indonesia asal Aceh, Bapak Bahasa dan Sastra Asia Tenggara. Menurut hemat penulis bisa dikatakan Mahdi Idris nantinya akan seperti Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah (HAMKA) ulama yang sastrawan nasional asal Padang, Sumatera Barat, bagi orang Aceh. Sosok dan pemikiran HAMKA sebagian ada pada jati diri Mahdi Idris. Jadi bisa dikatakan bahwa Mahdi Idris adalah calon HAMKA-nya orang Aceh.Demikianlah, semoga bermanfaat. Salam sastra dari tanah Pasai, Aceh Utara.

Sumbok Rayeuk, Nibong 22 Juni 2022

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 333x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
AWANKAH YANG BERDUSTA

PESONA POLITIK DAN KORUPSI

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com